Ilustrasi - Wanita mengambil air dari lubang di danau kering di Chennai, India, tahun 2019. (Ravikumar/Reuters)
JAKARTA, (ERAKINI) - India sedang bergulat dengan suhu yang luar biasa tinggi pada musim panas ini. Sebanyak 60 kematian terkait panas tercatat sejak 1 Maret, menurut data dari Pusat Pengendalian Penyakit Nasional (NCDC), seperti dikutip Livemint melalui Business Standard, Kamis (30/5/2024).
Di seluruh negeri, 32 orang meninggal karena sengatan panas, dan 28 kematian lainnya diduga disebabkan oleh sengatan . Data pemerintah juga mengungkapkan bahwa pada tanggal 22 Mei 2024, 2 orang di Andhra Pradesh dan Kota di Rajasthan meninggal karena dugaan serangan .
Sejak 1 Maret, terdapat 16.344 kasus dugaan serangan panas, dengan 486 kasus dilaporkan pada 22 Mei 2024.
Namun, para ahli yakin jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi. Seorang pejabat senior dari Departemen Meteorologi India (IMD), yang berbicara kepada Hindustan Times tanpa menyebut nama, mengatakan, "Selama musim panas, kelembapan relatif di wilayah pesisir di India timur lebih dari 50 persen dan di barat laut India, sekitar 20-30 persen. Panas lembab dapat menimbulkan dampak kesehatan yang sangat parah, dan kami khawatir banyak orang yang terkena dampaknya."
IMD telah mengeluarkan peringatan merah untuk sejumlah wilayah menyusul hari di mana suhu udara memecahkan rekor, dengan suhu mencapai lebih dari 50 derajat Celcius di Churu di Rajasthan dan Sirsa di Haryana, sementara Delhi mengalami suhu 9 derajat di atas normal.
Sejumlah wilayah yang mendapatkan peringatan merah tersebut yaitu, Rajasthan, Delhi, Punjab, Haryana, Chandigarh, dan Madhya Pradesh, yang mengindikasikan krisis gelombang panas yang parah.
Peringatan merah menandakan "kemungkinan sangat tinggi" seseorang terkena "penyakit panas dan serangan panas" dan memerlukan "perhatian ekstrim" bagi populasi yang rentan. IMD memperkirakan gelombang panas akan mereda setelah 30 Mei 2024.
India menyatakan gelombang panas ketika suhu maksimum suatu daerah adalah 4,5-6,4 derajat Celcius lebih tinggi dari biasanya. Sementara gelombang panas parah dinyatakan saat suhu maksimum 6,5 derajat Celcius lebih tinggi dari biasanya.
Adapun pada hari Selasa (29/5/2024), Stasiun cuaca lokal di lingkungan Mungeshpur dan Narela di Delhi mencatat suhu 49,9 derajat Celcius, rekor terpanas sepanjang masa untuk kota tersebut dan 9 derajat Celcius di atas normal.
Pemerintah daerah Delhi juga membatasi pasokan air karena tingkat air di sumber utamanya yaitu di Sungai Yamuna rendah.
Delhi tidak mempunyai pasokan air yang tak terputus kapan saja, namun pemerintah mengatakan lingkungan yang menerima air selama beberapa jam 2 kali sehari akan dikenakan pembatasan lebih lanjut.
"Saya memohon kepada semua penduduk bahwa apakah ada masalah air di daerah Anda atau tidak, silakan gunakan air dengan sangat biijak," kata Menteri Air Pemerintah Daerah Atishi, Selasa (28/5/2024) dilansir dari Channel News Asia.
Sementara itu, Kepala Institut Kesehatan Masyarakat India (IIPH) Dileep Mavalankar di Gandhinagar, menjelaskan bahwa ada 2 jenis kematian akibat gelombang panas. Yaitu, saat beraktivitas.
“Yang disebabkan oleh aktivitas di bawah sinar matahari langsung yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mendinginkan tubuh dengan berkeringat, yang jumlahnya hanya 10 kasus,” katanya.
Sementara, tidak dihitung sebagai persen kematian akibat gelombang panas yang terjadi pada kelompok rentan (orang lanjut usia, orang sakit dan bayi yang tidak dapat mendinginkan diri bahkan di malam hari dan bisa meninggal di mana saja, bahkan di rumah) karena tidak berhubungan dengan aktivitas.