KURANG atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. (1)
“Tapi uangku tak cukup membeli dua cangkir kopi, sedangkan kita berdua.”
“Berarti sedang kurang.”
“Apa tetap harus dirayakan?’’
‘‘Tentu saja!’’
Aku pun memesan secangkir kopi. Dia menyesap sekali, aku sekali. Aku meneguk sekali, dia pun sekali. Hingga kopi dalam cangkir itu tandas tak bersisa. Kopi yang aku pesan memang kopi tanpa ampas, jadi cangkir itu seolah tak pernah terisi apapun. Kosong; kering.
”Kau dari mana, Nona?” tanyaku.
”Aku dari Negeri Kopi yang baunya harum semerbak, yang kekal dalam ingatan pancaindra,” jawabnya.
”Sungguhkah? Di mana Negeri Kopi itu kalau boleh aku tahu, Nona?”
”Di matamu: di matamu yang lelah, di matamu yang terang, atau di matamu yang kangen.’’
Aku tertawa. Pandai sekali dia membual. Tapi bualannya membuatku terdorong menatap matanya. Bukankah mata adalah pintu gerbang pertama untuk mengetahui seseorang? Sambil membakar rokok, kuberanikan diri melihat matanya. Tampak olehku bola matanya yang hitam; pekat bagai batu pasir intan; serupa malam gelap tanpa gemintang.
Mungkin, itu sebab yang membuatku terdorong melihat matanya. Mata yang kini kusaksikan sudah pula mirip dengan biji kopi yang telah sempurna disangrai. Sumpah, aku terpana! Tetapi, apa benar dia dari Negeri Kopi? Mungkin saja, kenapa tidak, bantah pikiranku sendiri.
”Kapan waktu, bolehkah nanti Nona antarkan aku ke Negeri Kopi itu?”
”Untuk apa?”
Untuk apa? Benar juga untuk apa. Sesungguhnya aku memang tidak tahu untuk apa aku mengajukan permintaan itu. Aku pikir semacam rasa penasaran saja yang mendadak timbul karena asal usulnya yang asing terdengar oleh telinga. Seperti apa sih Negeri Kopi itu? Apa semua yang ada di sana terbuat dari kopi?
Mungkin hal itu yang menyebabkan aku mengajukan permintaan tadi. Tetapi setelah aku pikir-pikir lagi, jawabannya ”untuk apa?” semacam bentuk penolakan secara halus atas permintaanku. Aku menduga, apapun alasan yang aku berikan, pasti dia sudah menyiapkan jawaban penolakan. Dengan kata lain, dia memang pembual; pembual yang hanya ingin minum kopi gratis dariku. Sadar akan hal itu, aku pun membelokkan obrolan.
”Nona, sering duduk di sini?”
”Sesering kau.’’
’’Maksud, Nona?’’
’’Kau bertanyakan, sesering apa aku duduk di sini? Aku duduk di sini, sesering kau duduk di sini. Setiap kau duduk, aku pun duduk. Hanya saja kau tidak pernah melihatku. Kau selalu mengacuhkanku. Baru kali ini kau memedulikanku.”
”Sumpah, aku tidak pernah melihat Nona di kedai ini. Bahkan seorang wanita pun tidak pernah kulihat duduk di sini. Bagaimana ceritanya, Nona sering duduk di sini? Ayolah, tidak semuanya harus dijadikan bualan, bukan?”
”Siapa yang membual. Matamu yang tidak melihat, mengapa kata-kataku menjadi bualan? Aneh!”
”Oke. Kalau begitu, sebutkan kapan aku duduk di sini?”
”Loh, tadikan sudah aku katakan: saat kau lelah, saat kau terang, juga saat kau kangen.”
”Maksudku, aku bertanya soal waktu. Bukan kondisi perasaanku.”
”Saat kau lelah, itu bukan menunjukkan waktu? Baik, aku ganti kata-katanya. Aku melihatmu di sini, saat waktu kau lelah, saat waktu kau terang, dan saat waktu kau kangen. Puas?”
Gila! Pandai benar dia bermain kata-kata. Aku jadi bingung harus menjawab apa untuk membalikkan kata-katanya. Tapi, sungguh aku tak pernah melihatnya sekalipun. Apa mataku sudah rabun? Kalau pun rabun, serabun apa aku sampai tidak pernah melihatnya duduk di kedai kopi ini? Baiklah, akan aku ikuti bualannya. Sejauh apa sih dia bisa terus membual; suatu nanti pasti dia akan terpeleset.
”Menurut Nona, apa itu waktu?”
Dia diam tak langsung menjawab. Diperhatikannya aku; mungkin dia sedang membaca pikirkanku.
”Kau sungguh bertanya sebab mulai ragu akan definisi waktu yang kau pahami, atau kau sedang menguji pemahamanku tentang waktu?” Dia mengubah posisi duduknya, kemudian spontan melanjutkan, “Tunggu, jangan-jangan kau pun memang tak tahu apa itu waktu?”
Aku terdesak. Aku jawab saja sekenanya, ”Benar, aku memang tidak tahu soal waktu. Sebab itu aku tanya Nona.”
Dia kembali diam. Lalu memperhatikanku lebih serius dari sebelumnya. Seperti sedang mengejar kebenaran kata-kataku. Kuperhatikan juga dia, agar konsentrasinya mempelajariku terganggu. Hal itu baik menurutku, agar dia nantinya tidak melulu menguasai obrolan. Dengan saksama kuperhatikan dia.
Dan dia terlihat mulai kikuk karena aku perhatikan. Mungkin dia tidak menyangka, aku melakukan serangan balik. Melihat dia kikuk, aku jadi teringat seseorang. Aduh, siapa, ya? Di mana aku bertemu seseorang yang mirip dengannya. Sial, mengapa ingatanku pendek sekali. Rasa-rasanya belum lama aku pernah melihat wanita seperti dia.
Ayolah, ingatanku! Bantu aku menemukan siapa Nona ini sebenarnya. Ketika aku sedang berupaya keras memikirkan siapa dia, tiba-tiba dia pun melepaskan jawaban.
”Sebelum kau bertanya, aku tahu apa itu waktu. Namun, begitu kau bertanya, mendadak penjelasanku macet. Maka, kalau sekarang kau berharap aku menjelaskan soal waktu kepadamu, sungguh aku tak tahu lagi apa itu waktu,” jelasnya.
”Sebentar! Tadi Nona bilang, saat aku lelah, terang, atau kangen, itu adalah waktu. Mengapa tidak menjelaskan bagian yang sudah Nona katakan itu saja?”
”Nah, kalau kau sudah paham, mungkin juga sepakat bahwa itulah waktu, untuk apa lagi aku jelaskan. Bukankah itu sia-sia?”
Sial. Lagi lagi sial! Benar juga katanya. Semakin penasaran aku padanya. Siapa dia sebenarnya?
”Oke. Kalau begitu, kapan pertama sekali Nona duduk di sini? Maksudku, aku pertama kali duduk di sini?”
”Kau bertanya tentang aku atau tentang kau?”
”Tentangku sekaligus juga tentang Nona, sebab tadi Nona katakan, Nona duduk di sini sejak aku mula pertama duduk di sini.”
”Aku duduk di sini, tentu saja sejak kau duduk di sini. Bukankah sudah aku katakan, aku selalu duduk di sini bersama denganmu.”
Kepalaku mulai pusing dengan jawabannya yang berputar-putar.
”Nona ingat tidak, kapan pertama kali Nona duduk di sini? Aku pikir begitu saja pertanyaanku.”
”Loh, jadi kau lupa pertama sekali duduk di sini, sehingga kau bertanya kepadaku, begitu maksudmu?”
”Bukan, pertanyaanku itu sesungguhnya untuk membuktikan kebenaran Nona yang mengatakan sering duduk di sini bersamaku.”
”O, kau masih belum percaya, ya? Kalau begitu, lupakan saja jika kau tidak percaya. Mengapa harus sibuk-sibuk kau mencari kebenarannya bila kau senyata tidak percaya? Percayalah, itu hanya akan membuang-buang waktumu! Lebih baik kita membicarakan hal yang lain. Puisi, misalnya.”
Ampun deh. Bagaimana dia bisa tahu aku suka menulis puisi? Jangan-jangan dia memang mengetahui semua tentangku. Bila benar begitu, siapa dia sesungguhnya?
”Kok Nona tahu aku suka menulis puisi? Siapa sebenarnya Nona ini? Tolong, kali ini jangan jawab dengan jawaban filosofi! Jawab saja seterang mungkin, biar tidak bias tafsir!”
”Ah, kau ini terlalu berlebihan. Aku mengajak membahas soal puisi, bukan berarti aku sudah tahu kau suka menulis puisi. Hei, kenapa ribet sekali pikiranmu. Sudahlah, aku jadi tak bersemangat lagi bicara padamu. Kau saja yang bicara! Kalau menarik, nanti akan aku tanggapi.”
Sial! Sombong benar dia. Tapi benar juga yang dia katakan. Baiklah, lebih baik aku cuek saja. Paling kalau bosan dia pergi, atau dia yang akan kembali mengajakku mengobrol.
”Mas, berapa? Saya mau bayar.”
”Apa saja tadi pesanannya, Mas?”
”Kopi pahit satu dan seporsi pisang goreng.’’
’’Dua puluh lima ribu, Mas.”
“Oya, Mas. Maaf, kalau boleh tahu siapa lelaki yang duduk di pojok itu? Sudah beberapa kali saya datang, dia selalu duduk di sana, dan seperti bicara sendiri.”
”Oh, Mas Mahli. Dia itu penyair, Mas. Tapi setahun yang lalu kekasihnya pergi meninggalkannya, tepat di tempat dia duduk itu,” sambil menunjuk tempat duduk Mahli.
“Sejak itu dia memang selalu duduk di situ, dan belakangan memang sering bicara sendiri.’’
’’Kasihan, ya, Mas.’’
’’Ya, kasihan memang,” sambil mengembalikan uang kembalian, lalu lanjut bicara, “Mas tahu? Sering saya coba mengisi cangkirnya dengan kopi, tapi dia selalu menolak. Jujur kami sungkan mengusirnya. Selain dia tidak mengganggu pelanggan kami, kedai ini juga kesudahannya tak pernah sepi sejak dia duduk di situ. Dia sering membagikan puisi-puisinya kepada pengunjung, dan pengunjung juga senang dengan puisi-puisinya.”
”Oya? Boleh saya minta sebuah puisi kepadanya, Mas?
”Ya, coba saja, Mas. Pasti dia akan memberikan puisinya dengan senang hati.”
Tampak penyair itu menulis sebuah puisi. Serius sekali dia, seperti sedang menulis puisi tentang seseorang yang begitu amat dia cinta. Amat dia rindukan.
Ilham Wahyudi,
Lahir di Medan, Sumatera Utara.Salah seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Seorang Fundraiser di Adhigana Fundraising. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan banyak yang ditolak redaksi.