TEHERAN, (ERAKINI) – Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan gugur dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel pada fase awal operasi militer yang menargetkan wilayah Iran, Sabtu (28/2/2026). Kabar tersebut pertama kali diangkat oleh media Israel, Ma'ariv.
Menurut laporan tersebut, Ahmadinejad disebut berada dalam status tahanan rumah saat serangan terjadi. Serangan udara itu dikabarkan menyasar langsung kediamannya.
Sosok dari Wali Kota ke Puncak Kekuasaan
Ahmadinejad menjabat sebagai presiden keenam Iran pada periode 2005–2013. Ia mencuat dari panggung politik sebagai Wali Kota Teheran sebelum secara mengejutkan mengalahkan tokoh senior Iran, Akbar Hashemi Rafsanjani, dalam putaran kedua pemilu 2005.
Pemilihan ulangnya pada 2009 memicu gelombang demonstrasi besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau Iran. Aksi protes tersebut menjadi salah satu krisis domestik paling serius dalam sejarah Republik Islam dan ditindak tegas oleh aparat keamanan.
Selama masa jabatannya, Ahmadinejad dikenal luas sebagai figur garis keras dengan sikap konfrontatif, terutama dalam isu nuklir dan hubungan luar negeri. Pemerintahannya menghadapi sejumlah sanksi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait program nuklir Iran, yang semakin memperdalam isolasi ekonomi Teheran. Di bidang ekonomi, kebijakannya kerap dikritik karena memicu lonjakan inflasi dan ketidakstabilan finansial.
Retorika Anti-Israel dan Kontroversi Global
Ahmadinejad menjadi sorotan internasional karena pernyataan-pernyataannya yang keras terhadap Israel. Dalam konferensi tahun 2005 bertajuk “Dunia Tanpa Zionisme,” ia mengutip pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, yang menyebut Israel sebagai “rezim pendudukan Yerusalem” dan menyatakan bahwa negara tersebut “harus dihapus dari peta.”
Pada 2006, pemerintahannya juga menggelar konferensi di Teheran yang menuai kecaman luas karena dianggap memberi ruang bagi penyangkalan Holocaust.
Pendukung Ahmadinejad kemudian berargumen bahwa terjemahan dan konteks ucapannya kerap diperdebatkan. Namun, para pengkritik menilai retorikanya jelas memperkeruh ketegangan regional dan memperburuk citra Iran di mata dunia.
Kematian Ahmadinejad dalam serangan udara ini menandai babak baru dalam eskalasi konflik di kawasan. Ia meninggalkan warisan politik yang kompleks, dipandang oleh sebagian sebagai simbol ketegasan ideologis, tetapi oleh banyak pihak sebagai figur yang memperdalam isolasi dan ketegangan internasional Iran.