Hujan Lebat Guyur Palembang setelah 3 Bulan Kemarau, Warga Sambut dengan Sukacita
Thomas Pulungan
PALEMBANG, (ERAKINI) — Hujan lebat mulai mengguyur sejumlah kawasan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu (24/10/2026). Hujan yang turun setelah lebih dari tiga bulan kemarau panjang itu disambut sukacita oleh masyarakat yang selama ini menghadapi kekeringan, kesulitan air bersih, hingga kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Alhamdulillah, hari ini hujan mulai turun setelah beberapa bulan Kota Palembang dilanda kekeringan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan," kata Fudin, warga Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, dikutip dari Antara.
Menurut Fudin, hujan lebat yang mulai turun sekitar pukul 15.30 WIB tersebut menjadi berkah bagi masyarakat. Selain membantu mengatasi kesulitan air bersih, hujan diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran lahan yang marak terjadi selama musim kemarau panjang.
Ia mengatakan, kabut asap akibat kebakaran lahan telah menyelimuti Palembang selama beberapa bulan terakhir dan mengganggu kesehatan masyarakat.
"Akibat kemarau panjang, kabut asap kebakaran lahan menyelimuti Kota Palembang selama beberapa bulan terakhir hingga mengganggu kesehatan masyarakat," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Yuli, warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu, Palembang. Ia mengungkapkan, selama kemarau, warga setempat kesulitan memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut memaksa mereka membeli air dengan harga relatif mahal.
"Dengan turunnya hujan hari ini kami sangat senang karena tidak lagi harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa hari ke depan," kata Yuli.
Dinamika Atmosfer dan Modifikasi Cuaca
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan telah terdeteksi melalui pengamatan radiosonde atau profil atmosfer yang dilakukan BMKG pada Sabtu (24/10) pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan pengamatan tersebut, dinamika pergerakan angin vertikal turut berperan dalam memecah lapisan inversi, yakni lapisan atmosfer yang menghambat pergerakan udara vertikal. Kondisi inversi sebelumnya berkontribusi terhadap terperangkapnya polutan asap di dekat permukaan tanah.
Selain dipengaruhi dinamika atmosfer, potensi hujan juga didukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hibrida oleh tim gabungan. Upaya tersebut dilakukan melalui penyemaian bahan tertentu di atmosfer, termasuk natrium klorida (NaCl), untuk membantu merangsang pembentukan awan hujan.
Tim gabungan juga dilaporkan menggunakan material dry ice atau karbon dioksida padat dalam upaya penanganan kabut asap akibat karhutla di Sumatera Selatan.
"Hujan di Palembang dan sekitarnya hari ini dapat kami sampaikan bahwa secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan dan ditambah dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl. Memang secara data model pada 24 Oktober 2026 diprakirakan akan ada potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC," jelas Siswanto.
Sebelumnya, BMKG memprakirakan wilayah Sumatera Selatan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan November 2026. Dengan demikian, hujan yang mengguyur Palembang pada Sabtu menjadi perkembangan yang dinantikan masyarakat setelah berbulan-bulan menghadapi kemarau dan dampak karhutla.
Meski demikian, hujan yang turun di sejumlah kawasan belum serta-merta menandakan berakhirnya musim kemarau. Pemantauan kondisi cuaca dan perkembangan karhutla tetap diperlukan untuk memastikan dampaknya terhadap kualitas udara serta ketersediaan air bersih bagi masyarakat.


















