Resensi ‘Manusia-Manusia Keras Kepala dan Kisah Tragis Kita’
M. Rifdal Ais Annafis
Judul Buku: Lelaki dari Neraka
dan cerita-cerita manusia keras kepala lainnya
Penulis: Eep Saefulloh Fatah
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, Maret 2024
Halaman: vii+142
Peresensi: M. Rifdal Ais Annafis
Eep Saefulloh Fatah, seorang yang kita kenal sebagai akademisi dan pengamat politik tanah air beberapa bulan lalu menerbitkan buku kumpulan cerita pendek. Agaknya, buku kumpulan cerita pendek ini selain untuk memberi tempat pada hasrat kreatif dan imajiner Eep, juga sebagai penanda: betapapun orang mengupayakan kebijakan pemerintah lebih baik, ia merasai kurang puas sebab perlu upaya menyadarkan masyarakat muda yang urban.
Membaca buku ini, saya jadi terkenang Chairil Anwar awal Juni 1943 ketika menyampaikan pidato kebudayaan di Angkatan Baru Pusat Kebudayaan Jakarta. Dengan dada bergejolak ia menyebut: seni cipta adalah “soal hidup dan mati”. Secara implisit, saya segera menyadari bahwa kerja penciptaan bukan hanya ekspresi konkret terhadap masalah faktual yang bergesekan dengan pengarang, tetapi juga soal sikap dan pilihan hidup.
Soal demikian hadir dengan lokus sederhana tapi memukau dari Eep. Ia menyadari konsep sosial yang terus tergerus sekaligus menampakkan sisi lain dari moralitas yang diimani masyarakat luas. Pandangan ini dibebankan kepada tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam cerita seperti, Elena dalam cerita pendek, “Gerimis Senja di Praha” atau Dyah dengan kenangan buruk yang menimbulkan gema panjang dalam hidupnya di cerita pendek, “Lelaki dari Neraka.”Eep betul-betul dapat menghidupkan cerita menggunakan dua perangkat teknis menulis yaitu, fakta empiris dan cara bercerita realis. Dua perangkat tersebut membuat tokoh cerita seperti Dyah dan Elena mempunyai bekas yang dalam di hati pembaca.


















