Puisi-Puisi Sapta Arif
Sapta Arif
Matamu redup serupa pendar lampu lokomotif di pagi buta,
menggigil dicecar kabar-kabar,
Ia telah datang padamu,
sebelum kau terjaga di hamparan do[s]a.
“Untuk apa Tuan pergi?”
Di kota ini, kesedihan merancap
menikmati detik demi detik lantunan
dari masjid-masjid tua.
Kau senantiasa terjaga
menahan khawatir di dada.
“Siapakah Tuan?”
yang datang di taman rumah sakit
sebelum subuh itu.
Saat kau terjaga di peron ini, masa silam berbaur
berselaput ingatan paya-paya Ibumu,
yang mengental basah di tanah.
Apabila telah tiba, dentang lokomotif
akan membangunkanmu,
dari lelap,
dari ketidaksadaranmu,
menunggu tiba giliranmu
menjaga doa-doa dari
dosa-dosa.
Ponorogo, April 2024
Di Depan Mesin Tik Tua
Di depan mesin tik tua, ia terlampau mahir mencipta senjata.
Tiada awan hitam di langit, kecuali tumpukan buku di sudut
ruangannya, dijarah suatu sore.
Barangkali, orang-orang sudah latah membaca prasangka.
Di kesunyian—pagi sebelum pagi,
seseorang menolak jalannya usia,
sebab, terlalu banyak yang ia pikirkan,
telalu banyak yang musti ia tulis.
Mesin tik tua itu, kini menulisi tubuhnya sendiri,
tanpa kertas,
tanpa bubuk tinta,
hanya soal keyakinan,
dan usia zaman yang berjalan mundur
perlahan-lahan.
Lalu, seseorang pun bergumam,
: isitirahatlah…
Ponorogo, April 2024


















