Dokumentasi Gotong Tumpeng, salah satu prosesi yang digelar menjelang tradisi tahunan Saparan yang digelar di Desa Tajuk, Getasan, Jawa Tengah pada tahun 2025 lalu. (Foto: Istimewa).
GETASAN, (ERAKINI) – Masyarakat Kelurahan Tajuk, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, kembali bersiap menyambut tradisi tahunan SaparanTajuk 2026 yang akan digelar secara bergiliran di sejumlah dusun sepanjang Juli hingga Agustus 2026. yang sarat nilai gotong royong, syukur, dan kebersamaan ini akan kembali menjadi magnet bagi warga lokal maupun para pengunjung dari luar daerah.
Berdasarkan jadwal yang telah diumumkan, rangkaian Saparan akan dimulai di Dusun Banaran pada 24 Juli 2026, dilanjutkan Dusun Cingklok pada 27 Juli 2026. Memasuki bulan Agustus, acara berlanjut di Dusun Tajuk dan Dusun Ngroto pada 2 Agustus, kemudian Dusun Macanan dan Dusun Pulihan pada 3 Agustus, Dusun Kaliajeng pada 6 Agustus, serta ditutup di Dusun Sekowolu pada 12 Agustus 2026.
Tidak hanya menjadi agenda budaya, SaparanTajuk juga dikenal sebagai momentum mempererat silaturahmi antarwarga melalui tradisi kenduri, doa bersama, dan makan bersama hasil bumi yang dibawa secara swadaya oleh masyarakat.
"Untuk teman-teman yang ingin berjualan, silakan menyimpan jadwalnya. Bagi teman-teman, kerabat, dan konco-konco yang ingin berkunjung, monggo datang dan meramaikan SaparanTajuk 2026. Ayo moro, ayo Saparan," demikian ajakan salah satu pegiat desa wilayah Tajuk, Getasan, Wawan Setiawan.
Sejumlah hiburan rakyat juga telah dipersiapkan untuk memeriahkan kegiatan tersebut. Dusun Pulihan akan menghadirkan pertunjukan campursari siang hingga malam, Dusun Cingklok menampilkan Jose Musik pada siang hari, sementara Dusun Macanan akan menyuguhkan kesenian Reog yang berlangsung dari siang hingga malam.
Sebagai informasi, Tradisi Saparan sendiri merupakan warisan budaya yang masih lestari di kawasan lereng Gunung Merbabu. Selain menjadi ungkapan rasa syukur atas rezeki dan hasil pertanian, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan warga melalui berbagai ritual adat dan santapan bersama.
Menariknya, tradisi makan bersama yang menjadi bagian dari Saparan sering disebut warga sebagai bentuk nyata ‘makan bergizi gratis’ versi masyarakat desa. Aneka hasil bumi, lauk-pauk, dan makanan tradisional disajikan secara gotong royong untuk dinikmati bersama tanpa memandang status sosial maupun usia.
Dengan perpaduan antara nilai budaya, kebersamaan, hiburan rakyat, dan potensi ekonomi melalui kehadiran para pedagang UMKM, SaparanTajuk 2026 diharapkan kembali menjadi salah satu agenda budaya yang mampu menggerakkan roda ekonomi sekaligus menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana pedesaan khas lereng Merbabu, mencicipi kuliner tradisional, serta merasakan hangatnya kebersamaan warga, SaparanTajuk 2026 menjadi momentum yang sayang untuk dilewatkan.