Ilustrasi Novel Leila S. Chudori. (Foto: Hasan Tarowan)
"Sampai sekarang kita tetap tak tahu apa yang dilanggar. Situasi di masa itu memang serba gelap dan kacau."
Melalui potongan dialog di atas, Leila S. Chudori sepertinya ingin memotret kenyataan jika dalam pencatatan sejarah ada "yang hilang atau disembunyikan atau terlupakan", selama masa Orde Baru. Atau semacam perlawanan terhadap tragedi pada malam berdarah yang sudah ditulis secara seragam oleh sejarawan pilihan pemerintah saat itu.
Bapak Alam, merupakan wartawan yang dituding dekat dengan Lekra, sebuah lembaga kebudayaan haluan kiri yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Lantas diburu oleh pemerintah pasca peristiwa G30S/G30S PKI. Ibunya, Ratna Surti Anandari harus melalui siksaan mental, diinterogasi, hingga dilecehkan aparat.
Setalah tiga tahun dalam pelarian, akhirnya Hananto Prawiro ditangkap pada tahun 1970. Penangkapan yang menjadi pintu masuk menuju kematiannya. Usia Alam baru lima tahun saat itu. Dia dan dua kakak perempuannya, Bunga Kenanga dan Bening bulan mengetahui jika bapaknya meninggal karena ditembak mati, tapi tidak ada yang tahu apa kesalahannya, sampai saat ini.
Novel Namaku Alam, memuat cerita tentang tokoh utama yang bernama Segara Alam. Stempel “anak pengkhianat negara” melekat pada identitasnya dan menghantui hidupnya. Latar belakang inilah yang menempa kehidupannya. Baik dalam kehidupan keluarga, pertemanan, hingga kisah percintaannya.
Kisah Alam menjadi gambaran dahsyatnya dampak stigma yang berkarat di ruang personal. Sepanjang hidupnya, dia harus rela menanggung konflik identitas sebagai korban tidak langsung dari peristiwa G30S PKI.
Tapi mari kita coba bayangkan, bagaimana jika hari ini kita mendadak dicap sebagai anak pengkhianat negara dan harus menerima dosa turunan karena dianggap simpatisan PKI?
Bayangkan kita seorang Segara Alam atau, kedua kakak perempuannya, Yu Kenanga dan Yu Bulan? Bayangkan, kita harus hati-hati karena orang tua kita baru saja ditembak mati karena dituduh dekat dengan kelompok tertentu padahal kita tidak pernah merasa menjadi bagian kelompok itu?
Jika misal kita tidak punya cukup waktu untuk membayangkan hal-hal yang demikian, maka novel Namaku Alam adalah medium yang pas. Kita tidak perlu menjadi anak seorang pengkhianat negara terlebih dahulu, untuk mengetahui betapa sebenarnya itu semua akan menjadi pengalaman yang sangat traumatik.
Segara Alam dianugerahi kemampuan photographic memory yang membuatnya menjadi pemenang lomba Cerdas Tangkas antar-SMA. Celakanya, sebab kemampuan itulah dia juga mampu mengingat hampir semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
Peristiwa pertama yang dia ingat adalah ketika suatu hari empat laki-laki bertubuh besar, berambut pendek, menerobos ke ruang tengah dengan suara menggelegar. Menggeledah rumahnya untuk mencari keberadaan bapaknya. Alam juga ingat ketika salah satu dari keempat lelaki besar itu menodong-nodongkan pistolnya ke berbagai arah.
Setelah keributan mereda, barulah Alam menyadari tubuhnya basah oleh keringat dan kencing. Dia terkencing-kencing di kolong meja menahan takut. Saat itu usia Alam masih tiga tahun. Tepatnya, Januari 1968.
Betapapun suramnya kenyataan tentang pencatatan sejarah Indonesia, Segara Alam tetap optimis untuk mencari jejak-jejak kematian ayahnya yang masih menyimpan misteri.
Di sekolah, dengan sahabatnya Bimo, mereka tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Para Pencatat Sejarah, PPS. Persamaan latar belakang keluarga mendasari persahabatan mereka. Bimo adalah anak seorang eksil yang dipaksa harus melepaskan tanah airnya akibat kebijakan Soeharto, yang waktu itu melarang simpatisan PKI pulang ke Indonesia sebelum mengakui kekuasaannya.
Betapapun pahitnya perundungan yang dialami, mereka tetap tidak bisa berpaling dari hatinya yang merindukan sosok seorang bapak. Mereka tetap gigih belajar sejarah untuk mengetahui kebenaran sejarah yang belum terungkap atau sengaja ditutup-tutupi.
Leila seperti punya seribu jurus untuk bercerita. Dia dengan cerdik mengembangkan novel ini dengan segala dinamika keluarga Alam yang terkena stigma buruk dari masyarakat. Dari novel ini kita dapat menjadi saksi atas cuplikan-cuplikan sejarah yang terjadi dalam rentang waktu 1965-1982.
Membaca novel Namaku Alam, seperti menonton sebuah film dengan aktor dan aktis yang cerdas, peggunaan dialog-dialog yang menyentuh. Termasuk soal hubungan Segara Alam dengan pacarnya, Dara Ariana.
"Bagaimana kamu bisa berharap aku tetap dalam hubungan ini, Dara? Ibuku dihina sedemikian rupa dan kakakmu serta kawan-kawannya tertawa dan bertepuk tangan. Aku tahu, itu bukan salahmu. Tapi aku harus mempertahankan harga diri ibuku. Keluargaku."
Semuanya dikisahkan dengan keseharian yang sederhana dan wajar. Tapi masih menyimpan tanda tanya. Sepertinya Leila S. Chudori sengaja menyimpan jawabannya agar kita membeli novel Namaku Alam jilid 2. Cerdas!
Jakarta, Januari 2024.
Hasan Tarowan,
Esais kelahiran Sumenep, Jawa Timur. Saat ini tinggal di Jakarta.