Ilustrasi dari cerita pendek (cerpen) berjudul 'Di Seberang Pagar Lintasan' karya Tjak S. Parlan. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini)
JARAK beberapa depa dari pohon kelapa, Sigit Abdullah menghentikan langkahnya. Seraya memicingkan mata kirinya, tangan kanannya membentuk sebuah teropong pendek dan dari lubang teropong buatan itulah mata kanannya membidik, memastikan sesuatu.
“Sialan!” gerutunya seraya melangkah mendekati pohon kelapa itu. “Dia di sini! Dia berdiri dan bersandar di pohon ini.”
Sigit Abdullah berharap seseorang akan muncul di antara rimbunan daun singkong di kebun yang tersisa itu. Namun, tidak ada seorang pun hingga dia memutuskan untuk menunggu lebih lama. Embusan angin terasa kering dan dingin, sesekali membawa kabut debu tipis dari arah lahan gusuran. Satu-dua mesin pengeruk tanah belum berhenti bekerja; sesekali terdengar menderu dan sedikit redam oleh bunyi ombak pasang dari pantai yang menyekat lahan persil. Ketika cahaya petang jatuh dan membuat bayangan tubuhnya memanjang hingga ke pagar lintasan, Sigit Abdullah teringat kembali peristiwa satu bulan sebelumnya.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia pernah membidikkan kameranya ke arah yang tepat dan menghasilkan sebuah foto headline di sebuah surat kabar harian. Dalam foto itu tampak sosok seorang pembalap dunia berkelebat—bayangan super cepat, tapi masih jelas mencitrakan seorang pembalap yang tengah menggeber tunggangannya. Sejak ditayangkan di surat kabar ternama, foto itu telah dimuat ulang di sejumlah media daring dan diunggah di berbagai platform media sosial.
Alih-alih membincangkan sosok pembalap jawara dunia itu atau teknik fotografi Sigit Abdullah, media massa justru membincangkan sosok lainnya: Seorang laki-laki mengenakan sarung dan kaos oblong, bertopang pada batang pohon kelapa dan menatap seorang pembalap yang tengah melaju dengan kencang. Laki-laki yang berdiri di seberang pagar lintasan itu telah menjadi latar foto yang menyita perhatian. Banyak pihak menerka-nerka penyebab kehadirannya. Mulai dari keteledoran penyelenggara ajang balap motor internasional sampai spekulasi yang mengatakan bahwa hantu Suhir telah datang untuk membalas dendam.
Sekitar tiga bulan sebelum puncak ajang internasional itu, Suhir mengadang sebuah ekskavator. Ia menolak pembangunan tribun penonton yang mencaplok sebagian lahan yang telah ditempatinya selama puluhan tahun. Suhir tidak sendirian. Ia melakukan aksi bersama sejumlah warga yang tanahnya tergusur. Namun, Suhirlah yang terlihat paling mencolok—ia bertelanjang dada, mengenakan celana kolor, dan nekat masuk ke ekskavator.
Aksi Suhir berhasil membuat seorang operator keluar dari kabin pengendalian alat berat itu. Suhir mengancam akan terus mendekam di ceruk baja itu sampai tuntutannya dipenuhi. Suhir tidak sedang menggertak. Butuh upaya keras sebuah tim gabungan untuk mengeluarkannya dari sana. Siang itu juga, Suhir bersama sepuluh warga lainnya digelandang ke kantor polisi. Mereka baru dilepaskan keesokan harinya. Namun, Suhir baru muncul di kebun singkong miliknya seminggu setelah peristiwa itu. Ia tidak banyak bicara dan lebih banyak menggeleng ketika sejumlah wartawan bertanya tentang status tanah miliknya.
Tidak ada penolakan yang berarti setelah peristiwa pengadangan itu. Pembangunan sirkuit berjalan cukup lancar, meski masih ada letupan-letupan kecil penolakan. Sejumlah warga telah mendapatkan ganti rugi—meski tidak sepenuhnya. Namun, Suhir seperti lesap ditelan tanah gusuran. Desas-desus menyebar. Ada yang mengatakan, Suhir telah menerima ganti rugi lebih banyak ketimbang warga lainnya dan langsung minggat dari tempat itu. Ada juga yang meyakini, bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa Suhir sampai kemudian sosoknya muncul dalam sebuah foto headline sebuah surat kabar.
“Saya harus menemukanmu, Suhir. Tak peduli, sekalipun kamu sudah jadi hantu!”
Sigit Abdullah kembali menggerutu. Kali ini gerutuannya bersambut kemunculan dua sosok laki-laki di kejauhan. Dia tahu, ada beberapa orang yang masih bertahan di dusun itu, meski mereka luput dari pemberitaan media massa. Namun, ketika kedua sosok itu semakin mendekat, tak urung dahi Sigit Abdullah pun mengedut. Ingatannya tertuju pada sosok yang pernah tertangkap mata kameranya dan itu membuatnya terdiam beberapa saat.
“Oh, maaf Pak,” ujar Sigit Abdullah setelah benar-benar menyadari kedatangan kedua orang tersebut. “Saya sengaja masuk lahan ini tadi. Sepi sekali, dari tadi saya tak melihat siapa-siapa. Apa yang lainnya sudah pergi dari sini?”
Kedua laki-laki itu mengangguk dengan ragu. “Tak semuanya,” tanggap seorang di antaranya. “Katanya ada sekitar tiga atau empat keluarga yang masih tinggal. Tapi saya juga tak tahu, apa mereka akan terus bertahan di sini.”
Sigit Abdullah mencoba mencerna jawaban laki-laki tua itu, tapi pikirannya terus tertuju pada sosok laki-laki lainnya yang mengenakan sarung dan kaos oblong. Wajah laki-laki itu tampak murung, meski berusaha menyunggingkan senyum tipis ketika pandangannya bersirobok dengan Sigit Abdullah. Ketika laki-laki tua itu berjalan ke dekat pembatas lahan tidak jauh dari kebun singkong, Sigit Abdullah mengekor saja. Di bawah naungan satu-satunya pohon kamboja, laki-laki tua itu menggeletakkan sebatang cangkul yang sedari tadi ditentengnya. Laki-laki tua itu duduk di sana dan mulai memilin tembakau.
“Dia ingin melihat tanah milik keluarganya,” ujar laki-laki tua itu. “Kami juga harus bersih-bersih tempat ini. Sebelum kami benar-benar tak bisa melakukan apa-apa di sini.”
Seraya mencerna apa yang baru saja dikatakan laki-laki tua itu, Sigit Abdullah memperhatikan sekitar. Rumput liar tumbuh bergerombol di bawah naungan pohon kamboja tua. Tidak ada yang membuatnya curiga, kecuali ketika pandangan matanya terantuk sesuatu yang menyembul di antara semak belukar. “Sebentar dulu, Pak,” ujarnya seraya pandangannya menunjuk sesuatu. “Apa benar itu sebuah nisan? Nisan kayu atau hanya saya yang salah lihat.”
“Benar, ini memang lokasi kuburan keluarga. Biasanya Suhir yang membersihkannya dan mengganti nisan yang sudah lapuk dengan yang baru,” tanggap laki-laki tua itu.
“Terus, jasad siapa yang ada di situ?”
“Bapaknya Suhir dan tentunya bapaknya Suhar juga.”
Jawaban laki-laki tua itu semakin membuat Sigit Abdullah kebingungan. Dia tidak mengenal Suhir secara langsung. Sosok Suhir dikenalnya hanya lewat media massa. Hasil jepretan kameranya yang sempat viral adalah tugas pertamanya meliput sebuah ajang balap motor internasional—dan tentu saja, fokusnya bukan ke sosok Suhir. Ketika mendengar nama Suhir disandingkan dengan nama lainnya, dia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Belum lagi, kini dia dihadapkan pada sosok nyata yang diam-diam diyakininya sebagai Suhir.
“Sebentar dulu, Pak,” ujar Sigit Abdullah seraya menunjukkan sebuah gawai kepada laki-laki tua itu. “Saya agak bingung sedari tadi. Saya ke tempat ini untuk mencari Suhir. Sewaktu lihat dia, saya kaget bukan main, tapi saya tahan. Bukankah orang yang ada dalam foto ini adalah dia? Dia yang duduk di sebelah Bapak ini. Namanya Suhir, kan?”
“Bukan, dia Suhar. Yang ada dalam foto ini Suhar. Ini dia orangnya,” tanggap laki-laki tua itu setelah mengamati layar gawai. Bahkan dia mengatakan bahwa Suhar juga menyimpan foto itu dalam gawainya. Katanya, Suhar mendapatkannya dari internet.
Sigit Abdullah berusaha meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa apa yang didengarnya benar belaka. Ketika dia menunjukkan sekali lagi foto di layar gawainya kepada mereka, keduanya mengangguk dengan sungguh-sungguh. Bahkan laki-laki bersarung itu berkali-kali menunjuk ke dadanya sendiri.
“Dia jarang bicara sejak pendengarannya berkurang,” jelas laki-laki tua itu. “Pernah keluar darah dari telinganya. Mungkin karena terlalu sering menyelam. Tapi intinya dia bilang, kalau orang dalam foto itu memang dirinya, bukan Suhir.”
Seraya membantu Suhar menyiangi rumput di sekitar kubur orangtuanya, laki-laki tua itu melanjutkan ceritanya. Dia mengaku telah mengenal orangtua Suhir dan Suhar sejak lama, sebelum bertahun-tahun kemudian menjadi mertua Suhar. Suhir memiliki saudara kembar yang tidak banyak diketahui oleh orang lain—bahkan oleh seluruh tetangga di dusun itu. Suhir lahir di rumah kakeknya dari pihak ibunya. Itu masa-masa yang sulit dan bapaknya Suhir harus menitipkan istrinya yang sedang hamil di rumah mertuanya jauh di pelosok kampung nelayan di seberang pulau. Sebulan setelah bayi kembar laki-laki itu lahir, mereka segera dipisahkan.
“Suhir dibawa ke sini. Sementara, Suhar diasuh oleh kakek dan neneknya. Suhar baru tahu kalau dia punya kakak kandung sekitar lima tahun lalu, sewaktu kakeknya meninggal. Tapi, Suhar baru bisa bertemu Suhir setelah ramai kasus tanah ini. Dia baca berita aksi pengadangan itu dan bertekad ingin bertemu Suhir.”
“Saya juga baca di koran,” tanggap Sigit Abdullah. “Setelah peristiwa itu, keberadaan Suhir jadi teka-teki. Sewaktu lihat foto itu di koran, banyak yang bilang bahwa itu hantu Suhir.”
“Suhar menjual sampan miliknya satu-satunya dan langsung mengajak saya ke tempat ini. Saya tak tahu apa yang disampaikannya kepada polisi atau kepada Suhir malam itu. Yang jelas, besoknya Suhir sudah boleh pulang…”
Laki-laki itu tidak melanjutkan kata-katanya. Dia memperhatikan Suhar yang mulai mengangkat cangkul dan membuat lubang tepat di samping kubur kedua orang tuannya. Apa yang dilakukan Suhar itu menambah jumlah pertanyaan dalam kepala Sigit Abdullah.
“Tapi kami yakin, Suhir sudah tenang di alam yang lain,” ujar laki-laki tua itu.
“Sebentar dulu, Pak. Mohon maaf, maksudnya dia meninggal atau apa?” tanya Sigit Abdullah dengan ragu, sekaligus kaget.
Laki-laki itu membuang napasnya sejenak, tampak ragu—dia menatap Sigit Abdullah penuh selidik seolah-olah mencari jawaban apakah dirinya akan menceritakan hal yang sebenarnya di hadapan orang yang baru dilihatnya sekali itu. “Mas-nya ini seorang wartawan, kan? Mas-nya pasti tahu berita-berita terbaru seputar TKI,” ujarnya kemudian.
Kening Sigit Abdullah kembali mengedut. Dia berusaha mengingat-ingat sejumlah berita yang pernah dibacanya dan segera merasa bodoh karena tidak bisa mengingatnya dengan baik. “Terlalu banyak berita semacam itu,” ujarnya.
“Perahu motor yang ditumpangi Suhir tenggelam di sebuah perairan,” jelas laki-laki itu. “Dia bersama TKI ilegal lainnya. Cuma dua orang yang dipastikan selamat. Tiga mayat sudah ditemukan. Tapi sampai sekarang mayat Suhir belum ada kabarnya…”
Laki-laki itu tidak melanjutkan ujarannya. Dia melongok ke arah lubang galian. Suhar telah menggali cukup dalam, sehingga laki-laki itu memberi isyarat kepadanya agar berhenti menggali. Setelah meletakkan cangkul di pinggir lubang galian, Suhar membuka sebuah tas ransel dan mengeluarkan sesuatu dari sana: Sebuah bungkusan berwarna putih kain kafan.
“Pegang baik-baik dulu, Suhar,” ujar laki-laki tua itu. “Mungkin kamu ingin berdoa terlebih dulu.”
Suhar berjongkok di pinggir lubang galian seraya mendekap bungkusan itu. Wajahnya menunduk dan sorot matanya tampak layu. Setelah waktunya tiba, Suhar menidurkan bungkusan itu dengan hati-hati di dasar lubang dan menatapnya sekali lagi sebelum mertua laki-lakinya mulai menimbun bungkusan itu secangkul demi secangkul. Hingga timbunan membukit dan Suhar menanam nisan kayu di kubur baru itu, tidak ada seorang pun yang berbicara. Embusan angin terasa lebih dingin—sesekali tetap membawa kabut debu tipis dari arah lahan gusuran. Sesekali juga terdengar bunyi ombak pasang dari pantai, seolah berusaha meredam deru mesin pengeruk tanah yang dipaksa terus bekerja.
“Seorang nelayan menemukan sandal, jaket, juga dompet yang berisi KTP Suhir di dalamnya,” ujar laki-laki tua itu beberapa saat kemudian. “Dengan susah payah, kami berhasil menghubungi aparat setempat dan mereka bersedia mengirimkan barang-barang milik Suhir. Jadi, barang-barang itulah yang baru saja kami kuburkan.”
Seketika terasa ada sesuatu yang patah jauh di lubuk hati Sigit Abdullah. Dia berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya dan lambungnya terasa mual. “Ya, Tuhan. Kenapa dia harus ke sana lewat jalur tidak aman?” ujarnya, terdengar seperti gumam.
“Suhir bilang dia akan berakhir seperti yang lain,” jelas laki-laki tua itu. “Makanya, sewaktu ada yang menawarinya, dia mencoba jadi TKI. Sebagai wartawan, Mas-nya pasti tahu, jarang sekali ada yang menang dalam kasus-kasus seperti ini. Lahan digusur, kalau tidak dengan mesin, mereka akan kalah dengan uang.”
Suhar dan laki-laki itu mulai berkemas. Sigit Abdullah melepaskan pandangannya ke sekitar—gundukan kubur baru itu, sebuah nisan kayu bertuliskan nama Suhir, lalu sebatang pohon kelapa di seberang lintasan sirkuit. Sigit Abdullah merekam semuanya dan berjanji dalam hati akan menceritakannya kelak.
“Kami akan menemui salah satu warga dulu, ada sedikit titipan,” ujar laki-laki itu seraya menjabat tangan Sigit Abdullah. “Besok saya akan kembali ke kampung, tapi Suhar tetap di sini. Dia harus menjaga kebun singkong milik Suhir sampai saatnya bisa dipanen. Itu pesan terakhir Suhir kepadanya sebelum berangkat.”
Sigit Abdullah mengangguk lemah. Ketika kedua laki-laki itu mulai berjalan meninggalkannya, tengkuknya terasa berdesir. Dia menoleh ke belakang dan memandang ke seberang pagar lintasan sirkuit. Dia pernah berdiri di sana, membidikkan kameranya dan pernah melihat seorang laki-laki berkaos oblong, mengenakan sarung, dan bersandar pada batang pohon kelapa.
Ampenan, 24 Juli 2022-Blitar, 8 Oktober 2024
Tjak S. Parlan,
Lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 10 November 1975. Selama dua puluh tujuh tahun (1996-2023) bermukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di Mataram, terlibat aktif dalam Komunitas Akarpohon. Ia menulis cerita pendek, esai, resensi, feature perjalanan dan novel.
Bukunya yang telah terbit:
- Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017; Kumpulan Cerita Pendek),
- Berlabuh di Bumi Sikerei (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019; Feature Perjalanan),
- Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020; Kumpulan Cerita Pendek),
- Cinta Tak Pernah Fanatik (Rua Aksara, 2021; Kumpulan Puisi—masuk 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-21).
- Onuris dan Seteba dan Lebih Kuat dari Sekadar Cium—bisa diakses melalui aplikasi Lentera.