Esai ‘Sastra dan Astronomi’
Joko Priyono
KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tepat pada 20 Mei 2024 meluncurkan program “Sastra Masuk Kurikulum”. Publik mudah menanggapi dengan sukacita. Pengakuan terungkap akan pendidikan perlu bersastra. Walakin, di sisi lain muncul polemik-polemik kecil mengenai pilihan-pilihan buku yang masuk dalam daftar di buku panduan. Sebab, di waktu yang sama, publik bisa mengakses buku berhubungan dengan program tersebut.
Buku tersebut berjudul Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra terbitan Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dikeluarkan pada 2024. Di sana, kita mengerti daftar nama sebagai tim penyusun, baik itu sederet nama sastrawan sebagai tim kurator hingga daftar nama guru yang terlibat.
Polemik menjadi hal yang wajar, tak terkecuali dalam proses peluncuran program ini. Kita tak ingin menambah masa panjang akan perdebatan. Kita justru tertarik untuk menyimak daftar judul buku dan nama pengarang yang direkomendasikan. Kita mengerti nama-nama penting para pengarang Indonesia yang bisa jadi pada abad XXI ini mulai terlupakan. Mereka dihadirkan sebagai penegas karya-karyanya penting dibaca dan memiliki relevansi dalam situasi mutakhir.
Nama-nama itu di antaranya Siti Rukiah Kertapati, Sutan Takdir Alisjahbana, Kuntowijoyo, Mahbub Djunaidi, Mas Marco Kartodikromo, Soekanto SA, Aman Datuk Madjoindo, Merari Siregar, Mochtar Lubis, Djokolelono, Marius Ramis Dajoh, J.E Tatengkeng, Amir Hamzah, Hilman, hingga Pramoedya Ananta Toer. Nama-nama lawas menyulitkan untuk membuat ingatan bila tidak lekas menghadirkan buku-buku.
Keinginan untuk membuat tebakan karya sastra yang disajikan membuat kita sejenak berpikir pada penghadiran sains. Kita beruntung dengan pencantuman Djokolelono. Ia dikenal sebagai penulis fiksi sains pada kurun 1970-an hingga 1980-an. Meski banyak karya yang telah ia tulis, karya yang dihadirkan dalam program berupa Terlontar Ke Masa Silam (1971). Dari sana, kita sejenak berpikir untuk menelusur wajah sastra yang membawa misi sains dan teknologi.

















