Prof Ishom: Hari Santri Bukan Hanya Milik Santri, tetapi Seluruh Rakyat Indonesia
Abdul Rahman Ahdori
SERANG, (ERAKINI) - Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Prof Muhammad Ishom, menegaskan bahwa Hari Santri Nasional bukan hanya milik kalangan santri atau Kementerian Agama, melainkan seluruh rakyat Indonesia.
Menurut Prof Ishom, peringatan Hari Santri telah menjadi bagian penting dari sejarah nasional. Hal itu terlihat dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah hingga masyarakat sipil, dalam memeriahkan peringatan tersebut.
"Ini membuktikan bahwa Hari Santri tidak lagi hanya milik kaum santri. Hari Santri bukan hanya milik Kementerian Agama, tetapi sejatinya harus dirayakan oleh seluruh warga Indonesia," kata Prof Muhammad Ishom dalam orasi kesantrian pada peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang di Masjid Agung Ats Tsauroh, Kota Serang, Jumat (23/10/2026).
Prof Ishom mengungkapkan bahwa masih ada sebagian kalangan yang memperingati Hari Santri dengan setengah hati. Padahal, menurut dia, peran santri dalam memperjuangkan dan membentuk Indonesia sangat besar sehingga sudah selayaknya mendapat pengakuan dari seluruh masyarakat.
Lebih jauh, Prof Ishom menerangkan, istilah "Jawi" yang pernah dikenal dalam sejarah Nusantara sebenarnya memiliki peluang untuk dipertahankan sebagai identitas bangsa. Namun, para santri memilih menerima identitas Indonesia sebagai simbol persatuan nasional.
Masyarakat Nusantara kala itu juga telah mengenal aksara Jawi atau pegon. Meski memiliki tradisi literasi sendiri, para santri menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan demi memperkuat persaudaraan antardaerah.
"Bukan karena tidak mampu mempertahankan tradisi sendiri, tetapi karena santri memiliki sikap legawa dan mengutamakan kepentingan bangsa," ujarnya.
Tak hanya itu, tadisi keilmuan pesantren menunjukkan kemampuan para santri dalam mengadaptasi ilmu-ilmu bahasa Arab ke dalam aksara pegon. Menurut dia, hal tersebut menjadi bukti bahwa pesantren memiliki kualitas intelektual yang tinggi sejak masa lampau.
Atas dasar itu, Prof Ishom menegaskan bahwa Hari Santri tidak seharusnya dipandang sebagai agenda kelompok atau organisasi tertentu.
"Hari Santri bukan hanya milik Nahdlatul Ulama atau kaum santri. Hari Santri adalah milik negara Indonesia," tegasnya.
Pesantren sebagai Model Pendidikan Asli Indonesia
Selain membahas sejarah perjuangan santri, Prof Ishom menyoroti posisi pesantren dalam perkembangan sistem pendidikan nasional. Dia menilai pesantren merupakan model pendidikan asli Indonesia yang telah berkembang jauh sebelum sistem sekolah modern dikenal luas.
Menurut Prof Ishom, pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan melalui kehidupan sehari-hari.
Pola pendidikan pesantren yang berlangsung selama 24 jam, lanjut Prof Ishom, memberikan pengalaman pembelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam sistem pendidikan formal pada umumnya.
Dia bahkan mengaitkan nilai-nilai pendidikan yang diterapkan di pesantren dengan filosofi pendidikan nasional yang dikenal melalui semboyan Tut Wuri Handayani.
Meski memiliki kontribusi besar, Prof Ishom menilai pesantren masih membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, terutama dalam hal akses pendidikan, pengakuan kompetensi, dan penyediaan fasilitas pendukung.
Dia menyebut para santri memiliki potensi untuk berkembang di berbagai bidang, termasuk teknologi informasi. Namun, potensi tersebut perlu didukung kesempatan dan sarana yang memadai.
"Saya berharap pemerintah memberikan akses yang lebih luas kepada pesantren. Santri memiliki potensi besar dan tidak akan tertinggal apabila memperoleh kesempatan yang sama," katanya.


















