Para pelayat berkumpul di sekitar jenazah anggota keluarga Abu Dalal, yang tewas dalam serangan Israel di rumah mereka, di Nuseirat, Jalur Gaza tengah. (Foto: Reuters).
KAIRO, (ERAKINI) - Harapan warga Gaza untuk merasakan tenang sejenak kembali terguncang. Walau Israel sebelumnya menyatakan masih mengikuti yang difasilitasi Amerika Serikat, serangan udara dan tembakan tank kembali menghantam wilayah timur Jalur pada Kamis (30/10/2025), menurut kesaksian penduduk setempat.
Sumber di lapangan melaporkan sedikitnya 10 serangan udara menghantam timur Khan Younis di Gaza bagian selatan. Di bagian utara, tembakan tank terdengar dari sisi timur Kota Gaza. Belum ada laporan korban jiwa, namun dentuman dan asap pekat menambah rasa takut warga yang telah lama hidup dalam krisis kemanusiaan.
Militer Israel menyebut serangan itu sebagai operasi presisi yang mereka klaim menyasar fasilitas milisi yang mengancam pasukan. Namun bagi warga, itu adalah tanda bahwa kesepakatan gencatan senjata yang diterapkan sejak 10 Oktober berada di ambang kehancuran.
“Kami takut perang pecah lagi. Kami tidak ingin perang. Dua tahun kami mengungsi. Kami tidak tahu harus pergi ke mana lagi,” tutur Fathi Al-Najjar, pengungsi di Khan Younis, dengan suara berat.
Di kamp pengungsian tempat Najjar berdiri, pemandangan memilukan tampak nyata, anak-anak menimba air dari wadah logam, ibu-ibu memasak di tungku tanah liat, dan tenda-tenda rapuh menjadi satu-satunya perlindungan dari dunia yang terus berguncang.
Warga Gaza mengatakan dua hari terakhir terasa seperti kembali ke neraka yang belum pernah padam. Rasa cemas, kurang tidur, dan dentuman ledakan menghapus sejenak harapan akan kedamaian. “Keadaannya sangat berat. Kami masih merasakan perang, dan sulit berharap semuanya segera berakhir,” ucap Mohammed Al-Sheikh.
Pada hari yang sama, militer Israel mengonfirmasi penyerahan dua peti jenazah sandera oleh kelompok militan kepada Palang Merah. Langkah tersebut menjadi indikator bahwa kesepakatan gencatan senjata secara formal masih berjalan, meski serangan militer belum benar-benar berhenti.
Sementara itu, perdebatan terus berlangsung terkait proses pemulangan jenazah sandera yang menjadi salah satu hambatan dalam rencana solusi politik Amerika Serikat di Gaza. Israel menuding Hamas menghalangi proses, sementara Hamas membantah.
Balasan militer Israel atas tewasnya salah satu tentaranya pada Selasa–Rabu menewaskan 104 penduduk Gaza, menurut otoritas kesehatan setempat. Dari jumlah itu, 46 di antaranya anak-anak dan 20 perempuan.
Pihak militer Israel mengklaim menargetkan 26 anggota kelompok bersenjata, termasuk seorang komandan yang diduga terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023. Namun kantor media pemerintah Gaza mengecam daftar tersebut sebagai bagian dari “kampanye disinformasi untuk menutupi serangan terhadap warga sipil.”
Serangan yang tak kunjung berhenti telah membuat mayoritas dari lebih dari 2 juta penduduk Gaza kehilangan rumah. Banyak keluarga mengungsi berkali-kali, tanpa kepastian tempat aman untuk kembali.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut 68.000 orang telah tewas sejak awal ofensif Israel, dengan ribuan lainnya masih hilang di balik reruntuhan bangunan. Di tengah kelelahan kolektif dan kehidupan yang kian tidak layak, yang tersisa hanyalah keinginan sederhana namun paling berharga bagi warga Gaza: hidup tanpa ketakutan.