Cerpen ‘Pulung Jabal Ahad’
S. Prasetyo Utomo
LANGKAH Ngasbun terlihat lamban menyusuri jalan setapak ke lereng Jabal Ahad. Ayahnya, Lurah Ngarso, meminta untuk berguru pada Ki Gandrung Marsudi. Ia mesti menerima restu Ki Gandrung Marsudi menjelang pemilihan lurah. Orang-orang desa percaya, di lereng Jabal Ahad itulah pulung lurah diturunkan.
Hampir senja ketika langkah Ngasbun mencapai pelataran rumah jonglo yang senyap di lereng Jabal Ahad. Pedepokan itu terpencil, Tak ada tetangga yang tinggal di sekitarnya. Ngasbun termangu-mangu menyeberangi pelataran berumput ke pendapa Ki Gandrung Marsudi. Ia tak melihat siapa pun di pendapa itu.
“Masuklah! Duduk di pendapaku!” kata seseorang dari dalam kamar, meminta Ngasbun untuk memasuki pendapa dengan lantai tertutup hamparan tikar pandan. Ia ragu-ragu melangkah ke pendapa dan duduk di tikar pandan, tanpa tuan rumah. Tertunduk. Lama ia menunggu, berdiam diri, dan bersabar menanti Ki Gandrung Marsudi berkenan menemuinya. Lelaki tua berambut putih panjang itu pelan-pelan melangkah menemui Ngasbun.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanya Ki Gandrung Marsudi.
“Saya magang lurah, Ki. Saya meminta restu.”
“Kau perlu dukungan orang-orang desa,” balas Ki Gandrung Marsudi.
“Ayah memintaku untuk memperoleh restumu,” kata Ngasbun.
“Sekarang bersemadilah di kamar. Siapa tahu, pulung lurah menaungimu. Besok pagi kau boleh meninggalkan kamar.”
Ngasbun memasuki sebuah kamar yang senyap, dengan cahaya lampu minyak di sudut ruang, dan hamparan tikar pandan. Ia mesti semadi, seperti yang disarankan Ki Gandrung Marsudi. Ia berusaha tak mendengarkan percakapan tamu yang berkunjung pada malam itu. Ia mendengar suara Subro yang santun – seorang calon lurah, yang akan bersaing dengannya. Subro dikenal sebagai seorang tukang mebel yang selalu berbicara dengan murah senyum dan ramah pada orang-orang desa.
Ngasbun ingin tetap dalam hening semadi. Ia menanti pulung lurah, yang mungkin turun pada malam hari.
***
PAGI itu Ngasbun meninggalkan pelataran pedepokan Ki Gandrung Marsudi yang senyap berkabut. Ia merasa tenang dan percaya diri mencalonkan diri sebagai lurah. Ia sudah memenuhi keinginan ayahnya, untuk mencari restu Ki Gandrung Marsudi.
Ketika Ngasbun mendekati rumah Sindu di Lembah Kelelawar, orang-orang bermunculan membawa sabit, parang, dan pentungan. Mereka menyerang Sindu yang tertangkap maling sapi milik Lurah Ngarso. Dul Manan, yang memelihara sapi-sapi itu, tampak berada dalam kerumunan paling depan orang-orang yang mengeroyok Sindu. Tetapi tubuh Sindu tak terluka, tak mengucurkan darah. Ia kebal. Lelaki muda itu berguru ilmu kebal pada Ki Gandrung Marsudi.


















