Tambakberas: Menghidupkan Kembali Napas Perjuangan NU
Adhe HM Musa Said
Adhe HM Musa Said
Pengurus LPP PBNU, Koornas JAM PMII,
Ketua Senat STAI Al Badar Pesantren Cipulus Purwakarta,
Santri 'Ndableg' Pesantren Lirboyo
MUKTAMAR selalu menjadi peristiwa penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Perhatian publik biasanya tertuju pada siapa yang akan memimpin organisasi, bagaimana peta dukungan terbentuk, dan arah kebijakan yang akan ditempuh setelah forum berakhir. Namun, sesungguhnya Muktamar tidak pernah hanya berbicara tentang pergantian kepemimpinan.
Di atas semua dinamika itu, Muktamar adalah saat ketika Nahdlatul Ulama berhenti sejenak untuk mengingat kembali mengapa jam’iyah ini didirikan, nilai-nilai apa yang diwariskan para muassis, dan amanah apa yang harus diteruskan oleh setiap generasi.
Karena itu, penetapan Pondok Pesantren Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 tidak dapat dipahami sekadar sebagai pilihan lokasi penyelenggaraan. Ada pesan simbolik yang jauh lebih dalam. Muktamar kali ini seolah mengajak NU untuk pulang.
Pulang di sini tentu bukan kembali ke masa lalu. Sebab seseorang yang pulang tidak sedang mengulang perjalanan yang telah dilaluinya, melainkan mencari bekal agar mampu melanjutkan perjalanan berikutnya dengan arah yang lebih jelas.
Demikian pula organisasi sebesar Nahdlatul Ulama. Setelah melewati hampir satu abad perjalanan dengan berbagai dinamika sosial, politik, dan kebangsaan, NU memerlukan ruang untuk kembali menengok sumber mata air yang selama ini menghidupi seluruh gerak perjuangannya.
Tambakberas bukanlah nama yang asing dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Pesantren ini menyimpan jejak panjang pengabdian para ulama yang menghubungkan ilmu, akhlak, dan perjuangan dalam satu tarikan napas.
Dari lingkungan seperti inilah lahir tradisi yang kemudian menjadi karakter NU: musyawarah, tawaduk kepada ilmu, penghormatan kepada guru, serta keberanian menempatkan kemaslahatan umat di atas kepentingan yang bersifat sementara.
Hubungan Tambakberas dengan sejarah NU tidak dapat dilepaskan dari sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah. Bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Bisri Syansuri, beliau menjadi salah satu poros utama yang meletakkan fondasi berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.
Melalui jejaring pesantren yang dibangunnya, KH. Abdul Wahab Chasbullah mengonsolidasikan para ulama dari berbagai daerah sehingga NU lahir bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai rumah besar Ahlussunnah wal Jamaah yang bertumpu pada kekuatan ilmu, tradisi, dan persaudaraan.
Itulah sebabnya banyak warga NU memaknai Muktamar di Tambakberas lebih dari sekadar keputusan organisatoris. Ada ajakan simbolik untuk kembali menengok rumah perjuangan tempat nilai-nilai yang melahirkan NU bertumbuh.
Bukan karena masa lalu selalu lebih baik, melainkan karena setiap organisasi memerlukan titik pijak agar tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan zaman.
Pesantren selalu memiliki cara yang khas dalam membentuk manusia. Di sana, ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi juga diamalkan. Kepemimpinan tidak lahir dari ambisi, melainkan dari proses panjang pengabdian. Seorang santri belajar bahwa adab mendahului ilmu, sementara ilmu memperoleh maknanya ketika melahirkan kemanfaatan bagi masyarakat. Nilai-nilai seperti inilah yang sejak awal menjadi fondasi budaya organisasi Nahdlatul Ulama.
Muktamar yang berlangsung di lingkungan pesantren menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan forum-forum organisasi pada umumnya. Di tengah lantunan ayat suci, suara santri mengaji, dan kehidupan yang sederhana, setiap muktamirin memperoleh kesempatan untuk mengambil jarak dari hiruk-pikuk persaingan. Ada ruang batin yang mengajak setiap orang bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa amanah ini diperjuangkan, dan kepada siapa seluruh pengabdian ini akan dipertanggungjawabkan?
Pertanyaan semacam itu terasa semakin penting ketika NU memasuki abad keduanya. Tantangan yang dihadapi hari ini jauh berbeda dibandingkan masa para muassis. Arus informasi bergerak tanpa batas, ruang publik dipenuhi polarisasi, sementara organisasi dituntut semakin profesional dalam mengelola pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Semua itu memerlukan kemampuan baru, tetapi tidak boleh mengikis karakter dasar yang diwariskan para pendiri.
Para muassis telah menunjukkan bahwa kewibawaan organisasi tidak dibangun oleh besarnya kekuasaan, melainkan oleh keluasan ilmu, kematangan akhlak, dan keikhlasan dalam berkhidmah.
Mereka mampu berdialog dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan prinsip, menjaga tradisi tanpa menutup diri terhadap perubahan, serta menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Warisan semacam inilah yang sesungguhnya harus terus diperbarui melalui setiap Muktamar.
Pada akhirnya, Muktamar bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan berikutnya. Kepengurusan baru memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa ruh perjuangan tetap hidup di dalam setiap keputusan organisasi.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa organisasi yang besar bukanlah organisasi yang tidak pernah menghadapi perbedaan, melainkan organisasi yang selalu mampu kembali kepada nilai-nilai yang melahirkannya.
Barangkali itulah makna terdalam Muktamar di Tambakberas. Ia bukan sekadar perjalanan menuju sebuah pesantren, melainkan perjalanan pulang menuju sumber mata air yang selama satu abad menghidupi Nahdlatul Ulama. Sebab hanya organisasi yang tidak pernah lupa jalan pulang yang akan selalu tahu ke mana ia harus melangkah.


















