Asap mengepul ke langit setelah serangan militer Israel di Lebanon selatan seperti terlihat dari Israel utara, Jumat, 19 Juni 2026. (Foto: AP).
BEIRUT, (ERAKINI) - Harapan akan meredanya konflik di Lebanon kembali diuji. Hanya sehari setelah pengumuman antara dan Hizbullah, gelombang baru di wilayah selatan dilaporkan masih terjadi dan menimbulkan jiwa.
Media pemerintah Lebanon melaporkan sedikitnya lima orang tewas akibat rentetan serangan yang berlangsung sejak dini hari Sabtu. Insiden tersebut memunculkan keraguan mengenai efektivitas kesepakatan penghentian permusuhan yang sebelumnya dimediasi oleh Amerika Serikat dan Qatar.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) menyebutkan bahwa serangan udara Israel menghantam lebih dari belasan titik di kawasan selatan negara itu, terutama di sekitar Nabatieh yang dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu pusat pertempuran paling sengit.
Selain serangan udara, artileri Israel juga dilaporkan menggempur sejumlah wilayah di sekitar Nabatieh. Situasi tersebut membuat warga sipil kembali hidup dalam bayang-bayang ketakutan meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan.
Menurut laporan NNA, tiga warga meninggal dunia akibat serangan di Arab Salim. Korban jiwa lainnya tercatat di Deir Zahrani dan Dweir, ketika sebuah drone menyerang sepeda motor di pintu masuk kota tersebut.
Tragedi yang lebih memilukan terjadi di Barish. Serangan udara menghantam kawasan permukiman dan menewaskan satu keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, serta dua anak mereka. Dalam insiden terpisah, seorang prajurit Lebanon juga dilaporkan tewas akibat serangan di Jalan Kafr Rumman, Lebanon selatan.
Tidak hanya itu, pesawat tempur Israel juga disebut melancarkan serangan di wilayah Jbour, Kfarhouna, distrik Jezzine. Kota-kota lain seperti Barish, Borj Qalaouiyeh, dan sejumlah kawasan di distrik Tyre turut menjadi sasaran. Aktivitas pesawat nirawak juga terpantau meningkat di berbagai sektor wilayah selatan.
Di medan darat, pasukan Israel dilaporkan melepaskan tembakan senapan mesin ke arah pinggiran Al-Mansouri, sementara rentetan tembakan artileri menghantam wilayah sekitar Majdal Zoun. Serangan drone juga dilaporkan terjadi di Deir Qanoun Ras Al-Ain.
Sehari sebelumnya, seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah berhasil dicapai melalui mediasi Washington dan Doha setelah serangkaian pembicaraan dengan pihak Israel dan Iran. Informasi tersebut turut dikonfirmasi oleh seorang diplomat negara Teluk.
Pemerintah Israel menyatakan komitmennya untuk menghormati kesepakatan tersebut selama Hizbullah juga mematuhi seluruh ketentuannya.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pengumuman penghentian pertempuran belum sepenuhnya mampu menghentikan aksi militer dari kedua kubu.
Sebelum gencatan senjata diumumkan, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 47 orang tewas akibat serangan udara dan bombardemen Israel yang terjadi pada Jumat. Angka tersebut menjadi salah satu korban harian tertinggi sejak munculnya kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik regional yang lebih luas.
Di pihak lain, militer Israel menyatakan empat tentaranya tewas dalam pertempuran terbaru. Mereka juga mengklaim telah melancarkan lebih dari 150 serangan di Lebanon dan menewaskan puluhan anggota Hizbullah.
Situasi ini turut menjadi perhatian Presiden Lebanon, Joseph Aoun. Dalam pembicaraannya dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, Aoun menegaskan pentingnya tercapainya penghentian perang secara menyeluruh. “Gencatan senjata yang komprehensif diperlukan agar pembicaraan dengan Israel dapat berjalan maju,” tegas Aoun.
Pemerintah Lebanon sendiri sejak April lalu telah mengikuti perundingan langsung dengan Israel di Washington atas dorongan Amerika Serikat. Dialog tersebut bertujuan mengakhiri konflik lintas perbatasan dan memisahkan ketegangan Israel-Hizbullah dari konflik Timur Tengah yang lebih luas.
Putaran kelima pembicaraan dijadwalkan berlangsung pada Selasa mendatang dan diharapkan mampu menghasilkan kemajuan signifikan menuju perdamaian permanen.
Meski demikian, sinyal dari Tel Aviv menunjukkan sikap yang masih tegas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di wilayah Lebanon selatan untuk jangka waktu yang belum ditentukan.
Konflik terbaru ini bermula pada awal Maret ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut kemudian dibalas dengan operasi udara besar-besaran dan invasi darat yang memperluas eskalasi konflik di kawasan.