Penulis Gagas, Wahyono (Ilustrator: Wawan Bastian/Erakini)
Wahyono
Penulis
Tentara Nasional Indonesia (TNI) berpeluang mendapatkan tugas tambahan yang tak biasa yaitu mendidik pelajar nakal. Gagasan ini diusulkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau biasa disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM). KDM beralasan, tujuan usulan itu semata sebagai bagian dari pembinaan kedisiplinan.
Jika wacana ini disetujui, maka TNI tak hanya berperan sebagai pilar pertahanan negara, melainkan juga sebagai pembina karakter generasi muda. Pelajar yang dianggap melanggar norma akan dididik langsung oleh personel militer, dengan harapan mereka tak lagi bertindak sebebas-bebasnya atau bertingkah semaunya sendiri—dalam istilah Jawa, sak karepe dewe.
Masuknya pelajar ke lingkungan militer disebut-sebut akan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan yang kuat. Ketertiban, ketaatan, dan keteraturan menjadi sasaran utama dalam pembinaan ini. Namun, sebelum wacana ini direalisasikan, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu digali lebih dalam: bagaimana sesungguhnya hubungan antara kebebasan dan kedisiplinan?
Di satu sisi, kebebasan merupakan hak dasar manusia yang melekat sejak lahir. Namun di sisi lain, tanpa kendali bisa melahirkan kekacauan. Di sinilah peran menjadi penting: bukan untuk mengekang , tetapi untuk mengarahkannya agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Wacana ini tentu menimbulkan beragam respons di tengah masyarakat. Sebagian menyambut positif sebagai upaya menegakkan kembali nilai moral di kalangan pelajar. Namun sebagian lainnya menilai pendekatan militeristik bisa menimbulkan trauma dan kurang sejalan dengan prinsip pendidikan yang humanis.
Diskursus mengenai kebebasan selama ini memang menjadi perbincangan menarik khususnya untuk membentuk tradisi mental seseorang atau individu. Dari semua pergulatan pemikiran tentang kebebasan ini, salah satu yang sering menjadi pertanyaan adalah apakah kebebasan bertentangan dengan kedisiplinan? Atau sederhananya apakah kebebasan bertentangan secara diametral dengan kedisiplinan? Apakah dengan kedisiplinan artinya seseorang akan kehilangan kebebasannya?
Wacana soal kebebasan telah lama menjadi pergumulan tema para filsuf di dunia ketika membincangkan manusia. Salah satu filsuf yang sepanjang hayatnya bergelut dengan isu-isu kebebasan manusia adalah tokoh eksistensialis Prancis, Jean Paul Sartre. Bagi Sartre, kebebasan adalah esensi manusia. Salah satu ungkapan terkenal dari Sartre terkait hal ini berbunyi “manusia dikutuk untuk bebas dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya”.
Filsafat eksistensialis Sartre meyakini bahwa begitu pertama kali berada di dunia, seorang manusia bertanggung jawab penuh atas segala yang dilakukannya. Artinya, manusia tidak terikat oleh nasib atau determinisme eksternal, melainkan bebas untuk menentukan siapa dirinya dan apa yang akan dilakukannya.
Kebebasan intrinsik manusia menurut Sartre bukan sekadar kemampuan untuk bertindak sesuka hati, melainkan kemampuan untuk memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Sartre menekankan bahwa kebebasan sejati adalah kebebasan yang datang dengan kesadaran penuh terhadap tanggung jawab. Ini berarti bahwa manusia tidak dapat menyalahkan orang lain atau keadaan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan.
Lalu dimana letak keterkaitan antara kebebasan dan kedisiplinan? Menurut Sartre, disiplin bukan berarti pengekangan atau pembatasan kebebasan. Sebaliknya, disiplin dapat berfungsi sebagai alat untuk mengelola kebebasan tersebut, membantu manusia untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan lebih efektif dan terarah. Disiplin membantu untuk mengelola tindakan dan pilihan sehingga kita tidak terombang-ambing oleh keinginan sesaat atau pengaruh eksternal.
Dalam filsafat Sartre, kebebasan dan tanggung jawab adalah dua sisi mata uang yang sama. Kita bertanggung jawab atas setiap pilihan dan tindakan yang kita buat, dan disiplin membantu kita untuk lebih sadar dan reflektif dalam membuat pilihan tersebut.
Sartre menggunakan istilah "mauvaise foi" untuk menggambarkan sikap menolak kebebasan dan menyalahkan faktor eksternal atas pilihan dan tindakan kita. Disiplin membantu kita untuk menghindari "mauvaise foi" dengan mendorong kita untuk mengakui kebebasan kita dan bertanggung jawab atas konsekuensi pilihan kita.
Lalu apa fungsi kedisiplinan agar tetap bisa berjalan seiring dengan kebebasan? Sartre meyakini disiplin tidak hanya tentang mengontrol tindakan seseorang, tetapi juga tentang menggunakan kebebasan itu untuk mencapai tujuan yang bermakna. Dengan disiplin, seseorang dapat mengarahkan energi dan usaha untuk mencapai tujuan yang dipilih dan diciptakannya sendiri.
Intinya, dalam pandangan Sartre, disiplin bukanlah antagonisme dari kebebasan, melainkan alat yang penting untuk mencapai kebebasan otentik. Dengan disiplin, seseorang dapat mengelola kebebasan, bertanggung jawab atas tindakan, dan mencapai tujuan yang diinginkannya.Sartre menekankan bahwa setiap pilihan yang kita buat membentuk siapa kita sebagai individu. Oleh karena itu, penting untuk memilih secara sadar dan bertanggung jawab.
Saat ini masih banyak orang beranggapan bahwa disiplin sebagai lawan dari kebebasan. Logika dalam argumen ini menyebut bahwa dengan menjalankan disiplin, berarti seseorang harus mengorbankan kebebasan pribadi. Dengan menggunakan contoh pelajar nakal yang akan dibina ala militer, apakah memang sudah tepat urusan ‘mendisiplinan’ para pelajar nakal tersebut kepada tentara?
Disiplin sejatinya adalah kemampuan mengatur diri, mengikuti aturan, serta konsisten dalam menjalankan kewajiban. Namun, disiplin yang baik bukanlah berupa koersif dari luar, melainkan lahir dari kesadaran dan kehendak otonom dalam seseorang. Inilah yang disebut kebebasan positif-kebebasan untuk menguasai diri sendiri dan memilih tindakan yang bermanfaat bagi masa depan.
Sebaliknya, kebebasan tanpa disiplin justru bisa menjadi bumerang. Ketika seseorang bebas melakukan apa saja tanpa batas, ia rentan terjebak dalam perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, kebebasan yang bertanggung jawab adalah kebebasan yang tetap memperhatikan aturan dan norma sosial, serta siap menanggung konsekuensi dari setiap pilihan.
Berangkat dari hal itu, siapapun pihak yang ditugaskan untuk mewujudkan wacana ‘mendisiplinkan’ para pelajar nakal, maka hendaknya memegang satu tujuan yakni bahwa kedisiplinan yang terbangun dari para pelajar nakal itu idealnya bermuara pada munculnya kebebasan yang bertanggung jawab.
Sebuah kebebasan dari sikap disiplin yang bukan hanya berupa kesadaran menentukan nasibnya sendiri tetapi juga kebebasan dengan kesadaran penuh dalam memahami konsekuensi atas pilihan-pilihan sadarnya. Jadi apakah dengan dibina ala militer para pelajar nakal bisa mewujudkan sikap mental kebebasan yang bertanggungjawab seperti impian Sartre?