Search

Harga Minyak Dunia Terus Meroket, Trump Cari Dukungan Internasional Buka Selat Hormuz

JAKARTA, (ERAKINI) – Harga minyak dunia terus meroket setelah pasar melihat belum ada tanda-tanda berakhirnya penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendorong pembentukan koalisi internasional untuk membantu membuka Selat Hormuz, belum membuahkan hasil.

Dilansir Al Jazeera, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan utama harga minyak dunia, sempat melonjak hingga 3 persen pada Minggu (15/3) dan menembus USD106 per barel sebelum terkoreksi pada awal perdagangan Senin (16/3). harga Brent tercatat berada di level USD104,63 per barel atau naik hampir 1,5 persen.

Lonjakan harga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan kepada negara-negara lain untuk membantu Washington membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Namun hingga kini, usulan Trump belum mendapat respons signifikan. Sejumlah negara yang ia sebut secara langsung, termasuk China, Jepang, Prancis, dan Inggris, belum menyatakan komitmen untuk mengerahkan angkatan laut mereka guna mengamankan perairan tersebut.

Dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu, Trump bahkan memperingatkan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang sangat buruk jika usulan tersebut tidak mendapat tanggapan atau justru mendapat respons negatif.

Sementara itu, Jepang dan Australia menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengirim kapal ke jalur perairan yang sangat strategis tersebut.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran menghentikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel terhadap negaranya. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), situasi ini telah memicu gangguan pasokan energi global terbesar dalam sejarah.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, harga minyak global tercatat melonjak lebih dari 40 persen. Kenaikan ini turut mendorong lonjakan harga bahan bakar dan meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global.

Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menunjukkan bahwa sejak konflik pecah, hanya sekitar lima kapal yang melintasi Selat Hormuz setiap hari. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata historis yang mencapai sekitar 138 pelayaran per hari. Selain itu, sedikitnya 16 kapal komersial dilaporkan telah diserang di kawasan tersebut sejak perang dimulai.

Trump sebelumnya juga menyatakan siap mengerahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz jika diperlukan. Jalur perairan strategis ini berbatasan langsung dengan Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.

Namun pejabat pemerintahan Trump menyebut kapal perang belum akan dikerahkan hingga kemampuan militer Iran semakin dilemahkan, meski mereka memperkirakan operasi pengamanan di kawasan itu dapat segera dimulai.