Hujan kecil turun
seperti bisikan yang nyaris tak terdengar.
Ia tidak menyentak,
tidak memukul tanah,
hanya jatuh—
dan diterima.
Aku duduk di jendela,
menghitung perasaan
yang tak sempat kusampaikan.
Setiap tetes adalah kata
yang terlambat diucapkan,
namun tetap jatuh
ke hati yang menunggu diam.
Ponorogo, Juli 2025
Sinar
Sinar pagi tak pernah memaksa,
ia hanya datang
menyibak tirai malam
dengan kesabaran cahaya.
Aku tak ingin jadi terang,
cukup seperti dia:
menghangatkan tanpa membakar,
membimbing tanpa banyak kata.
Mungkin cinta pun
seharusnya begitu—
datang tak untuk mengubah,
tapi untuk membuatmu ingin
tumbuh sendiri.
Ponorogo, Juli 2025
Peluk Senyap
Ada peluk
yang tak berupa tangan,
hanya kehadiran
yang tak ingin pergi.
Di malam-malam lengang
aku sering merasa
diselimuti sesuatu
yang tak bisa kulihat—
barangkali itulah kasih
yang tak banyak bicara,
tapi bertahan
di ruang terdalam dada.
Ponorogo, Juli 2025
Lintasan Cahaya
Ada cahaya
yang tak menetap,
hanya melintas
lalu lenyap
seperti pertanyaan
yang tak perlu jawaban.
Aku melihatnya
di sela pohon tua
pada pukul yang tak disebut jam—
dan sejenak
aku merasa disentuh
oleh sesuatu
yang tak ingin dimiliki
hanya dipahami.
Ponorogo, Juli 2025
Bayu
Bayu lewat
tanpa bekas,
tapi daun tahu
ia pernah singgah.
Begitu juga rindu:
tak selalu terlihat,
tapi hati selalu paham
kalau ia baru saja datang
dan belum tahu
harus menetap
atau pergi begitu saja.
Ponorogo, Juli 2025
S. Sigit Prasojo,
Lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif menjabat sebagai Wakil Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Jawa. Pernah menjadi juri Cipta Puisi FLS2N 2025 serta meraih berbagai kejuaraan kepenulisan tingkat nasional. Ia tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra nasional, baik cetak maupun daring.