JAKARTA, (ERAKINI) - Kisah spritualatlet muslim dunia kali ini mengangkat sosok Mohamed Salah. Selain menjadi striker haus gol, kehadiran Salah sebagai pesepakbola muslim di Liga Inggris ternyata bisa mengubah pandangan orang terhadap Islam.
Mohamed Salah sangat dikenali di , , dan bahkan berbagai negara. Striker yang akrab disebut Mo Salah ini membuktikan lewat sepak bola perbedaan agama bukan masalah untuk menciptakan kedamaian. Tren di pun mulai dikikis Mo Salah lewat amal, aksi, dan prestasinya.
Daratan Eropa, termasuk Inggris telah lama mengalami gejala islamofobia terlebih dipicu maraknya aksi terorisme di sejumlah tempat. Islamofobia dipahami sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam, dan oleh karena itu, juga kepada semua muslim," serta merujuk pada praktik diskriminasi terhadap muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan suatu bangsa.
Sepak terjang Mo Salah bersama Liverpool secara tidak langsung turut mengurangi virus islamofobia yang selama menjangkiti masyarakat Inggris, juga di kancah Eropa. Selain di gelanggang sepak bola, Mo Salah selama ini juga secara tidak langsung mengkampayekan Islam moderat lewat perilku dan juga tindakan dakwahnya.
Gaya dakwah Mohamed Salah sedikit mampu melawan rasialisme endemik di sepakbola Inggris perlahan dan pasti sedikit mengurangi Islamofobia yang menjangkiti Inggris atau Eropa sejak lama.
Apa saja aksi Mo Salah yang bisa dipahami sebagai bentuk ‘dakwah’ dalam menyebarkan Islam moderat di arena sepak bola? Salah satunya dalam berbagai kesempatan Mo Salah tertangkap kamera selalu memanjatkan doa sebelum pertandingan.
Pesepakbola berusia 27 tahun ini juga kerap melakukan sujud syukur setelah mencetak gol. Alhasil, orang jadi penasaran dengan kebiasaan Salah tersebut. “Selebrasi dengan bersujud seperti berdoa atau berterima kasih pada Tuhan atas apa yang telah saya raih. Saya selalu melakukan itu sejak lama dan di mana pun saya bermain,” tutur Salah dilansir dari website klub Liverpool.
Selebrasi dengan sujud syukur Mo Salah awalnya terlihat biasa bagi masyarakat Inggris. Namun bagi para pecinta sepak bola, aksi Salah tersebut dianggap unik. Mengapa harus bersujud usai menciptakan gol? Apa makna dan pesan di balik selebrasi tersebut?
Para fans Liverpool kemudian mulai mencari tahu tentang makna selebrasi yang selalu dilakukan oleh pemain bernomor punggung 11 itu. Sujud merupakan salah satu gerakan wajib dalam ibadah salat agama Islam. Bagi Salah, sujud yang dilakukannya bukan sekadar menggaungkan gerakan wajib dalam salat, melainkan sebagai ungkapan syukur.
"Itu sesuatu seperti berdoa atau berterima kasih pada Tuhan atas apa yang telah saya terima, tapi ya, itu hanya berdoa dan berdoa untuk menang. Saya selalu melakukannya sejak masih kecil, di mana pun," kata Salah dikutip dari CNN Inside The Middle East.
Tanpa disadari, penggemar sepak bola di Eropa mulai menggali lebih dalam soal sujud dan Islam. Dan perlahan, islamofobia di daratan Benua Biru itu mulai terkikis.
Sebelumnya, masyarakat di Inggris dan Eropa masih memandang Islam dan penganutnya sebelah mata. Stigma negatif tersebut tak terlepas dari maraknya aksi terorisme yang erat dilekatkan ke organisasi Islam.
Belum lagi, terjadi gelombang pengungsi ke Eropa yang didominasi umat muslim. Mereka melarikan diri dari negara-negara yang tengah dilanda perang, seperti Irak, Suriah, dan Afghanistan.
Inggris dan negara lainnya di Eropa pun jadi ikut memusuhi muslim. Bahkan, ada sentimen kalau orang putih Eropa akan menghadapi ancaman eksistensial. Banyak orang pun beranggapan kalau Islam adalah kekerasan, tidak bisa diasimilasi, dan rentan terhadap terorisme. Dari situ munculah apa yang dinamakan islamofobia.
Saat itulah Salah hadir dengan keyakinannya sebagai umat muslim yang menentang islamofobia yang berkembang di Inggris dan Eropa. Prestasi dan selebrasinya di lapangan hijau menjadi senjata untuk melawan stigma negatif yang kadung lekat dengan Islam dan penganutnya.
Menurut penelitian dari Departemen Sains Politik Universitas Stanford, kebiasaan Mo Salah yang selalu berdoa dan bersujud di pertandingan sepak bola, juga didukung perilaku baiknya, berdampak besar bagi orang-orang terkait Islamophobia.
Hasil riset yang sama juga menyebutkan bahwa tingkat kejahatan terhadap seorang muslim di Inggris turun hingga 18,9% sejak Mo Salah merumput di Premier League bareng Liverpool.
William Marble, seorang peneliti di Universitas Stanford, mengatakan, ada dua penjelasan spekulatif yang bisa menjelaskan kenapa angka kejahatan terhadap orang muslim di Inggris menurun.
“Pertama karena orang-orang mungkin lebih toleran. Kedua, banyak orang-orang bicara soal Mohamed Salah. Dia diterima dengan baik di sini (Inggris) dan orang melihat bahwa dari Mohamed Salah, Islam ternyata tak seburuk yang selama ini mereka kira,” ujarnya.
Tak hanya itu, fenomena Mo Salah juga membuat ketertarikan publik Inggris pada Islam meningkat. Bahkan, salah satu kalimat dalam yel-yel klub sepak bola itu yang terkenal adalah, “If he scores another few then I’ll be Muslim too” (Jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi Muslim).
Di luar lapangan hijau, Salah juga selalu tampil sebagai pribadi yang bersahaja dan humble. Sikap ini yang kemudian memberikan dampak positif terhadap cara pandangan orang-orang terhadap Islam.
Pesona Salah di lapangan dan sikapnya sebagai ‘anak baik’ pun perlahan mengubah wajah Islam di pikiran banyak orang Eropa. Betapa tidak, sebagai bintang lapangan hijau, Salah tidak menggunakan obat-obatan, tidak tampil berlebihan, ataupun meminum alkohol. Perilaku yang selaras dengan ajaran agama yang dianutnya.
Dalam sebuah selebrasi kemenangan, Salah bahkan menghindar ketika rekan satu timnya mulai melakukan champagne spray. Dia bahkan tak ingin terkena cipratan minuman haram tersebut.