Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu minta maaf ke Qatar. Doha masih menunggu sikap Hamas atas proposal damai Presiden AS Donald Trump. (Foto: UN News).
DUBAI, (ERAKINI) – Dalam langkah diplomatik yang jarang terjadi, Perdana Menteri (PM) IsraelBenjamin Netanyahu dikabarkan telah menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Qatar atas insiden serangan udara yang terjadi di awal September lalu.
Insiden 9 September tersebut menargetkan sejumlah pemimpin Hamas yang sedang menjalankan proses negosiasi gencatan senjata dengan dukungan Amerika Serikat. Serangan itu menewaskan sedikitnya lima anggota Hamas berpangkat rendah dan seorang pejabat keamanan Qatar, sementara para petinggi Hamas dilaporkan selamat.
Al-Ansari menyebut bahwa Qatar telah menerima jaminan keamanan dari Washington, yang dianggap cukup memadai untuk meredam ketegangan diplomatik yang sempat memanas. Qatar pun, secara hati-hati, menyambut permintaan maaf Netanyahu—yang dinilai sebagai pengakuan tidak langsung atas pelanggaran yang telah terjadi.
Di tengah bayang-bayang konflik yang terus membara di Gaza, Qatar masih menunggu sikap resmi dari Hamas terkait inisiatif perdamaian yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump. Meski belum ada tanggapan resmi, pihak Doha mengisyaratkan adanya optimisme hati-hati, sembari menyebut bahwa Turki akan bergabung dalam putaran pembicaraan bersama Qatar, AS, dan sejumlah pihak internasional lainnya.
"Pertemuan tim mediasi lanjutan akan digelar hari ini," kata Al-Ansari, "dan Turki akan menjadi bagian penting dalam mendorong kesepakatan ke depan."
Dalam pernyataan resminya, Qatar kembali menegaskan dukungan terhadap proposal damai Trump—yang digambarkan sebagai “visi menyeluruh” untuk menghentikan perang di Gaza dan mengembalikan stabilitas kawasan.
Rencana perdamaian yang diumumkan Trump sebelumnya mencakup 20 poin utama, termasuk:
- Gencatan senjata langsung setelah kesepakatan dicapai.
- Penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Gaza.
- Pembebasan sandera terakhir oleh Hamas sebagai bagian dari proses.
- Penempatan pasukan internasional sementara.
- Penghapusan total peran militer dan politik Hamas dari pemerintahan mendatang.
Meski terdengar menjanjikan, banyak pihak mempertanyakan niat sebenarnya dari proposal tersebut—terutama karena dukungan penuh Netanyahu terhadap rencana itu datang hanya berselang beberapa hari setelah serangan ke Qatar.
Beberapa pengamat menilai bahwa dukungan Netanyahu terhadap rencana Trump tak lebih dari strategi geopolitik untuk meredam tekanan internasional sekaligus mengamankan posisi Israel di meja perundingan. Dengan serangan udara yang nyaris menghancurkan proses negosiasi, lalu diikuti dengan permintaan maaf dan dukungan rencana damai—banyak yang melihat ini sebagai manuver politik, bukan itikad mulia.
Sementara itu, nasib rakyat Gaza masih bergantung pada meja perundingan yang dikelilingi oleh kepentingan global. Dan seperti biasa, mereka yang paling menderita tetap harus menunggu, menanti apakah damai kali ini benar-benar nyata, atau hanya permainan lain dalam politik kekuasaan.