Profil Martha Tilaar, Pendiri Sariayu yang Meninggal Dunia pada Usia 89 Tahun
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Kabar duka datang dari industri kecantikan Indonesia. Pendiri Martha Tilaar Group sekaligus tokoh di balik merek kosmetik Sariayu, Martha Tilaar, meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026) dalam usia 89 tahun.
Martha mengembuskan napas terakhir pada pukul 06.22 WIB di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Kabar meninggalnya perempuan kelahiran 4 September 1937 itu disampaikan oleh keluarga besar Martha Tilaar Group melalui pernyataan resmi di Instagram.
Martha rencananya dimakamkan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, pada Jumat (16/10/2026). Semasa hidupnya, Martha dikenal sebagai pengusaha yang berhasil mengembangkan industri kosmetik, perawatan tubuh, dan jamu berbasis kekayaan tradisional Indonesia hingga dikenal di pasar internasional.
Profil Martha Tilaar
Dilansir dari berbagai sumber, Martha Tilaar lahir di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ia menempuh pendidikan di IKIP Jakarta dan memulai perjalanan kariernya sebagai guru pada 1958.
Selain menjadi pendidik, Martha kemudian menekuni bidang kecantikan hingga akhirnya membangun bisnis kosmetik yang berkembang menjadi Martha Tilaar Group.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan bisnisnya adalah pendirian PT Martina Berto bersama Kalbe Farma. Perusahaan tersebut menjadi salah satu fondasi pengembangan produk kosmetik dan jamu yang dipasarkan dengan merek Sariayu.
Pada 22 Desember 1981, PT Martina Berto meresmikan pabrik pertamanya yang diresmikan oleh Menteri Perindustrian saat itu, Adam Malik.
Dua tahun setelah berdiri, perusahaan tersebut memperoleh penghargaan tertinggi dalam The First Asian Beauty Congress and Exhibition di Singapura.
Pada 1984, Martha juga mendapatkan gelar doktor kehormatan di bidang Fashion Artistry dari The World University, Tucson, Arizona, Amerika Serikat.
Pada 1983, Martha mendirikan PT Sari Ayu Indonesia yang secara khusus bertugas mendistribusikan produk kosmetik Sariayu Martha Tilaar.
Ekspansi bisnis berlanjut pada 1986 dengan pembukaan pabrik kedua di Jalan Pulo Kambing II/1, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. Pabrik tersebut diresmikan oleh Karlinah Umar Wirahadikusumah, istri Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah.
Mengembangkan Berbagai Merek Kecantikan
Perjalanan bisnis Martha semakin berkembang pada periode 1988–1995. Pada rentang waktu tersebut, PT Martina Berto mengakuisisi sejumlah perusahaan, di antaranya PT Kurnia Harapan Raya, PT Cempaka Belkosindo Indah, PT Cedefindo, PT Estrella Lab, dan PT Kreasi Boga.
Dengan mengandalkan riset dan pengembangan melalui Martha Tilaar's Innovation Center (MTIC), perusahaan mengembangkan berbagai produk kosmetik, perawatan tubuh, spa, dan jamu.
Sejumlah merek yang dikenal luas antara lain Sariayu, Caring, Belia, Rudy Hadisuwarno Cosmetics, Biokos, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden, dan Dewi Sri Spa.
Pengembangan tersebut turut didukung oleh kegiatan penelitian yang melibatkan puluhan peneliti.
Pada 1996, Martha Tilaar Group meraih sejumlah sertifikasi dan pengakuan, termasuk ISO 9001, ISO 14000, serta sertifikasi Good Manufacturing Practices (GMP).
Pada 1999, Martha bersama keluarganya membeli seluruh saham Kalbe Farma di PT Martina Berto. Sejak saat itu, kepemilikan perusahaan sepenuhnya berada di tangan Martha dan keluarganya, sebelum kemudian dikonsolidasikan ke dalam Martha Tilaar Group.
Mendapat Pengakuan Internasional
Kontribusi Martha dalam dunia usaha juga mendapat pengakuan internasional. Pada Juli 2002, ia menerima penghargaan dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-moon, dalam UN Global Compact Leaders Summit di New York.
Penghargaan tersebut berkaitan dengan penerapan prinsip-prinsip Global Compact dalam menjalankan perusahaan, termasuk hak asasi manusia, ketenagakerjaan, pelestarian lingkungan, dan pemberantasan korupsi.
Selain mengembangkan bisnis kecantikan, Martha juga memberikan perhatian terhadap pelestarian seni dan budaya daerah. Dia mendirikan Prama Pratiwi Martha Gallery, sebuah usaha kerajinan di Sentolo, Yogyakarta. Martha juga mengembangkan Kampoeng Djamoe Organik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Pada 2014, Martha meresmikan Roemah Martha Tilaar di Gombong, Kebumen. Bangunan tersebut merupakan rumah masa kecilnya yang direnovasi dan ditata menyerupai museum sebagai bagian dari upaya melestarikan sejarah dan budaya.
Martha menikah dengan Dr. Henry Alex Rudolf Tilaar pada 1963. Dalam perjalanan kehidupan rumah tangganya, Martha pernah menghadapi tantangan terkait keinginan memiliki anak. Setelah lebih dari 11 tahun menikah tanpa dikaruniai keturunan, ia sempat dinyatakan mandul oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan di luar negeri.
Namun, Martha tidak menyerah. Ia berupaya menjalani pengobatan tradisional, termasuk mengonsumsi jamu racikan neneknya, Pranoto Liem, selama lebih dari empat tahun.
Ketika berusia 41 tahun, Martha sempat mengira dirinya memasuki masa menopause setelah berhenti menstruasi. Namun, kondisi tersebut ternyata disebabkan oleh kehamilan.
Martha kemudian melahirkan anak kandung pertamanya pada usia 42 tahun. Dalam kehidupan keluarganya, Martha memiliki empat anak, yakni dua anak angkat, Bryan Emil Tilaar dan Pingkan Engeline Tilaar, serta dua anak kandung, Wulan Maharani Tilaar dan Kilala Esra Tilaar.


















