Search

Tetap Berpuasa di Pertengahan Akhir Ramadan Meski Bekerja di Lapangan

Prof Dr H Muhammad Ishom, M.A.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Ramadan kerap dipandang sebagai golden time of worship, masa emas untuk meningkatkan kualitas ibadah. Pada bulan inilah umat Muslim berlomba memperbanyak amal, memperdalam refleksi diri, serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Kesadaran bahwa Ramadan adalah momentum spiritual yang istimewa membuat banyak orang berupaya memanfaatkan setiap harinya sebaik mungkin.

Memasuki pertengahan hingga akhir Ramadan, semangat tersebut biasanya justru semakin kuat. Banyak orang berharap dapat menutup bulan suci dengan ibadah yang lebih baik daripada saat memulainya. Pada fase ini pula terdapat malam-malam yang diyakini penuh keberkahan sehingga semakin mendorong umat untuk menjaga konsistensi puasa dan ibadah lainnya.

Namun realitas kehidupan tidak selalu berjalan selaras dengan harapan ideal tersebut. Bagi sebagian orang, terutama mereka yang bekerja di lapangan, pertengahan hingga akhir Ramadan justru menjadi periode yang padat dengan aktivitas. Tugas pekerjaan tetap berjalan, bahkan dalam beberapa profesi, intensitasnya bisa meningkat menjelang akhir bulan suci.

Profesi seperti petugas keamanan, pekerja konstruksi, teknisi lapangan, petugas kebersihan kota, hingga jurnalis lapangan tidak memiliki banyak pilihan selain tetap menjalankan tugasnya. Demikian pula dengan tenaga kesehatan, petugas pemadam kebakaran, pekerja logistik, sopir angkutan barang, hingga petugas pelayanan publik yang harus memastikan layanan tetap berjalan bagi masyarakat.

Bagi mereka, bekerja di lapangan dalam kondisi berpuasa bukan perkara mudah. Aktivitas fisik yang tinggi, paparan panas matahari, serta tuntutan konsentrasi sering kali menjadi tantangan tersendiri ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman sepanjang hari. Situasi ini kerap menghadirkan dilema antara tanggung jawab profesional dan komitmen menjalankan ibadah puasa.

Meski demikian, tantangan tersebut tidak selalu berujung pada pilihan untuk meninggalkan salah satunya. Dengan pengelolaan kerja yang tepat, pekerjaan di lapangan tetap dapat dijalankan tanpa harus mengorbankan kewajiban berpuasa. Kuncinya terletak pada strategi mengatur waktu, tenaga, serta pola kerja yang lebih adaptif.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan golden hour atau jam-jam emas untuk bekerja, yakni sekitar pukul 08.00 hingga 11.00 pagi. Pada waktu ini energi tubuh masih relatif stabil karena cadangan dari sahur masih tersimpan. Oleh karena itu, pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar maupun konsentrasi tinggi sebaiknya diprioritaskan pada rentang waktu tersebut.

Dengan memaksimalkan jam-jam produktif di pagi hari, sebagian besar pekerjaan berat dapat diselesaikan lebih awal. Hal ini membantu mengurangi tekanan fisik ketika memasuki siang hingga sore hari, saat tubuh mulai mengalami penurunan energi. Perencanaan kerja yang matang pada pagi hari juga membuat aktivitas lapangan menjadi lebih efisien.

Strategi berikutnya adalah menerapkan buddy system ketika stamina mulai menurun. Dalam sistem ini, pekerjaan dilakukan secara berpasangan atau dalam tim kecil sehingga memungkinkan adanya pembagian peran yang lebih fleksibel. Ketika satu orang melakukan pekerjaan utama, rekannya dapat membantu mengawasi atau memastikan keselamatan kerja.

Setelah beberapa waktu, peran tersebut dapat dipertukarkan sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak. Pola kerja bergantian seperti ini cukup membantu menjaga stamina selama berpuasa. Di banyak sektor lapangan, pendekatan kolaboratif seperti ini juga terbukti meningkatkan keselamatan sekaligus menjaga kualitas pekerjaan.

Selain itu, dalam kondisi tertentu, penerapan stop work authority secara fleksibel juga perlu dipertimbangkan. Prinsip ini memberikan hak kepada pekerja untuk menghentikan sementara pekerjaan apabila kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk melanjutkan tugas secara aman dalam keadaan berpuasa.

Di titik inilah kebijakan pimpinan menjadi sangat penting. Para atasan diharapkan mampu menunjukkan empati dengan memberikan ruang bagi pekerja yang ingin tetap menjaga ibadah puasanya.

Jika dalam ajaran agama terdapat berbagai kemudahan bagi umat dalam menjalankan ibadah, maka semangat memberi kemudahan itu juga layak tercermin dalam kebijakan kerja, terutama bagi mereka yang tetap mengabdi di lapangan hingga penghujung Ramadan.