CERPEN: CERMIN
Akhmad Baihaqi Arsyad
oleh: Akhmad Baihaqi Arsyad
Lagi-lagi suara itu kembali menggema. Seketika, Bara terkesiap dan terguncang dari duduknya dengan mata setengah kantuk. Tanpa lebih dahulu mengusap keringatnya yang berbau sengak, dia meraih-raih gagang laci meja sekitar setengah meter dari dia duduk. Ditariknya laci itu dengan tangan kirinya dan langsung disambarnya sebuah pistol tanpa harus melihat letaknya. Ya, barangkali seperti punya mata di ujung jemari, tangan kanannya sudah paham betul di mana letak dan bagaimana pistolnya berposisi. “Sial! Suara itu lagi!” umpatnya sambil beranjak dari duduknya. Dengan genggaman pistol yang jari tengahnya telah siap menarik pelatuknya, kedua mata Bara mulai terjaga. Pandangannya siaga, membidik semua sisi. Mungkin bila ada sedikit saja suara, sedikit saja klebatan gerakan, jari tengahnya akan refleks memantik pelatuknya, dan dorrr...!
Seperti suara seorang lelaki. Ya, suara itu yang selalu membuat Bara merasa terintimidasi. Meneror dirinya. Hanya dengan satu kalimat. Ya, Bara selalu mendengar suara lelaki yang melontarkan satu kalimat. Meski agak lamat-lamat, namun suaranya selalu bisa terbaca oleh telinga Bara. “Sial! Kenapa suara itu muncul lagi!” Hanya suara itu. Suara lelaki yang melontarkan satu kalimat singkat dengan nada yang mengintimidasi. Yang mengancam, bagi diri Bara. “Dia harus kubunuh!” gumamnya sambil napasnya terengah patah-patah. Sebuah pistol di tangan kanannya makin digenggamnya kuat-kuat. Semakin kalimat singkat itu menyita pikirannya penuh-penuh, semakin keberingasan dalam dirinya meluap-luap untuk membunuh.
Bara memelototi semua sisi. Depan, belakang serta kanan dan kiri. Namun, lagi-lagi seperti biasanya, tak ditemuinya siapa-siapa. Dia langkahkan kakinya menuju sudut demi sudut ruang kantornya. Kamar mandi, ruang istirahat, ruang tamu, juga di bawah setiap meja bahkan kursi. Dan tak ada siapa¬-siapa. Bara tergesa, segera membuka pintu masuk ruang kantornya. Tengok kanan kiri, juga tiada siapa-siapa. Karena tak ditemuinya lelaki yang melontarkan satu kalimat yang mengintimidasinya itu akhirnya dia mulai meyakinkan dirinya bahwa memang tidak ada siapa-siapa. Dia langkahkan kakinya kembali menuju ke kursi hidroliknya, sambil betul-betul meyakinkan diri sepenuhnya bahwa yang tersisa hanyalah kesunyian. Dia terduduk, terdiam, menghela napasnya sambil memutar-mutar posisinya sambil sesekali kembali mengumpat. Bara berdiam menenangkan diri sambil memikirkan satu kalimat singkat itu. Kalimat yang selalu dilontarkan seorang lelaki yang tidak bisa dia dapati meskipun sudah dia cari. Siapa sangka dari sebuah kalimat singkat itulah kemudian lahir mengalir dalam keseluruhan ruang pikiran Bara sebagai teror yang hebat. Ya, hanya satu kalimat. Barangkali itulah alasan mengapa sebuah pistol berada di laci mejanya.
Ditempatkannya kembali pistol itu di posisi semula. Dengan napas yang masih agak tersengal, Bara mulai meraih tisu di atas meja kantornya. Sekali dicerabut tiga helai tisu itu dijumputnya. Tisu impor. Tisu yang lembutnya melebihi lembut sutra. Mulailah Bara mengusapkan tisu yang lembutnya melebihi lembut sutra itu untuk menghilangkan keringatnya yang berbau sengak di sekujur tubuhnya. Dia mengusap-usap keringatnya berulang kali. Lagi. Lagi dan lagi. Tapi, seperti biasanya. Bau sengaknya tetap ada. Bara pun sudah tahu harus bagaimana. Dijumputnya lagi tiga helai tisu, dan dia hanya perlu mengusap-usap permukaan tubunya hingga keringatnya tak lagi tegas di muka. Tentu, bau sengaknya tetap tak bisa hilang. Cuma sedikit mereda. Ya, cuma sedikit. Dan pasti Bara tahu betul akan hal itu. Atau, lebih tepatnya dia sudah terbiasa dengan bau sengak keringatnya itu.


















