Search

Datuk Maulana Hussein, Simbol Penyebaran Islam di Kawasan Timur Nusantara

JAKARTA, (ERAKINI) - Islam tidak hanya berkembang di wilayah barat Nusantara seperti Jawa dan Sumatera. Di kawasan timur Indonesia, khususnya Maluku Utara, agama ini juga tumbuh pesat melalui peran kerajaan-kerajaan lokal seperti Ternate dan Tidore.

Salah satu tokoh penting dalam proses penyebaran Islam di wilayah tersebut adalah Datuk Maulana Hussein, seorang ulama yang dikenal berperan besar dalam dakwah di Ternate pada abad ke-15.

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia III karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto disebutkan bahwa sejak abad ke-14, Kerajaan Majapahit telah menjalin hubungan pelayaran dan perdagangan dengan Ternate dan Tidore. Hubungan itu berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa, seperti Tuban dan Gresik.

Pada masa itu, pelabuhan-pelabuhan di bawah kekuasaan Majapahit sudah ramai didatangi para pedagang Muslim. Interaksi perdagangan inilah yang kemudian membuka jalan bagi penyebaran Islam ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk Maluku Utara.

Pada 1465, Datuk Maulana Hussein disebut tiba di Ternate. Ia dikenal sebagai ulama yang dihormati dan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan suara merdu.

Beberapa sumber menyebutkan Maulana Hussein berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, sebelum akhirnya menetap di Gresik, Jawa Timur. Dari sana ia berlayar menuju Ternate tidak hanya untuk berdagang, tetapi juga menyebarkan ajaran Islam.

Kehadirannya menarik perhatian masyarakat setempat. Banyak penduduk Ternate datang ke kediamannya untuk mendengarkan lantunan tilawah Al-Qur’an. Ketertarikan itu kemudian mendorong mereka mempelajari ajaran Islam lebih jauh.

Dalam aktivitas dakwahnya, Maulana Hussein membuka pengajian dan tempat belajar bagi masyarakat yang ingin memahami Islam. Ia mengajarkan cara membaca Al-Qur’an sekaligus menjelaskan ajaran-ajaran dasar agama tersebut.

Metode dakwah yang ia gunakan tergolong sederhana namun efektif. Selain mengadakan pengajian, Maulana Hussein kerap melakukan tilawah Al-Qur’an pada malam hari. Lantunan bacaannya yang merdu membuat banyak warga berkumpul untuk mendengarkan.

Ia juga memanfaatkan pendekatan budaya dan sosial dengan menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat. Cara ini membantu membangun kepercayaan sehingga ajaran Islam dapat diterima lebih luas.

Seiring meningkatnya jumlah pemeluk Islam, Maulana Hussein juga berperan dalam pendirian masjid dan pesantren. Tempat-tempat tersebut kemudian menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus pendidikan agama bagi masyarakat.

Pengaruh dakwahnya bahkan menjangkau lingkungan istana. Penguasa Ternate saat itu, Kolano Marhum, diketahui menjalin hubungan baik dengan Maulana Hussein.

Hubungan tersebut membuka jalan bagi penyebaran Islam di kalangan elite kerajaan. Pada akhirnya Kolano Marhum memutuskan memeluk Islam setelah mengucapkan kalimat syahadat.

Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam proses islamisasi di Ternate. Dukungan dari penguasa membuat ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

Setelah memeluk Islam, Marhum menjadi raja pertama Ternate yang secara resmi mengadopsi agama tersebut. Maulana Hussein kemudian mengajarkan tata cara salat dan bacaan Al-Qur’an kepada keluarga istana serta para pejabat kerajaan.

Marhum bahkan memerintahkan rakyatnya untuk mengikuti agama yang sama, sehingga Islam berkembang lebih cepat di wilayah tersebut.

Setelah Marhum wafat pada 1486, kepemimpinan kerajaan dilanjutkan oleh putranya, Zainal Abidin. Ia dikenal sebagai murid Maulana Hussein yang kemudian memperkuat posisi Islam dalam pemerintahan Ternate.

Di masa pemerintahannya, gelar penguasa yang sebelumnya disebut kolano atau raja diubah menjadi sultan. Zainal Abidin juga membentuk lembaga-lembaga keagamaan untuk mendukung penerapan syariat Islam di lingkungan kerajaan.

Zainal Abidin memerintah Ternate antara 1486 hingga 1500 dan dikenal sebagai penguasa pertama yang menggunakan gelar sultan. Reformasi pemerintahan yang ia lakukan menjadikan Ternate sebagai kerajaan bercorak Islam.

Dalam catatan sejarah, Zainal Abidin juga pernah berangkat ke Jawa pada 1494 untuk memperdalam ilmu agama. Ia belajar di pesantren milik Sunan Giri.

Dalam perjalanan itu ia membawa cengkih dari Bulawa, Gorontalo, sehingga mendapat julukan Sultan Bulawa atau Sultan Cengkih.

Sepulang dari Jawa, Zainal Abidin membawa sejumlah ulama untuk membantu mengembangkan Islam di Ternate. Salah satu di antaranya adalah Tuhubahanul.

Di bawah kepemimpinannya, sistem pemerintahan Ternate mulai disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam, termasuk penerapan hukum Islam dalam kehidupan masyarakat.

Perkembangan Islam di Maluku Utara pun semakin pesat pada masa tersebut. Setelah Sultan Zainal Abidin wafat pada 1500, kepemimpinan Kesultanan Ternate dilanjutkan oleh putranya, Sultan Bayanullah.

Sejak saat itu, Ternate berkembang sebagai salah satu pusat kekuatan Islam di kawasan timur Nusantara.