Lautan manusia saat akan melempar jumrah di Jamarat, Mina, Kamis (28/5/2026). (Foto: Media Center Haji)
MINA, (ERAKINI) - Jutaan jemaah haji dari berbagai negara memadati kawasan Jamarat di Mina, Arab Saudi, untuk melaksanakan prosesi lempar jumrah yang berlangsung sejak Rabu (27/5/2026). Rangkaian ibadah tersebut dijadwalkan berakhir pada Jumat (29/5/2026) bagi jemaah yang mengambil nafar awal dan Sabtu (30/5/2026) untuk jemaah nafar tsani atau bertepatan dengan 10-13 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Pantauan di lokasi pada Kamis (28/5/2026), lautan manusia tampak memenuhi terowongan hingga jalur menuju kompleks Jamarat. Ribuan jemaah berjalan beriringan sejak pagi hingga malam untuk melaksanakan lontar jumrah.
Lempar jumrah merupakan salah satu rangkaian wajib haji yang dilaksanakan para jemaah selama berada di Mina. Dalam prosesi tersebut, jemaah melempar batu kerikil ke tiga titik jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan.
Kepadatan jemaah terlihat di sejumlah titik, khususnya pada akses menuju Jamarat. Meski dipadati jutaan orang, pelaksanaan lempar jumrah secara umum berjalan lancar berkat pengaturan arus jemaah oleh petugas keamanan dan otoritas Arab Saudi.
Di tengah tingginya mobilitas jemaah, petugas kesehatan juga tampak bersiaga di sepanjang jalur menuju Jamarat. Beberapa jemaah dilaporkan harus mendapatkan penanganan medis akibat kelelahan setelah berjalan kaki sejauh sekitar 15 kilometer.
Cuaca panas dan aktivitas fisik yang cukup berat menjadi tantangan tersendiri bagi para jemaah. Karena itu, petugas terus mengimbau jemaah untuk menjaga kondisi tubuh, memperbanyak konsumsi air putih, serta tidak memaksakan diri saat kondisi kesehatan menurun.
Pelaksanaan lempar jumrah menjadi salah satu momentum paling menyita perhatian dalam puncak ibadah haji di Mina karena melibatkan jutaan jemaah dari seluruh dunia dalam waktu yang hampir bersamaan.
Anggota tim Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muhammad Yusuf AR, mengatakan sejak dimulainya jumrah aqabah pada Rabu lalu, pergerakan jemaah dari tenda mabit di Mina menuju Jamarat berlangsung tertib meski padat.
Menurut dia, ada sejumlah jemaah Indonesia yang mengalami kelelahan karena harus berjalan kaki lebih dari 15 kilometer.
"Saya melihat secara umum lancar semua. Kalau dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya, Jumat (30/5/2026).
Yusuf mengatakan, petugas haji Indonesia yang disiagakan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) turut membantu jemaah yang mengalami kelelahan selama proses lempar jumrah.
Ia merinci, petugas ditempatkan di sejumlah titik mulai lantai 1 hingga lantai 3 kompleks Jamarat untuk memberikan bantuan kepada jemaah.
Yusuf menilai, kondisi pergerakan jemaah di kawasan Jamarat cenderung aman karena tingginya kedisiplinan jemaah dalam mengikuti arahan petugas.
"Jemaah kita juga disiplin, alhamdulillah," tuturnya.
Di sisi yang lain, Kemenhaj menyatakan bajhwa pihaknya telah memperkuat layanan pelindungan jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue atau MCR di kawasan Jamarat. Tim ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan jemaah selama pelaksanaan lontar jumrah pada hari Tasyrik yaitu 11-13 Dzulhijjah 1447 H.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, mengatakan MCR menjadi salah satu instrumen penting dalam penguatan layanan di titik-titik krusial pergerakan jemaah.
“MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria di Jakarta, Kamis (28/5/2026) kemarin.
Maria menjelaskan, posko MCR ditempatkan di titik-titik strategis di area Jamarat dan rute perlintasan jemaah. Penempatan ini dilakukan agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons cepat kondisi darurat, serta memberikan bantuan kepada jemaah yang membutuhkan penanganan segera.
“MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” ucapnya.