SALAH satu hal yang telah melekat pada manusia sejak keberadaannya di dunia ini adalah pendidikan, baik dalam maknanya yang sederhana ataupun yang kompleks. Yang sederhana misalnya bagaimana orang tua mewariskan nilai-nilai luhur kemanusiaan (idealisme) dan juga keterampilan hidup (pragmatisme) agar bisa survive menjalani kehidupan, bagi anak-anaknya. Sedangkan dalam maknanya yang kompleks dimaksudkan sebagai pendidikan yang terlembagakan menjadi sebuah sistem baik secara formal maupun non-formal.
Penelusuran terhadap turats -sebagaimana dijelaskan dalam buku ‘Attarbiyyah al-Islaamiyyah Inda al-Ghazaliy’- menginformasikan bahwa tujuan Pendidikan Islam dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, menyiapkan generasi Islam untuk meraih kebahagiaan kehidupan akhirat. Kedua, penguatan kompetensi dan skill yang mendukung kesuksesan kehidupan di dunia.
Ada dua penekanan di dalam tujuan pendidikan Islam tersebut yakni yang pertama dimensi ideal-ukhrawiy berupa kebahagiaan hidup di akhirat. Kedua adalah dimensi praksis-pragmatis, yaitu penguatan kompetensi dan skill yang berkenaan dengan keberlangsungan hidup di dunia ini. Sementara itu menurut rekomendasi Konferensi Pendidikan Islam Tingkat Dunia Pertama tujuan pendidikan Islam adalah membangun keseimbangan secara total dari kepribadian seorang muslim melalui pendidikan spiritual, intelektual, rasional, rasa dan juga jasmani.
Relevan dengan tujuan tersebut, keilmuan yang dikembangkan oleh para pemikir Islam masa lampau juga berkisar pada dua dimensi pokok tersebut. Secara garis besar, sebagaimana digambarkan dalam buku ‘Al-Insan Inda al-Ghazali’, cabang ilmu yang di dalamnya dikembangkan pengetahuan dan skill yang berhubungan dengan keduniaan disebut sebagai al-uluum al-muktasibah sedangkan cabang ilmu yang lebih dekat dengan kehidupan keakhiratan disebut sebagai al-ulum asy-syar’iyyah.
Senada dengan itu, menurut Konferensi Pendidikan Islam Dunia Pertama, cabang ilmu yang perlu dikembangkan juga diklasifikasikan menjadi dua; pertama disebut sebagai Perennial Knowledge yang didasarkan pada wahyu yang terepresentasi dalam al-Qur’an dan Hadis. Kedua, Acquired Konwledge yang mencakup antara lain ilmu sosial humaniora, ilmu alam, ilmu terapan sejauh sesuai dengan nilai-nilai syariat.
Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas, di tingkat praktis diperlukan adanya lembaga pendidikan dari tingkat usia dini hingga tinggi. Lembaga pendidikan tinggi selain mencetak lulusan dengan kompetensi sesuai bidang keilmuan (Perennial knowledge maupun Acquired Knowledge) juga bertanggung jawab dalam pengembangan keilmuan itu sendiri.
Dalam konteks keindonesiaan, kajian dan pengembangan Perennial Knowledge diemban salah satunya oleh Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Lulusan dari prodi-prodi yang berbasis Perennial Knowledge ini diorientasikan sebagai sosok yang berkompeten dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam (tafaqquh fi addiin), yang tentu saja tidak bersentuhan langsung dengan tuntutan dunia kerja, khususnya industri.
Yang menjadi soal adalah ketika sosok yang kompetensinya tafaqquh fii addiin tersebut dihadapkan pada tuntutan relevansi dengan tuntutan dunia kerja di sektor industri. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa ada wacana tentang penutupan program-program studi yang tidak relevan dengan tuntutan dunia kerja industri, sebagaimana disampaikan oleh Sekjen Kemendiktisaintek beberapa waktu lalu. Para insan terdidik yang mendedikasikan dirinya untuk tafaqquh fi addiin, tentu menjadi pihak pertama yang dipertanyakan relevansi keilmuannya dengan kebutuhan industri tersebut.
Lalu, pertanyaan lanjutannya adalah apakah prodi-prodi yang fokus pada tafqquh fi addiin akan ditiadakan?
Dari sini tampak adanya kesenjangan antara idealisme pengembangan keilmuan (Islam) dengan tuntutan praksis-pragmatis dunia kerja industri. Terlebih lagi jika merujuk kepada sabda Rasulullah SAW yang melarang menuntut ilmu dengan motivasi duniawi. Berikut terjemah dari sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Abud Dawud!
“Sesiapa saja yang belajar ilmu yang ilmu tersebut seharusnya untuk menggapai ridha Allah azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali hanya untuk mendapatkan materi duniawi, maka kelak di hari kiamat ia tak akan pernah bisa mencium bau surga.”
Ulama memberikan penjelasan berbeda tentang yang dimaksud dengan ‘ilmu yang dipelajari seseorang’ dalam hadis tersebut. Sebagian memaknai ilmu yang seharusnya untuk mencari ridha Allah adalah ilmu syariat (Perennial Knowledge).
Sementara itu penjelasan lain memaksudkannya sebagai ilmu dalam makna yang luas, ilmu apa saja yang memberikan manfaat kepada kemanusiaan. Motivasi ideal bagi pencari ilmu, berdasar hadis tersebut adalah mencari ridha Allah, dan bukan semata-mata mencari keuntungan duniawi. Motivasi dasarnya ideal-ukhrawiy, baru kemudian motivasi duniawi yang bersifat praktis-pragmatis. Jadi menapak di dua dimensi sekaligus duniawi dan ukrawi sekaligus.
Lalu bagaimana dengan perosalan relevansi keilmuan di perguruan tinggi dengan dunia kerja industri?
Tuntuan akan relevansi antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja industri adalah sesuatu yang bisa diterima secara rasional, namun hal itu bukan satu-satunya paradigma yang harus digunakan dalam pengembangan keilmuan (Program Studi). Karena faktanya ilmu yang dimiliki dan dikembangkan oleh manusia, tidak harus selalu relevan dengan kebutuhan industri, lebih dari itu pengembangan keilmuan harus senantiasa relevan dengan totalitas nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Viktor Frankl pernah menjelaskan bahwa sumber nilai bagi manusia itu ada tiga. Pertama creative values yang mencakup bagaimana manusia bermakna ketika ia berkarya, bekerja, menghasilkan uang dan sebagainya. Lalu, Experintial values dimana manusia akan mendapatkan makna hidup dalam penghayatan, seperti pengalaman spiritual, cinta dan kasih sayang, seni dan sebagainya. Terakhir, attitudinal values yakni manusia akan mendapatkan makna hidupnya melalui sikap-sikap kemanusiaannya. Seperti kejujuran, kedermawanan, pertemanan dan sebagainya. Karena itu, konservasi, pengembangan dan transmisi keilmuan idealnya tidak dibatasi pada crative values belaka, lebih dari itu juga memenuhi aspek experiential dan attitudinal values.