DUBAI, (ERAKINI) - Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa negaranya harus memanfaatkan kekuatan strategis dengan menutup Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (12/3/2026) dalam pidato resmi pertamanya sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Melansir Arab News, dalam pesan yang dibacakan melalui televisi pemerintah, Khamenei menekankan bahwa Teheran tetap menginginkan hubungan yang bersahabat dengan negara-negara di kawasan. Ia mengeklaim bahwa operasi militer Iran hanya menyasar pangkalan militer milik Amerika Serikat yang berada di wilayah negara-negara tetangga.
Namun demikian, sejumlah laporan menyebutkan bahwa beberapa serangan yang terjadi juga menghantam target sipil serta fasilitas yang berkaitan dengan industri minyak di negara-negara Teluk.
Khamenei yang berusia 56 tahun tidak tampil langsung di layar televisi. Menurut penilaian dari Israel, ia kemungkinan mengalami luka dalam serangan awal yang memicu konflik bersenjata tersebut.
Dalam pernyataannya, Khamenei juga berjanji akan membalas kematian para korban perang, termasuk korban yang gugur akibat serangan terhadap sebuah sekolah. Ia menegaskan bahwa Iran akan menuntut kompensasi dari musuhnya, yang secara jelas merujuk pada Amerika Serikat. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, ia mengancam Iran akan menyita atau bahkan menghancurkan aset milik AS sebagai bentuk pembalasan setimpal.
Serangan Berlanjut, Harga Minyak Melonjak
Ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk Arab membuat harga minyak dunia kembali meroket. Serangkaian serangan Iran terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur energi menyebabkan harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel pada Kamis (12/3/2026).
Sementara itu, serangan balasan dari Amerika Serikat dan Israel terus menghantam wilayah Republik Islam Iran tanpa menunjukkan tanda-tanda konflik akan segera berakhir. Perang tersebut diketahui mulai pecah pada 28 Februari setelah gelombang pemboman yang melibatkan kedua pihak.
Iran disebut berupaya menimbulkan tekanan ekonomi global melalui gangguan terhadap jalur energi internasional. Tujuannya adalah memaksa Washington dan Tel Aviv menghentikan operasi militer mereka.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa serangan akan tetap berlanjut sampai negaranya memperoleh jaminan keamanan dari kemungkinan agresi baru. Pernyataan itu menunjukkan bahwa bahkan kesepakatan gencatan senjata atau klaim kemenangan dari pihak Amerika belum tentu mampu mengakhiri konflik.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan tekadnya untuk “menuntaskan operasi,” meskipun ia mengklaim kondisi Iran saat ini sudah hampir lumpuh akibat serangan militer.