Ilustrasi untuk cerpen berjudul 'Wani', karya Benny Benke, jurnalis, penulis buku 'Mengheningkan Puisi' dan 'Jualan Ka'bah, dan Kisah-kisah yang Terserak'. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini)
JANGAN pernah berbicara ihwal kepasrahan dan penerimaan kepada Wani. Seperti mengajari hiu berenang di samudra. Laksana murid mengajukan pertanyaan percuma kepada mursyidnya. Sia-sia. Tenggelam kita di kedalaman pengetahuannya. Di luas penerimaan hidup dan hatinya. Fakirlah kita dibanding kekayaan pengalamannya.
Jika kita mau mengenal seorang stoik sejati, dengan ketabahan tinggkat suhud, Wani adalah salah satunya. Sebab, jika menengok sejarahnya, seketika gentar kita dibuatnya. Garis hidup, entah mengapa, seperti sangat tidak ramah kepada Wani Melati. Wani adalah natural born stoic.
Sejak di kandungan ibunya, bapaknya sudah hilang entah ke mana. Sangat dipercaya dihilangkan tentara, pada sebuah masa, bersama ribuan manusia lainnya. Karena ditimbang mempunyai garis politik yang berseberangan dengan penguasa.
Keluarga besar dari garis ibu dan bapaknya, setali tiga uang. Morat-marit. Yang lari ke hutan, sangat dipercaya musnah bersama masa depannya. Menjelma memedi, lalu menghantui siapa saja yang dulu turut membantainya.
Atau jelma kunang-kunang, yang pada malam tertentu dipercaya mendatangi dusun tempat tinggal bapak ibunya pada sebuah masa. Kemudian menjadi cerita turun temurun yang tidak ada yang berani membantah kebenaran, atau kebohongannya.
Jika lebih dari separuh penduduk desa, pernah raib pada sebuah era, gegara geger politik yang mengguncang negara di tahun 65 dan sesudahnya.
Wani lahir di bui, setelah ibunya dilempar penguasa di penjara negara dalam keadaan hamil tua. Mengangkangi proses peradilan, tentu saja. Yang fasilitasnya, hanya manusia ajaib yang dapat tinggal dan bertahan hidup di dalamnya.
Tikus got pun memilih minggat daripada mengadu nasib di sana. Bisa-bisa malah jadi bahan buruan untuk dijadikan lauk hewani sekedarnya.
Tidak sedikit bayi yang lahir di penjara seperti dirinya, mati pada akhirnya sebelum setahun usianya. Karena kekurangan gizi dan berbagai penyakit orang buangan lainnya.
Eloknya, alih-alih gemar dan riang memamerkan penderitaan dan kepedihan atas jalan hidup yang tak ramah padanya, bocah justru memandang dunia dengan kaca mata berbeda. Kaca mata baik-baik saja.
Semua yang diberikan kehidupan kepadanya, malah disyukurinya. Karena, semua yang datang dari langit, menurut kepercayaannya, adalah baik semua. Betapapun panas terik dan hujan badai.
Syukur, dan penerimaan, sebagaimana diajarkan almarhumah ibunya, -- yang akhirnya mampus sebab penyakit yang tak diketahui, saat usianya baru masuk angka empat tahun lima hari -- , adalah senjata utama dan pamungkas manusia. Demi menghadapi beban hidup yang tak terpermaknai beratnya.
Hanya dengan bersyukur, cahaya seredup apapun, pesan ibunya, akan jelma di depan kegelapan kehidupan, untuk kemudian menguatkan manusia. Betapapun ditindas peri kehidupannya. Karena, tidak ada yang abadi, juga penderitaan itu sendiri. Sebelum selanjutnya, tawaran hidup lainnya, akhirnya tak enak hati kepadanya. Sejurus kemudian, pelan-pelan sekali, kehidupan akan menguatkan hatinya.
Ya, penerimaan akan menjelma kekuatan maha dahsyat. Dan entah bagaimana caranya, membimbingnya dengan sabar menjalani nasibnya. Meski dengan separuh senyuman, tapi sepenuh kewaspadaan.
Saat otak tak mampu lagi mengeja apalagi membaca gulitanya hari, saatnya hati mengambil alih perannya. "Kebahagian bergantung dengan kualitas berpikir kita," itu pesan mendiang ibunya kepada Wani menjelang kematiannya.
Teman-teman sepenjaraan ibunya tentu heran, mana ada anak empat tahunan paham dipesani nasehat seperti itu. Yang tentu saja, belum tentu dimengerti bocah yang jauh dari akil baliq. Hidup memang terlalu banyak membuat heran manusia semenjana.
Yang pasti, masih menurut mendiang ibunya, syukur dan penerimaan adalah bahan bakar pertama dan utama dalam mengarungi hidup.
Dengan demikian, dendam pelan-pelan menguar, dan entah pergi ke mana. Ibunya selalu mengulang-ngulang, "Jangan pernah dendam kepada siapa saja, juga pada keadaan. Karena dendam, akan menjadi kanker yang menggerogoti hati manusia. Pokoe syukur Nduk, ridlo Nduk," katanya lirih.
Syukur dan ridlo itu benar-benar maujud dalam rupa saat salah seorang pegawai lapas negara akhirnya memutuskan memungut Wani secara diam-diam.
Karena tidak tega ada balita kurus tumbuh nyaris tidak berkembang di penjara. Tanpa orang tua. Sebatang kara secara biologis di penjara negara. Menyaksikan dan menjalani segala kengerian hidup yang tak pantas disapa kehidupan, di penjara.
Menjadi rahasia umum, Wani bocah menjadi "anak" semua penghuni penjara. Yang secara otomatis, bergantian, para penghuni tahanan politik di sana, akan menyisihkan sekedar lauk tempe dan tahu jatahnya, untuk diberikan kepada Wani kecil. Dengan cara mendulangnya secara sukarela, sepeninggal ibunya.
"Ada beberapa kawan almarhumah ibu, yang bergantian mengambil tugas ibu, setelah kematiannya. Termasuk mengajak bermain, memandikan, dan meninabobokan saya selama di penjara negara," cerita Wani padaku di tikungan malam, saat aku bertamu di rumahnya.
Sebelum akhirnya, nyaris setahun setelah ibunya mangkat, nasib baik mulai berpihak padanya. Saat salah seorang petugas lapas berbudi, memungutnya dari dalam penjara. Kemudian menyerahkannya untuk diadopsi kepada pasangan yang telah sepuluh tahun berumah tangga, tapi belum dikaruniai momongan. Yang kebetulan berprofesi sebagai; tentara.
Yang mendaku dengan bungah hati menerima sepenuh cinta anak perempuan luar biasa ini. Untuk dijaga, dilindungi, dicintai dan dibesarkan dengan sepenuh atma.
Jangan tanyakan sudah berapa banyak kepala, atau sekedar diindikasikan musuh negara yang hilang nyawanya di tangan bapak angkat Wani. Terlalu banyak.
Bapak angkat Wani hanya menjalankan tugas negara juga. Sampai akhirnya dia memutuskan berhenti membunuh musuh negara, setelah Wani masuk ke rumahnya, di bawah lindungannya.
Setelah itu, Wani menjadi gadis istimewa. Meski tidak punya siapa-siapa, -- kecuali orang tua angkatnya yang tentara kelas rendahan -- dia tetap berani bersemuka dan menghadapi pelik, absurd, dan kerasnya kehidupan di depannya.
Wani, tidak punya pilihan lain selain dengan berani, dengan sangat wani, menghadapi itu semua. Termasuk menghadapi kemungkinan jika bapak ibunya binasa di tangan bapak angkatnya sendiri.
Karena terlalu banyak yang tidak bisa dimengerti dalam hidup ini. Wani memutuskan membiarkan segala kemungkinan hidup berseliweran di benaknya. Apa yang tidak mungkin dalam hidup? Buktinya ada tukang kayu bisa jadi presiden.
Sebagaimana cinta bekerja dengan cara misterius, hidup ternyata bekerja sepuluh kali lebih misterius. Bagi yang tidak punya kata-kata, harta, apalagi silsilah, tidak mengapa. Jangan kecil hati. Wani juga tidak punya itu semua. Selain kepasrahan belaka. Kehidupan, juga cinta, toh akan tetap akan bekerja dengan caranya sendiri. Cara Ilahiah, katanya.
Sebagaimana Wani akhirnya menemukan cinta dari suaminya, yang kemudian, telah memberinya tiga anak. Tanpa kata-kata, harta dan silsilah. Cinta sebagaimana hidup akan tetap bekerja, berjaya dan berpihak kepada manusia pilihannya.
Nasehat itu juga konstan diberikan oleh almarhum ibunya kepadanya, dulu. Meski, sekali lagi, dia belum ngerti benar makna nasehat itu. Tapi ujaran itu konstan terus didoktrinkan kepada Wani kecil. Termasuk agar tak gentar bersemuka dengan kenyataan, yang sangat tak terbaca apa maunya. Ikuti saja. Wani sik, wani thok.
Wani tidak sepenuhnya percaya hasil. Dia lebih meyakini proses, disiplin kerja, ketekunan dan terus belajar berpikir selamanya. Melatih diri seterusnya. Karenanya, dia mampu melawan, atau paling tidak mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang muskil dalam hidup.
Bagi Wani, yang paling ditakutkannya, bukan seberapa besar kesulitan hidup yang tak terpermaknai akan menghampirinya. "Tapi bagaimana cara merespon kita pada kesulitan hidup, itu lebih utama," katanya padaku. Semakin kita mampu merespon kesulitan hidup dengan baik, semakin kecil dampak kerusakan yang kita tanggungkan, katanya.
Atas keyakinannya itu, hebatnya, langit seperti mempunyai cara tersendiri dalam menjawab, melindungi dan menjaga Wani. Keajaiban, seperti biasanya, datang dengan caranya sendiri, kepada orang-orang terpilih dan dipilihnya. Khususnya kepada orang-orang yang ditindas kekuasaan. Kepada orang-orang menderita. Kepada jelata.
Berkat kekuatan, keliatan, dan kelapangan hati Wani, akhirnya membuat hidup, yang pada mulanya sangat keras kepada garis nasibnya, mulai menyingkap tabir kemudahannya.
Langit sangat tahu sekali, tidak selamanya menurunkan badai yang tidak berkesudahan. Hujan cobaan akan reda pada akhirnya, dengan sendirinya. "Saya tidak dapat menunggu sampai hidup tidak sulit lagi, sebelum saya, juga kita semua, memutuskan untuk bahagia," kata Wani tanpa pretensi menasehati.
"Kita harus tetap happy, meski penderitaan kita payah sekali," imbuhnya.
Sebagai wanita matang, berusia 56 tahun, Wani bukan sekedar telah berdamai dengan masa lalunya. Meski telah memaafkan, dia pelan-pelan juga mulai belajar melupakan bangunan tragedi di masa lalunya.
Buahnya, emosinya cenderung tertata. Meski dendam acap kali menawarkan dan membujuk pembalasannya. Baik secara diam-diam, laten, juga terang benderang. Tapi dia menolak meladeninya.
Dendam adalah jebakan kehidupan yang akan memerangkap manusia sepanjang usia dan sejarah peradabannya. Karena Wani sangat sadar sekali. Penghinaan, kematian juga dendam, sangat akrab dalam peri kehidupannya dari dulu. Dulu sekali.
Penghinaan, kematian dan dendam hadir dalam wajah penderitaan yang maujud dalam banyak rupa. Apalagi saat masih berumah di penjara negara. Betapa dia acap melihat manusia dihinakan di sana. Seperti saat dia menyaksikan dua sipir, suatu malam "memepet" ibunya secara bergantian. Di depan matanya.
Saat itu tentu dia tidak tahu apa maknanya. Juga berbagai perlakukan tak pantas lainnya, yang tak layak diceritakan di tulisan ini. Saking tidak beradabnya.
Teristimewa kematian, yang akrab bagi para penghuni penjara negara. Kematian sering datang seperti pagi, pelan-pelan sekali masuk ke halaman gulita subuh. Dia hadir dengan penuh kepastian. Meski pelan-pelan. Kadang tidak menyakitkan, tapi seringkali tak tertanggungkan rasanya.
Dalam ruangan penjara, yang tidak dilengkapi kamar mandi, di mana tinja dan air seni menjadi satu dengan tempat tidur tahanan politik. Dapat bertahan hidup untuk satu hari saja sudah anugerah luar biasa.
Yang selamat dari perlakuan negara, pun masih harus berhadapan dengan musuh yang jauh lebih besar, dan menakutkan; penyakit tifus dan busung lapar.
Lalu siapapun dia yang berhasil selamat dari peri kehidupan penjara, apakah masih sempat dan harus berpikir tentang pelunasan dendam, alih-alih menghormati dan menghargai hidup dengan cara jauh lebih mulia?
Lalu apa beda kita dengan kekuasaan, yang telah semena-mena kepada rakyatnya.
Jika hendak menuntut balas atas perlakuan negara. Mengajukan kesetimbangan yang tidak akan pernah ada ukuran pastinya. Resikonya tidak mudah dan murah. Bersemuka dengan kekuasaan cum negara, terlalu berat dan mahal bayarannya. Kita nyaris tidak akan pernah bisa memenanginya. Meski semua umur dan daya upaya, telah kita gunakan untuk melawannya.
Lepaskan saja. Ikhlaskan. Timbangan keadilan bukan urusan kita. Di luar kemampuan manusia. Tapi jika kau ingin melawannya, sebagai sebentuk penegakan kehormatan, pemenuhan panggilan kemanusiaan, juga tak mengapa.
"Saya sangat menghormatinya," katanya.
Tapi, Wani memilih melawan dengan cara lain. Terlalu banyak moda perlawanan. Cara yang satu, tidak menggugurkan cara yang lain. Jika kau berpikir, pentungan, gebukan, tendangan, pelecehan, perundungan adalah berbahaya selama tinggal di penjara.
Masih ada yang jauh lebih berbahaya selama hidup di neraka dunia itu. Kebosanan. Kebosanan pada titik tertentu lebih mematikan daripada peluru. Juga tiang gantungan. Karenanya, kematian menjadi lebih diidamkan di sana.
Jadi, jangan pernah bosan hidup di penjara, kalau Anda tidak mau menjadi gila. "Saya tidak menyesal telah menjalani hidup yang tidak mudah ini. Justru sebaliknya. Berterima kasih karenanya. Sebab, justru membuat saya seperti ini. Jauh lebih menghormati kemanusiaan dan kehidupan sejadi-jadinya. Seberani-beraninya. Sehormat-hormatnya. Meski bayarannya Anda tahu sendiri," kata lulusan Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) sebuah universitas Negeri di Jawa Tengah.
Seiring berjalannya waktu, Wani kemudian bekerja dan beranak pinak layaknya anak manusia lainnya. Meski dengan cara yang tidak mudah. Karena berbilang Litsus dan Surat Bersih Diri, harus dilaluinya. Meski bapak angkatnya tantara.
"Saya telah kehilangan orang-orang tersayang, tapi tetap harus melewati berbagai tahapan omong kosong kebijakan negara, yang sangat tidak bijak sama sekali, tapi tetap harus saya lalui, dengan riang hati", kenangnya ihwal kejadian pada sebuah orde itu.
Sudah sangat lama Wani mendidik dirinya sendiri, dengan cara yang paling keras, untuk tidak marah kepada dunia. Apalagi kepada negara yang telah merenggut dengan cara paling kejam bapak ibunya, juga keluarga besarnya. Apalagi marah kepada Tuhan.
Tuhan yang menurut cerita almarhumah ibunya, sangat diugemi bapak ibunya, tapi lucunya, mendiang bapak ibunya malah dituduh tidak bertuhan oleh negara.
Tuhan, dalam nama apa saja, Menurut Wani, tidak akan peduli seberapa berduka kita, semenderita drama tragedi Yunani sekalipun, tetap akan menjalankan roda dunia. Dengan penuh kepastian.
Seperti kematian yang bersiap menghampiri siapa saja. Jadi, daripada memelihara dendam, dengan seribu tiga caranya, Wani memutuskan memotong mata rantai dendam politik itu, cukup berhenti didirinya.
"Hanya manusia berani yang memberi maaf. Tidak harus menunggu berani juga untuk memberi maaf," katanya lirih. Bagaimana mungkin Wani dapat melunaskan dendam, sementara yang menyelamatkan hidupnya adalah tentara.
Meski pada saat bersamaan, yang menumpas keluarga besarnya, tentara juga dengan antek-anteknya. Bagaimana bisa dia menebus dendam, jika yang mengambilnya dari penjara paria adalah sipir penjara, yang ternyata pernah turut "memepet" almarhum ibunya.
"Ngga papa juga sih yang mau melunaskan dendam, sebagaimana kita melunaskan angkara kita kepada siapa saja. Tapi percayalah, ngga akan selesai sampai umur kita tiba," kata Wani.
Wani, yang mempunyai perpustakaan pribadi, dan gramatika bacaan yang membentang itu meyakini pengampunan dapat mengubah kemarahan. Dan luka masa lalu, pada akhirnya akan menemukan penyembuhan dan kedamaiannya secara organik, dan natural, seiring berjalannya waktu.
Pengampunan, entah dia mengutip dari mana, menurutnya, dapat membantu kita semua mengatasi perasaan depresi, kecemasan, dan kemarahan, juga konflik pribadi serta hubungan.
"Jadi, menurut saya, ini semua tentang keberanian membuat keputusan sadar untuk melepaskan dendam. Selepas-lepasnya," imbuh Wani yang emoh melihat masa lalu dengan amarah lagi.
Biarkan persoalan politik menjadi milik para politikus. Meski Wani juga sangat menyadari, persoalan politik terlalu penting untuk diabaikan. Tapi sepanjang perjalanan beberapa rezim berganti dan berlalu, datang dan pergi, hingga kini, politik toh pada akhirnya hanya persoalan perebutan kekuasaan belaka. Tidak ada bedanya.
Siapapun penguasanya, sama saja. Atau dalam bahasa Rendra, politik adalah cara merampok dunia. Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa. Penguasa yang baru, belum tentu, atau tak lebih baik dari penguasa yang lama. Bahkan bisa jadi lebih buruk cara pengelolaan kekuasaannya.
Jadi, Wani Melati yang hatinya semerbak mewangi, menetapkan diri menjadi kunang-kunang perdamaian, bukan memedi. Yang menyediakan permaafan dan penerimaan, juga kerlip pelita kecil penerangan kepada siapa saja. Tanpa terkecuali.
Juga kepada negara, yang pernah mengabaikan, menindas dan menumpas keluarganya. Sebelum kematian, pada akhirnya pasti menyapanya.