Search

Kisah Muhammad Surdi: dari Kunci Inggris ke Setir Bus Haji

MAKKAH, (ERAKINI) - Badannya tegap dan gempal, namun raut wajahnya selalu dihiasi senyum hangat. Muhammad Surdi dengan sigap dan ramah menyapa setiap jemaah haji Indonesia yang hendak menaiki Bus Selawat—kendaraan yang mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram.

“Sehat, Pak?” sapa pengemudi Bus Selawat asal Lebak, Banten itu kepada tim Media Center Haji (MCH) saat ditemui di depan Al-Hidayah Tower, Aziziyah, Makkah, Sabtu (2/5/2026).

Muhammad Surdi adalah Warga Negara Indonesia (WNI) asal Lebaksiuh, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Saat ini, pria 45 tahun tersebut menjadi Mukimin yang tinggal di Udaibiyah. 

Sapaan sederhana dan sikap bersahajanya membuat siapa pun yang berinteraksi dengannya merasa lebih nyaman, seolah disambut oleh sosok yang sudah akrab di tengah perjalanan ibadah di Tanah Suci.

Mengetahui Surdi merupakan sesama orang Indonesia, percakapan kami pun berlanjut lebih hangat. Tim MCH mencoba menggali kisah di balik perjalanan hidup Muhammad Suhri hingga bisa bekerja di Tanah Haram.

Dengan senyum tipis, pria yang akrab disapa Kang Surdi itu mengaku sudah 15 tahun berada di Arab Saudi. 

“Saya sudah 15 tahun, Kang, di sini,” ujarnya.

Ia menuturkan, hampir setiap tahun dirinya terlibat dalam pelayanan jemaah haji, sebuah pekerjaan yang menurutnya penuh makna. Awal mula menjadi mukimin di Tanah Suci dimulai sekitar tahun 2011. 

Dengan tekad kuat, ia merantau demi mencari penghidupan yang lebih layak untuk keluarganya di kampung halaman.

Namun perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Pandemi Covid-19 pada 2019-2020 memaksanya pulang ke Indonesia. Di kampungnya di Malingping, Banten, ia mencoba peruntungan dengan membuka bengkel motor. Sayangnya, usaha tersebut tidak berkembang seperti yang diharapkan.

“Saya di rumah buka bengkel, itu juga baru dua tahun. Tadinya 2015 pernah di Saudi. Nah, tahun 2020 pulang karena Corona. Di rumah tiga tahun merintis usaha, terus modalnya kecil, akhirnya ke Saudi lagi,” tuturnya.

Keputusan untuk kembali ke Arab Saudi menjadi titik balik. Ia kemudian melamar pekerjaan ke perusahaan layanan transportasi atau syarikah, hingga akhirnya dipercaya menjadi sopir Bus Selawat.

Bagi Kang Surdi, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah. Ia merasakan keberkahan tersendiri karena bisa melayani tamu Allah sekaligus menunaikan ibadah haji secara resmi.

Alhamdulillah, Kang, saya sudah sekitar empat kali haji,” ungkapnya.

Di awal masa kerjanya, ia sempat menghadapi tantangan bahasa. Ia belum bisa berkomunikasi dalam Bahasa Arab. Namun seiring waktu dan pengalaman, kini ia mampu berinteraksi dengan baik.

Lebih dari itu, semangatnya dalam bekerja tak pernah surut. Latar belakangnya sebagai mantan montir yang terbiasa bekerja keras membuatnya tangguh menghadapi ritme kerja yang padat. Meski Bus Selawat beroperasi 24 jam, ia mengaku tidak merasa lelah.

“Ya Alhamdulillah lah, Kang,” katanya singkat, penuh syukur.

Soal cuaca ekstrem di Arab Saudi, Kang Surdi mengaku sempat kaget dengan teriknya suhu. Namun kini ia sudah beradaptasi, meski sesekali masih merasakan dampaknya seperti batuk.

“Kadang-kadang batuk, soalnya panas, beda. Tapi sekarang sudah terbiasa, alhamdulillah,” tutupnya.