Menggali Kesejatian (5): Handphone Suci
Hamdan Juhannis
Masih tentang keberagamaan digital. Mengaji atau membaca Al-Qur'an mengalami proses digitalisasi secara masif. Dulu semua mengaji dengan mushaf Al-Qur'an. Kita belajar mengaji dengan kitab Al-Qur'an yang bertulisan besar, supaya lebih mudah membacanya.
Seiring dengan era komputerisasi, kitab Al-Qur'an sudah masuk dalam program komputer. Pencarian ayat dan tafsirannya bagi pengkaji menjadi sangat mudah karena sudah terprogram secara khusus.
Muncullah masa yang saya sebut sebagai era disk, disket lalu flashdisk mulai menjamur. Ternyata Al-Qur'an juga masuk ke dalam disk. Programnya bisa dipindahkan dan dibawa ke mana-mana dengan disk.
Bila ingin mendengarkan qiraah dalam mobil, tinggal ditancapkan flashdisk pada layar kecil di dalam mobil.
Saya tidak tahu persis era apa lagi berikutnya. Saya langsung saja melompat membahas mengaji pada puncak era digital. Al-Qur'an sudah tersaji menjadi aplikasi yang super lengkap yang bisa dimasukkan ke dalam hp atau tablet.
Mengaji tidak lagi dengan membuka kitab Al-Qur'an berupa mushaf itu, tetapi langsung dari Hp yang kita pegang tiap hari. Jadi bagi yang menggenggam Hp di dalamnya sudah diisi oleh aplikasi Al-Qur'an, artinya saat itu mereka memegang kitab suci.



















