Search

Daging Kultur Jadi Alternatif Protein Masa Depan, Pakar Soroti Tantangan Halal hingga Biaya Produksi

JAKARTA, (ERAKINI) - Lab-grown meat atau inovasi daging kultur sebagai alternatif sumber protein masa depan terus menjadi perbincangan hangat di bidang bioteknologi pangan. Teknologi ini dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan, namun masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum dapat diterapkan secara luas di Indonesia.

Pakar bioteknologi sekaligus dosen Universitas Brawijaya, Mochamad Nurcholis mengatakan beberapa yang disorot terkait lab-grown meat tersebut yakni soal aspek keamanan, efisiensi biaya, hingga kepastian regulasi halal.

Namun, kata Nurcholis, tantangan utama terletak pada pemenuhan standar etika dan kehalalan, khususnya terkait penggunaan Fetal Bovine Serum (FBS) dalam media kultur sel.

“Saat ini, industri bioteknologi telah mengembangkan media kultur bebas unsur hewani (animal-free) berbasis protein nabati, ragi, maupun mikroalga yang lebih etis dan berpotensi memenuhi kriteria halal,” ujarnya seperti dikutip erakini, Kamis (19/3/2026). 

Ia menjelaskan, secara teknologi penggunaan FBS sebenarnya sudah mulai ditinggalkan. Namun, dalam konteks Indonesia, aspek kehalalan tetap memerlukan kajian mendalam.

“Secara teknologi sudah memungkinkan untuk meninggalkan FBS, namun untuk konteks kehalalan di Indonesia tetap memerlukan fatwa khusus, audit sumber sel awal, dan konsistensi proses produksi sesuai prinsip syariah,” tuturnya.

Di sisi yang lain, Nurcholis menegaskan bahwa kekhawatiran masyarakat terkait risiko mutasi sel atau potensi pemicu tumor dari konsumsi daging kultur tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Menurut dia, sel yang dikonsumsi merupakan sel otot yang sudah tidak hidup dan tidak mampu bereplikasi, serupa dengan karakteristik daging konvensional setelah melalui proses pengolahan.

“Keamanan produk ini dijamin melalui kontrol ketat pada lini sel, monitoring stabilitas genetik selama proses kultur, serta prosedur panen yang membuat sel tidak aktif secara biologis,” ungkapnya.

Dia juga menungkapkan bahwa secara biologis, sel dari daging kultur tidak dapat berintegrasi dengan sel tubuh manusia yang mengkonsumsinya.