Cerpen ‘27 Ramadan’
Ilham Wahyudi
AKU terbangun dari tidur. Tiba-tiba teringat ibu. Langsung kutekan nomer ponsel beliau. Tidak ada suara. Hening. Mungkin ponsel ibu sedang kehabisan daya. Nanti malam salat tarawih pertama ramadan. Tumben ibu belum menelepon. Biasanya dia sudah menelepon dan bertanya tanggal berapa aku mudik. Dan biasanya aku akan menjawab tanggal 27 ramadan, alias 3 hari sebelum lebaran.
“Kamu itu kalau ditanya jawabnya selalu begitu. 27 ramadan itu tanggal berapa Masehi, Pran?”
“Ya, tergantung puasanya mulai kapan, Bu. Kalau mulainya besok berarti 27 hari lagi Prana akan pulang. Kalau lusa, ya tinggal ditambah saja, Bu,” jawabku.
“Tapi masak setiap tahun seperti itu?”
“Lho, kantor Prana liburnya memang 3 hari sebelum lebaran, Bu. Tidak maju, tidak mundur. Makanya Prana selalu jawab seperti itu.”
Begitulah selalu bila ibu menelepon menanyakan kapan aku akan mudik. Dialog itu selalu berulang setiap tahun. Meskipun selalu berulang, aku tidak pernah bosan apalagi marah. Sebab pengulangan itulah yang selalu aku rindukan, pun juga kalau mendengar ibu sedikit sewot karena jawabanku. Begitupun, di ujung percakapan selalu kami akhiri dengan tawa bersama.
Di antara ketiga anak ibu, aku memang yang paling dekat (disayang) dengan ibu. Mungkin karena aku anak laki-laki seorang. Mungkin juga karena aku belum menikah, atau mungkin karena aku tak pernah absen mudik lebaran. Entahlah, aku tak begitu peduli. Namun yang jelas setiap kali ibu ingin sesuatu, atau ingin memberitahu sesuatu, akulah orang pertama yang beliau hubungi sebelum kakak sulungku dan adik bungsuku. Ya, aku memang anak tengah-tengah yang diapit dua anak perempuan.
Kakak sulungku, Riska, sudah hampir 10 tahun tidak mudik lebaran. Terakhir kali dia pulang saat ayah meninggal dunia. Sedangkan adikku, Winda, sudah 5 tahun tidak mudik lebaran. Momen lebaran bagi Winda adalah momen penting dalam pekerjaannya. Sebagai seorang reporter andalan di salah satu stasiun televisi nasional, ia memang kerap tak mendapatkan ijin cuti ketika lebaran. Namun begitu, Winda masih selalu menyempatkan pulang melihat ibu setiap tahun. Kadang saat liburan sekolah anaknya atau bisa juga di sela-sela liputannya ke daerah.
Aku coba menelepon ibu kembali. Mana tahu ponselnya sudah aktif. Sudah lebih dua jam sejak aku terbangun tadi. Masih tak ada nada sama sekali. Belum aktif. Mungkin ponsel ibu bukan kehabisan daya, tetapi sengaja dimatikan karena sedang tidur. Cuma tumben sekali ibu tidur jam segini? Biasanya kalau jam 3 sore begini ibu sedang tilawah Al-Qur’an sambil menunggu asar.


















