Salah satu momen tradis Saparan di Kopeng, Jawa Tengah 2024. (Foto: Instagram/saparansleker).
SEMARANG, (ERAKINI) – Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi dari berbagai suku dan daerah. Salah satu tradisi lokal yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah tradisiSaparan yang ada di Jawa Tengah, termasuk di Desa Kopeng, Kabupaten Semarang.
Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur warga kepada Tuhan atas panen yang berhasil mereka peroleh. Selain sebagai bentuk syukur, Saparan juga menjadi sarana untuk memohon keselamatan, ketenangan, dan terhindar dari berbagai bencana, sebagaimana dilansir dari Jurnal Kultur Vol. 2 No. 2 (Juli 2023) dalam artikel berjudul ‘Ketaatan Sosial di Dalam TradisiSaparan pada Masyarakat Desa Kopeng Salatiga’ racikan Najma Salamah, Fauzi Ahmad Raihan, Ririn Natasha Marbun, Ade Ria Yulia Pusparini, Inka Oktavia Rahayu Sinta Dewi dari Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Kopeng merupakan desa yang terletak di lereng pegunungan, menjadikannya memiliki iklim sejuk dan cocok untuk bercocok tanam, terutama tanaman hias. Sebagian besar penduduknya adalah petani, baik tanaman sayur maupun hias. Karena keindahan alam dan ragam tanamannya, Kopeng kini dikenal sebagai destinasi wisata di kawasan Semarang.
TradisiSaparan dilakukan setiap tahun di bulan Safar menurut penanggalan Jawa. Ritual ini telah dijalankan secara turun-temurun oleh warga setempat. Para petani hias di Kopeng menyatakan bahwa setiap tahunnya mereka tetap menjalankan rangkaian acara Saparan, seperti meletakkan sesaji di mata air atau sungai, doa bersama, serta arak-arakan tumpeng keliling desa. Malam harinya, warga berkumpul di balai desa untuk makan tumpeng bersama, menyaksikan pertunjukan seni daerah, serta melaksanakan doa lintas agama.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh umat Islam, tetapi juga oleh warga yang beragama Kristen. TradisiSaparan menjadi ruang bersama yang tidak mencampuradukkan kepercayaan agama, namun tetap menjunjung toleransi. Ini mencerminkan makna ketaatan sosial, sebuah konsep yang menggambarkan kepatuhan kolektif dalam menjalankan nilai-nilai bersama demi harmoni sosial.
Ketaatan sosial ini terwujud dalam bentuk kerja sama antarwarga dalam mempersiapkan tradisi. Setiap kelompok memiliki peran masing-masing, seperti mempersiapkan bahan makanan, merancang arak-arakan, hingga mengatur acara di balai desa. Hal ini memperlihatkan bagaimana tradisiSaparan menciptakan struktur sosial yang kuat di tengah masyarakat.
Faktor-faktor yang mendorong pelestarian tradisisaparan!
Sejumlah alasan utama warga Desa Kopeng tetap konsisten menjalankan tradisi ini, di antaranya:
1. Perlindungan dari Bahaya
Menurut kepercayaan warga, tidak melaksanakan Saparan dapat mengundang marabahaya, sebagai bentuk kemarahan leluhur. Ketakutan akan datangnya bencana ini menumbuhkan sikap disiplin dan ketaatan untuk terus menjaga pelaksanaan tradisi ini setiap tahun.
2. Nilai Religius yang Kuat
Salah satu inti dari Saparan adalah doa bersama kepada Tuhan, yang menjadi cerminan nilai spiritual dalam kehidupan warga. Meskipun ada perbedaan agama, semangat kebersamaan dalam berdoa tetap terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa Saparan bersifat inklusif dan tidak memaksakan keyakinan tertentu.
3. Upaya Melestarikan Budaya Lokal
Rasa cinta terhadap warisan budaya mendorong masyarakat untuk terus merayakan Saparan. Tradisi ini menjadi momen penting untuk mempererat rasa kebersamaan, mengenang leluhur, serta merawat identitas lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
4. Mempererat Hubungan Sosial
Melalui rangkaian kegiatan Saparan—seperti gotong royong menyiapkan makanan, membuat sesaji, hingga menampilkan seni tradisi—hubungan antarwarga menjadi semakin erat. Tradisi ini mendorong interaksi sosial yang positif dan memperkuat solidaritas komunitas di tengah kehidupan modern.
5. Sumber Harapan Akan Kemakmuran Saparan bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga permohonan kepada Tuhan untuk keberlimpahan hasil panen. Mengingat sebagian besar warga Kopeng menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan penjualan tanaman hias, tradisi ini diyakini sebagai langkah spiritual untuk menjaga kesejahteraan bersama.
6. Sarana Hiburan dan Ekspresi Budaya
Selain aspek religius dan sosial, Saparan juga memberikan hiburan bagi masyarakat melalui pertunjukan seni seperti tari tradisional dan wayang kulit. Ini menjadi kesempatan untuk merayakan kebudayaan, memberi hiburan, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap tradisi kepada generasi muda.