Puisi-Puisi Nimam Jaenal Hidayat
Nimam Jaenal Hidayat
Di Depan Teras Masjid
Doa-doa terbang menyelinap ke langit
dua burung cabak berdendang bergurau di bawah bulan sabit
tanganku menadah ke langit
meraba puting yang sakit
Doa-doaku dan doa pak tua
sama-sama berdoa di lubuk kota
datang dari sebuah surau yang sederhana
lahir dari persoalan yang berbeda
Doa pak tua tentang nikmat panjang umur
berdzikir membelah laut dan bertabur
sementara doa-doaku membayangkan dunia
dengan lantunan biola
Doaku dan doa pak tua berasal dari lafaz yang sama
Bersimpuh menyebut nama-Nya
Tangerang
Bougainvillea
Sayangku, ku tau kau sangat lelah
melihat anak kita yang terus membuat celah
dalam lucunya mengeja sebuah falsafah
dari sebutir tanah
Sayangku, ku ingin duduk bersimpuh dalam keringnya hujan
menulis sajak, meminum anggur dan menyusun rotan
sembari memangku anak kita yang kian
menginjak perawan
Sayangku, di usia kita yang semakin tua
air mata bagai bak embun berkaca-kaca
membentang ke semenanjung mediterania
tempat kita pertama kali memetik anyelir Catalonia
Sayangku, setelah setengah abad kita bersua
akan ku ceritakan kepada anak kita
tentang perempuan tulus dari Haifa
yaitu kau, ibu untuk anak kita
Tangerang, 28 Maret 2025
Membelah Laut
Laut yang terpagar
oleh tangan kotor manusia
ikan-ikan saling bertabrakan
dalam terumbu karang di selat malaka
Nelayan mengadu nasib di lautan keringat kering penuh paksaan menangkap ikan tuk ditukar dengan pakaian


















