Banjir dan tanah longsor akibat badai tropis dalam beberapa hari terakhir menewaskan lebih dari 1.140 orang di Indonesia, Sri Lanka, Thailand, dan Malaysia.
Basarnas mengerahkan Kapal Negara (KN) SAR Ganesha beserta ribuan personel dan logistik untuk memperkuat operasi penanganan banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
KAI mempercepat normalisasi jalur kereta terdampak banjir di Sumatera untuk jaga keselamatan perjalanan.
BNPB menyampaikan, jumlah terbaru korban tewas imbas banjir di Sumatera telah tembus sebanyak 593 orang per 17.38 WIB, Senin (1/12/2025).
KAI batalkan 20 perjalanan kereta di Sumut–Aceh imbas banjir.
Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti Posko Pengungsian di Desa Bambel Baru, Kabupaten Aceh Tenggara, Senin (01/12/2025), saat Presiden Prabowo Subianto tiba menyapa warga.
Update! Jumlah korban tewas usai banjir dan badai di Thailand, Sri Lanka, dan Indonesia sudah tembus 900 orang lebih.
Hingga kini terdapat ratusan warga yang dinyatakan hilang, dan banyak yang masih terisolasi karena terputusnya akses darat. BNPB telah merilis nomor darurat yang dapat dihubungi.
Presiden Prabowo Subianto mengecek langsung penanganan dampak banjir yang melanda wilayah Sumatera, Senin (1/12/2025). Prabowo ingin memastikan penanganan cepat bagi warga terdampak.
Jumlah korban meninggal dalam bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar, terus bertambah. Begitu juga dampak bencana di tiga provinsi, semakin meluas.
Menurut keterangan resmi, Presiden Prabowo menuju Bandara Raja Sisingamangaraja XII, Tapanuli Utara, sebagai bentuk respons cepat pemerintah terhadap bencana yang mengakibatkan ratusan korban jiwa.
BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara (Sumut), bertambah menjadi 166 jiwa.
Hujan deras memicu banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Asia Selatan. Bencana ini ini menewaskan sedikitnya 600 jiwa dan jutaan orang terdampak.
Dony menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang menelan ratusan korban jiwa tersebut bukan disebabkan faktor alam semata, melainkan ulah manusia yang merusak kawasan hutan.
Gus Yahya menyebut bencana berturut-turut yang menelan korban jiwa, menyebabkan luka-luka, serta merusak permukiman masyarakat sebagai ujian berat yang harus dihadapi dengan sikap empati dan kebersamaan.