Banjir-Longsor di Indonesia, Sri Lanka, Thailand, dan Malaysia Tewaskan 1.140 Orang
Thomas Pulungan







Presiden RI Prabowo Subianto meninjau langsung bencana di Sumatera pada Senin (1/12) dan menegaskan pemerintah memprioritaskan percepatan distribusi bantuan, terutama ke desa-desa yang terisolasi.
“Ada beberapa desa yang terisolasi yang, Insya Allah bisa kita capai,” ujar Prabowo dikutip Al Jazeera, seraya menambahkan bahwa pemerintah mengerahkan helikopter dan pesawat untuk mendukung operasi bantuan.
Prabowo mendapat tekanan yang semakin besar untuk menetapkan status darurat nasional sebagai respons atas banjir dan longsor yang telah menewaskan sedikitnya 604 orang, sementara 464 lainnya masih hilang.
Meski ia mengatakan “yang terburuk telah berlalu”, BMKG memprakirakan hujan sedang hingga lebat, petir, dan angin kencang di sekitar Jakarta, serta badai petir di Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan.
Pemerintah Indonesia telah mengirim dua kapal rumah sakit dan tiga kapal perang yang membawa bantuan ke sejumlah wilayah paling terdampak, di mana banyak jalan masih tidak dapat dilalui.
Sementara Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian mengatakan pemerintah tidak sepenuhnya siap menghadapi skala bencana tersebut.
Di Desa Sungai Nyalo, sekitar 100 km dari Padang, ibu kota Sumatra Barat, banjir sebagian besar telah surut pada Minggu, menyisakan rumah, kendaraan, dan tanaman yang dilapisi lumpur abu-abu tebal.
“Kebanyakan warga memilih tetap tinggal; mereka tidak ingin meninggalkan rumah mereka,” kata Idris (55), kepada kantor berita AFP.
Sri Lanka Mencari Bantuan
Di Sri Lanka, pemerintah meminta bantuan internasional dan menggunakan helikopter militer untuk menjangkau warga yang terjebak banjir dan tanah longsor akibat Siklon Ditwah.
Sedikitnya 366 orang telah tewas, menurut otoritas setempat, dan 367 lainnya masih hilang. Seorang pilot helikopter kehilangan nyawa saat melakukan pendaratan darurat dalam misi mendukung komunitas terdampak banjir di Lunuwila, utara Colombo, menurut Angkatan Udara Sri Lanka dalam unggahan di Facebook pada Senin.
Pejabat setempat mengatakan tingkat kerusakan di kawasan tengah yang paling terdampak baru terlihat setelah relawan membuka akses jalan yang tertutup pohon tumbang dan longsor.
Presiden Anura Kumara Dissanayake, yang telah menetapkan status darurat untuk menangani bencana tersebut, berjanji akan membangun kembali. “Kita sedang menghadapi bencana alam terbesar dan paling menantang dalam sejarah kita,” katanya dalam pidato.
“Ini adalah krisis kemanusiaan berskala bersejarah,” ujar Sampath Kotuwegoda, Direktur Jenderal Pusat Manajemen Bencana, kepada Al Jazeera, seraya menambahkan bahwa seluruh 25 distrik di negara itu terdampak.
Tim penyelamat dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Jepang telah tiba untuk membantu respons darurat, namun pejabat mengatakan masih diperlukan lebih banyak dukungan.
Korban Tewas meningkat di Thailand Selatan
Otoritas Thailand pada Senin mengatakan jumlah korban tewas akibat banjir yang masih berlangsung di wilayah selatan meningkat menjadi sedikitnya 176 orang.
Pemerintah telah menerapkan berbagai langkah bantuan, namun kritik publik terhadap respons banjir semakin meningkat, dan dua pejabat lokal telah ditangguhkan atas dugaan kelalaian, menurut AFP.
Save the Children memperkirakan sekitar 76.000 anak saat ini belum dapat kembali ke sekolah. Layanan publik perlahan pulih di Provinsi Songkhla, tempat 131 orang meninggal dunia.
Sementara itu, 80 persen pasokan air bersih telah pulih dan layanan penuh diperkirakan kembali normal pada pertengahan minggu, menurut Thai Enquirer.
Di Malaysia, hujan deras juga merendam wilayah luas di negara bagian Perlis, dengan sedikitnya tiga orang tewas.
Tahun Penuh Banjir yang Mematikan
Banjir dan tanah longsor pekan ini menjadi rangkaian terbaru dari cuaca ekstrem yang menghantam Asia Tenggara dalam beberapa minggu terakhir, termasuk dua topan yang melanda Filipina dalam rentang satu minggu bulan lalu, menewaskan sedikitnya 242 orang.
Banjir yang melanda Indonesia, Thailand, dan Malaysia juga diperparah oleh badai tropis langka yang mengguyur Pulau Sumatera dengan curah hujan tinggi.
Perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi badai serta menghasilkan lebih banyak kejadian hujan ekstrem karena atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air.
Alexander Matheou, Direktur Asia-Pasifik Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, mengatakan negara-negara sangat membutuhkan sistem peringatan dini yang lebih baik, tempat perlindungan bagi warga saat banjir, lebih banyak solusi berbasis alam dan sistem perlindungan sosial dalam keadaan bencana.
“Banjir-banjir ini menjadi pengingat keras bahwa bencana yang dipicu iklim kini menjadi hal normal yang baru. Investasi dalam ketahanan dan kesiapsiagaan sangat penting,” tandasnya.

