JAKARTA, (ERAKINI) - Dalam rangkaian ibadah haji, terdapat satu kalimat sakral yang menjadi penanda kepasrahan total seorang Muslim kepada Allah SWT, yakni talbiyah. Bacaan ini bukan sekadar ucapan, melainkan pernyataan tauhid yang menggema di antara jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia.
Talbiyah dibaca sejak jemaah meniatkan ihram untuk haji atau umrah, dan terus dilantunkan selama mereka berada di tanah halal hingga memasuki kawasan Masjidil Haram. Bacaan ini menjadi simbol kesiapan spiritual jemaah untuk memenuhi panggilan suci Allah SWT.
Talbiyah disunnahkan untuk dibaca secara lantang dan terus-menerus, dimulai sejak mengenakan ihram hingga pelaksanaan lempar jumrah aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik laa syarika laka labbaik, Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, Laa syarika lak
Artinya : Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sungguh, segala puji, nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.
Bagi jamaah haji atau umrah membaca talbiyah dilakukan dengan keras dan lantang sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amru bin Hazm dari Abdul Malik bin Abu Bakar bin Al Harits bin Hisyam dari Khallad bin As Sa`ib Al Anshari dari Bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ خَلَّادِ بْنِ السَّائِبِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَوْ مَنْ مَعِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ أَوْ بِالْإِهْلَالِ يُرِيدُ أَحَدَهُمَا
Artinya: Jibril mendatangiku dan menyuruhku agar memerintahkan kepada para sahabatku, atau siapa saja yang bersamaku untuk meninggikan suaranya saat talbiyah atau berihram." Yang dimaksud oleh perawi adalah salah satunya (HR Imam Malik)
Hadits lain yang diriwayatkan Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami hamad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas radhiyallahu' Rasulullah SAW bersabda
حَدَّ ثَناَ سُلَيْماَ نُ بْنُ حَرْ بٍ حَدَّ ثَناَ حَمَّا دُ بِنْ زَيْدٍ أَيُّو بَ عَنْ أَبِي قِلاَ بَةَ عَنْ أَنَسٍ رَ ضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَلَ صَلَّي النَّبِيُّ صَلَّي اللّٰهُ عَلَيّهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ اَ لْظُّهْرَ أََرْبَعًا وَا لْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَ كْعَتَيْنِ وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُ خُوْنَ بِهِمَا جَمِيْعاً
Artinya : Nabi melaksanakan shalat duhur di Madinah empat rakaat dan shalat asar di Dzul Hulafiah dua rakaat. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya haji dan umrah (HR Bukhari)
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa membaca talbiyah pada saat melaksanakan haji dan umrah harus dikeraskan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Sebab dalam kalimat talbiyah berisi pemurnian peribadatan hanya kepada Allah dan membuang kemusyrikan.
Demikian uraian dan bacaan talbiyah yang bisa diamalkan oleh umat Islam yang akan melaksanakan Ibadah Haji. Wallahua'lam.