Cerpen ‘Perahu Kita Berwarna Merah’
Tjak S. Parlan
MASIRAH duduk di papan kayu dermaga seraya mengayun-ayunkan kedua kakinya ke permukaan air. Hujan semalam membuat debit air sungai meninggi dan berwarna cokelat Pramuka. Ketika deru mesin terdengar dari arah muara, Masirah buru-buru berdiri. Perahu Murahim sedikit oleng ketika gelombang tinggi di mulut muara menerjangnya, tetapi perahu cadik itu sudah teruji oleh hantaman musim dari waktu ke waktu, maka hanya dibutuhkan sedikit manuver agar bisa segera tiba di tambatan perahu tempat Masirah sedang menunggu.
“Cuma itu,” ujar Murahim setelah perahu merapat.
Ia menunjuk dengan dagunya ke arah lambung perahu, sebelum kemudian kakinya menjangkau papan dermaga. Masirah segera memindahkan ikan-ikan pelagis ke dalam ember plastik.
“Laut seluas itu cuma menyisakan lima ekor tongkol buat kita,” ujarnya. Wajah Murahim berubah masam. Ia berusaha menyalakan pemantik untuk membakar sisa puntung rokoknya, tetapi tidak kunjung menyala.
“Korek anjing sialan!” umpatnya seraya melemparkan korek gas itu ke sungai.
“Mestinya kamu juga tahu, lagi musim ombak! Masih untung saya bisa pulang dengan selamat. Kamu mau nyindir, ya?”
"Nyindir?" Kening Masirah mengerut dan pandangannya mengikuti langkah gegas suaminya berlalu dari hadapannya.
"Kopi sudah saya siapkan di meja dapur, tak perlu nongkrong di warung kopi!"
Murahim tidak menggubris peringatan dari istrinya. Langkahnya lurus menyisir bantaran sungai menuju sebuah warung kopi di kawasan pantai tidak jauh dari muara.
Masirah tidak pernah melarang suaminya nongkrong di warung kopi atau di mana pun. Hanya saja, perkampungan padat penduduk di kawasan estuaria itu, belakangan semakin mencemaskan. Tidak sampai seminggu, sudah tiga kali polisi membekuk pemakai dan pengedar sabu-sabu—salah satunya tertangkap basah di warung kopi itu.
Ketika sosok Murahim tersamar oleh pohon-pohon waru pesisir, sebuah perahu yang lain pelan-pelan menuju dermaga kecil itu. Masirah baru saja hendak berlalu, tetapi suara seorang perempuan menahan langkahnya.
“Kenapa buru-buru? Mentang-mentang baru dapat tangkapan banyak.” Masirah langsung menyorongkan ember ke wajah Musri, tetangganya yang dikenal serba tahu, bahkan seolah tidak ada rahasia sekecil ikan teri pun yang bisa luput darinya.
“Jangan bercanda, nanti suamimu benar-benar tak dapat tangkapan, baru tahu rasa!”
“Sekarang lagi musim ombak. Untung saja dia bisa pulang dengan selamat.”
“Astaga! Ombaknya cuma di sini-sini saja. Di tengah-tengah sana tak masalah. Buktinya semua orang tetap melaut seperti biasa. Memangnya cuma suamimu yang tiap hari ketemu ombak. Atau jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa?”
“Jangan-jangan Murahim melaut ke tempat lain dan ketemu putri duyung cantik.”
Musri tertawa kecil selepas mengatakan itu, tidak peduli pada Masirah yang membuang pandangannya ke arah perahu milik Abu—suami Musri—yang sedang merapat ke tambatan.
“Jangan pergi dulu,” Musri setengah berbisik.
“Saya tahu kondisimu. Siapa tahu kami ada tambahan sedikit buatmu.”
Abu meloncat ke papan dermaga, sebelum kemudian membakar rokoknya dan menyesap kopi yang sengaja dibawakan Musri untuknya. Merasa tidak enak hati, Masirah segera bergabung dengan Musri. Sebuah kotak pendingin berjejalan ikan-ikan pelagis segar, terbuka. Senyum Musri mengembang.
“Banyak sekali tangkapanmu hari ini, Abu,” ujar Masirah seraya melongok ke lambung perahu—diam-diam ia membandingkannya dengan hasil tangkapan suaminya.
“Kamu harus mengajari Murahim, biar dia tak jadi nelayan bodoh. Sudah hampir seminggu, dia hanya bawa pulang beberapa biji ikan tongkol!”
Abu tertawa geli, merasa ada yang aneh dengan ucapan istri Murahim itu.
“Sejak masih bayi Murahim sudah bisa menangkap ikan,” ujar Abu.
“Tak mungkinlah saya berani mengajarinya..."
“Kamu bisa lihat sendiri, dia cuma bawa pulang lima ekor tongkol!” sela Musri.
Abu memeriksa ember plastik yang tergeletak di papan dermaga, lalu bergantian menatap Masirah dan Musri seolah tidak percaya.
“Sekarang kamu percaya, kan?” tegas Musri.
Abu mengedutkan dahi. Tidak berapa lama kemudian dia bangkit, bersiap meninggalkan tempat itu, seraya berpesan kepada istrinya,“Bisa mengurus ikan-ikan ini sampai ke pengepul, kan? Dan jangan lupa, tinggalkan beberapa ekor buat Masirah, biar embernya tak terlalu kosong seperti itu.”
“Tak perlu kamu bilang, memang rencana saya seperti itu,” tanggap Musri.
Kedua perempuan itu segera memindahkan kotak pendingin dari perahu ke atas dermaga. Musri menambahkan beberapa ekor ikan ke ember milik Masirah. Sebelum mereka membawa ikan-ikan hasil tangkapan itu ke pengepul, Musri menceritakan sebuah rahasia yang membuat darah Masirah terasa mendidih seketika.
"Ini cuma kita yang boleh tahu. Abu melarang saya menceritakan ini kepada siapa pun. Kamu tahu, bagaimana akrabnya suamimu itu dengan Abu, kan?" Seraya mendengar cerita dari Musri, Masirah mengempaskan napasnya berkali-kali.
“Murahim memang bodoh! Dia pikir, masih ada tempat untuk menyembunyikan rahasia di pesisir ini. Tapi sebentar dulu! Dari mana Abu tahu soal itu? Kamu sendiri memangnya pernah lihat langsung Murahim sering markir perahunya di Teluk Sepi? Jangan-jangan kamu cuma ngarang!”
“Astaga! Apa kamu sudah pikun? Sebelum sama Abu, suami pertama saya orang dari sana, dan sampai sekarang saya masih sering kontak dengan keluarganya. Intinya Masirah, suamimu punya hubungan dengan perempuan lain selain kamu, paham?"
Masirah terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu. Sejak laut semakin mendekati kampung mereka—bahkan mencaplok halaman rumah-rumah penduduk yang sempit—sejumlah nelayan memilih memarkir perahunya di kawasan Teluk Sepi, sebuah pantai di Kampung Utara. Warga setempat memanfaatkan sebagian daerah pantai untuk mendirikan kedai-kedai seadannya untuk melayani para pelancong lokal yang ingin menikmati pemandangan laut, terutama sore hari ketika matahari nyaris tenggelam di kaki sebuah gunung yang mengapung di pulau seberang.
Tidak jauh dari tempat itu, sebuah pasar ikan juga belum lama dibangun. Beberapa nelayan terkadang menjual hasil tangkapannya di sana. Namun, tidak sedikit pula yang bertahan memarkir perahunya di pinggir sungai yang dikepung kampung padat penduduk itu. Hanya saja ketika laut sedang surut, perahu kerap kandas akibat pengendapan pasir dan sampah di pintu muara.
“Jadi, Murahim main serong sama seorang pemilik warung di sana?” ujar Masirah, seraya pandangannya menyelidik wajah Musri.
“Berarti sudah semingguan ini, dia sebenarnya tidak pernah melaut. Mungkin selama itu dia tinggal di kamar kontrakan perempuan itu. Saya heran, perempuan itu mau sama nelayan bodoh seperti dia!” Musri tampak geregetan.
“Kalau Murahim itu memang laki-laki bodoh, mana mungkin kamu bersedia jadi istrinya...”
“Tapi dia miskin!” suara Masirah meninggi.
“Kamilah keluarga paling miskin di kampung sialan ini!”
“Sudahlah, Masirah. Sejak kamu pindah dari Kampung Utara, kita sudah jadi teman kecil di sini. Saya tak mungkin ngarang-ngarang cerita, membohongi teman sendiri. Ini bukan masalah miskin atau apa! Semua sama di sini, hidup biasa-biasa saja. Intinya cuma satu, suamimu selingkuh!”
Masirah terdiam. Terasa ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam dadanya, tetapi ia berusaha keras meredamnya.
* * *
Murahim duduk di bawah naungan pohon waru pesisir, tampak gusar memandang perahu-perahu yang terpapar terik matahari. Debur ombak, empasan angin, sesekali juga cericit camar terdengar lebih jelas pada siang yang lengang itu. Lalu, di antara perahu-perahu itu, sesosok perempuan muncul, bergegas menghampiri Murahim dan langsung duduk di sampingnya.
“Saya kira kamu tak akan datang,” ujar Murahim dengan wajah lebih semringah.
Perempuan sebaya Masirah itu menatap Murahim—tatapan tajam yang membuat Murahim kembali tampak gusar.
“Warung itu sudah benar-benar saya tutup kemarin sore. Sekarang bagaimana rencana kita?” tanggap perempuan itu.
“Rencana kita tak berubah, Mirna. Besok, kita akan pergi dari pulau ini.”
“Kamu yakin?”
Murahim semakin gelisah. “Itu sudah sering kita bicarakan, Mirna. Kamu kira, saya ini seorang pembohong?”
“Kalau kamu bisa membohongi istrimu, mestinya kamu juga gampang membohongi saya. Kenapa tak berterus terang saja ke Masirah?”
“Ayolah, Mirna! Tolong, kenapa sekarang kamu bilang seperti itu?” Wajah Murahim tampak cemas sekaligus memelas.
“Kamu kira gampang bilang ke dia kalau bayi dalam perutmu itu adalah bayi kita.” Mirnawati bergeming. Pandangannya menunduk pada butiran pasir hangat yang masih tertinggal di sela-sela jari-jari kakinya.
“Asal kamu tahu. Sejak dulu saya lebih memilihmu ketimbang Masirah, sepupumu itu. Tapi apa yang terjadi. Dia berlagak muntah-muntah, telat bulan, dan positif hamil, dan dia akan menyebarkan aib itu ke seluruh kampung kalau saya tak segera menikahinya. Saya memang yang bodoh! Buktinya, sampai sekarang perutnya belum juga…”
“Oh, jadi begitu!” sela Mirnawati dengan ketus. “Tapi kamu memang pernah “berbuat” dengannya, kan? Berapa kali?”
Mulut Murahim terbungkam. Mirnawati duduk memeluk lututnya dan tidak mengatakan sepatah kata pun untuk beberapa lama. Debur ombak, empasan angin, sesekali cericit camar kembali terdengar lebih jelas, begitu pula dengan embusan napas mereka. Ketika matahari bergeser sedikit dari rembang siang dan cercah terik mengusap kedua wajah mereka, Murahim melingkarkan tangannya ke pundak Mirnawati—dan tidak ada penolakan sedikit pun dari perempuan berwajah tembam itu.
“Sudah saya siapkan semuanya,” ujar Murahim lirih.
“Besok sore, saya berangkat seperti biasa dari rumah. Saya jemput kamu di sini. Kita hanya butuh perahu sampai ujung tanjung. Seorang teman sudah membayar perahu itu. Uangnya sudah di tangan. Kita hanya mampir menyerahkan perahu itu dan melanjutkan perjalanan pakai taksi ke pelabuhan. Semuanya sudah siap. Tiket kapal, juga tempat tinggal sementara selama saya belum dapat pekerjaan di sana.” Murahim menunjukkan segepok uang dan bukti transaksi pembelian tiket kapal. Mirnawati mengangguk lemah.
***
Selepas asar esok harinya, Masirah menyiapkan kopi untuk bekal Murahim melaut. Setelah meletakkan termos di beranda, ia mengambil parang di dapur dan menenteng sebuah tas kresek berwarna hitam.
“Jangan lupa nanti tutup pintunya,” ujarnya.
“Saya mau cari daun kelor di dekat sungai, sekalian ke rumah Musri, antar minyak yang pernah kita pinjam.”
Murahim membisu, memandangi Masirah yang berjalan memunggunginya hingga sosoknya menghilang di mulut gang. Masirah mendekat ke arah sungai. Hanya perahu Murahim yang tertambat di pangkalan—dermaga kecil yang dibangun sukarela oleh warga itu. Perahu-perahu yang lain sudah berangkat melaut. Beberapa perahu sengaja ditinggalkan di pinggir sungai karena telah rusak, nyaris lapuk digerus cuaca.
Masirah duduk di papan kayu dermaga seraya kedua kakinya terayun berusaha menjangkau permukaan air. Ia senang melakukan keisengan semacam itu sejak masih gadis kecil, tetapi kali ini kedua kaki jenjangnya tidak bisa menjangkau permukaan sungai. Debit air menurun, arus sungai tidak sederas sebelumnya dan ia tahu ada arus deras lain dalam dadanya yang sedang bergemuruh, lebih kencang dari banjir bandang.
Maka ia pun berdiri dengan sedikit membungkuk, tangannya menuang sebotol minyak tanah ke sekujur perahu, pelan-pelan dari haluan sampai ke buritan—dan ia melemparkan botol kosong itu ke dekat dudukan mesin tempel yang sudah terisi penuh bahan bakar. Setelah dirasa cukup, Masirah duduk mengambil jarak. Ia keluarkan sebuah korek api dari lipatan kain sarung yang melilit pinggangnya.
Angin mereda dan dalam sekali cetus, korek api menyala dengan sempurna. Lalu tanpa ragu-ragu, ia melemparkan api kecil itu ke perahu. Api kecil itu menjalar dari haluan ke buritan dan semakin lama semakin membesar, meliuk-liuk, sedikit meninggi membubungkan asap berbau hangus perahu, sebelum kemudian sebuah ledakan terdengar dari arah buritan.
“Kebakaran! Ada perahu terbakar!” Beberapa orang muncul dari mulut gang dengan wajah cemas dan berusaha hendak memadamkan api.
“Diam kalian!” Masirah mengacungkan parang, suaranya penuh ancaman.
"Tak perlu dipadamkan, ini urusan saya dengan Murahim!”
Mereka bergeming. Dan Murahim muncul dengan makian dan kepanikan.
“Anjing sialan! Perahu saya, siapa yang bakar perahu saya... Masirah! Kenapa kamu hanya duduk diam di situ? Kenapa…”
“Duduklah di sini!” Masirah melambai-lambaikan parang kepada Murahim.
“Lihat perahu kesayangan kita! Kamu pernah merampas keperawanan saya di dalam perahu itu. Kamu ingat, kan? Lihat! Sekarang perahu kita berwarna merah. Lihat apinya, lihat! Buka matamu, Murahim!"
Api terus berkobar, menyepuh bayangan kemerahan ke permukaan sungai, ke wajah orang-orang, ke wajah Masirah, ke wajah Murahim yang terus memaki-maki dirinya sendiri.
Ampenan, Oktober 2023-Kolomayan, Februari 2024
Tjak S. Parlan,
Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur. Selain menulis, ia menekuni perwajahan (desain) buku dan media cetak (koran, majalah, bulletin, jurnal, zine). Sejak tahun 1996 hingga tahun 2023 menetap di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Saat ini mukim di Desa Kolomayan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Sejumlah bukunya telah terbit, yaitu: Kota yang Berumur Panjang (Basa-basi, 2017—Kumpulan Cerita Pendek), Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019—Feature Perjalanan), Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020—Kumpulan Cerita Pendek), Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021—Kumpulan Puisi).


















