Anak-anak Palestina menghadiri kelas di sekolah bersejarah 'Al-Kamaliya Al-Othmanya' di Kota Tua Gaza pada hari Minggu (2/11/2025). (Foto: AFP).
NUSEIRAT, (ERAKINI) — Setelah dua tahun pendidikan lumpuh akibat agresi dan blokade militer Israel, suara tawa dan langkah kecil kembali terdengar di sejumlah sekolahGaza. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) resmi membuka kembali sebagian fasilitas pendidikan menyusul diberlakukannya gencatan senjata, menjadi secercah harapan di tengah reruntuhan kehidupan warga .
Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, melalui unggahannya di platform X pada Selasa, menyampaikan bahwa lebih dari 25.000 anak kini telah kembali mengikuti kegiatan belajar di ruang-ruang sekolah sementara, sementara sekitar 300.000 siswa lainnya melanjutkan pembelajaran secara daring akibat keterbatasan ruang dan kerusakan infrastruktur.
Di Sekolah Al-Hassaina, wilayah Nuseirat bagian barat, proses belajar mengajar kembali berdenyut meskipun bangunan itu sebelumnya menjadi tempat perlindungan bagi keluarga pengungsi selama perang berkecamuk.
Warda Radwan, 11 tahun, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mengenakan seragam lagi. “Saya sekarang kelas enam, tapi dua tahun sekolah saya hilang karena perang dan kami harus mengungsi,” tuturnya lirih namun penuh tekad.
Bekas kehadiran puluhan keluarga pengungsi masih tampak — jemuran pakaian menggantung di lantai-lantai sekolah sebagai saksi bisu betapa pendidikan anak-anak ini direbut oleh konflik.
Kini, ruang-ruang itu perlahan kembali dipulihkan untuk pendidikan. Sebagian kelas telah dikosongkan, memberikan kesempatan bagi para siswa untuk kembali memegang buku daripada mencari air dan makanan di jalanan.
Di halaman sekolah, deretan siswi berdiri rapi mengikuti apel pagi, meneriakkan seruan penuh semangat, "Hidup Palestina!" Di dalam kelas, 40–50 anak perempuan duduk berhimpitan di lantai, tanpa meja atau kursi, menulis di pangkuan mereka. Namun kondisi sulit itu tak mampu meredakan antusiasme mereka. Senyum lebar, mata berbinar, dan semangat menyalin catatan dari papan tulis menjadi bukti bahwa harapan masih tumbuh di Gaza, meski dunia seolah membiarkan penderitaan berkepanjangan. “Akhirnya Mereka Bisa Belajar Lagi”
Jenin Abu Jarad, kerabat salah satu siswa, mengaku lega menyaksikan anak-anak kembali ke rutinitas pendidikan. “Sejak 7 Oktober, mereka tak punya sekolah,” ujarnya. “Mereka hanya bisa membantu mencari air, membeli roti, atau bermain di jalan. Sekarang perlahan-lahan sekolah dibuka kembali. Alhamdulillah.”
Kembalinya anak-anak Gaza ke sekolah bukan hanya tentang pendidikan — tetapi simbol keteguhan hidup rakyat Palestina, yang terus bangkit meski berkali-kali dihantam perang, blokade, dan kesunyian dunia internasional.
Mereka belajar di lantai, dengan buku tipis dan seragam lusuh, tetapi membawa impian besar: masa depan yang bebas dari ketakutan, dan Gaza yang kembali berdiri megah untuk mereka.