Puisi-Puisi Sapto Wardoyo
Sapto Wardoyo
Nyanyian Tanah Kelahiran
: di jalan pahlawan kota Madiun
Di trotoarmu yang penuh bangku
aku diam, menyaksikan
tubuh kota yang semakin benderang
orang-orang berjalan sempoyongan
mabuk oleh rupa-rupa keinginan
sedangkan anak-anak tumbuh tanpa
sentuhan alam
di trotoarmu yang penuh bangku
aku seperti dirajam pilu
mengingat gaduh doa ibu
atau tentang mimpi-mimpiku yang
menjelma busur
dan melepaskan ribuan anak panah
lalu bertubi-tubi melukai punggung
ayahku, hingga darahnya menetes
membasahi perjalanan waktu
buku-buku, sepatu dan baju seragamku
di trotoarmu yang penuh bangku
aku diam meruncingkan kenangan
tentang masa kanakku
yang tak pernah berhenti mencintai hujan
merindukan pematang dan tanah lapang
sambil terus berlarian
mengejar layang-layang
mengejar kebahagiaan
2024
Sajak Bangun Tidur
Pagi masih belum menyalakan
cahaya, dan gelap
masih menyembunyikan cermin
dan juga jam dinding
tapi sudah ada yang bergegas
menjelma sebilah pisau, dan
perlahan mengerat usiamu
sedikit demi sedikit
hitunglah, ada jarak
yang makin menyingkat
enduslah, ada bau kematian
yang makin menyengat
Bekasi, 2022-2024
Menandai Bulan Mei
: TR
Kita sudah menandai bulan Mei
jauh sebelum tuhan mengizinkan
cinta dan gairah itu berpelukan
menyulut malam
kau melingkari salah satu angkanya
dengan warna merah
sebagai tanda dari yang menyala,
katamu


















