Asap mengepul dari mobil-mobil hangus di tempat barang rongsokan yang dibakar oleh pemukim Israel malam sebelumnya, di kota Hawara dekat kota Nablus, Tepi Barat. (Foto: AP).
YERUSALEM, (ERAKINI) - Di tengah meningkatnya kekerasan terhadap warga di , Perdana Menteri menggelar pertemuan dengan jajaran keamanan tertinggi .
Pertemuan itu berlangsung pada Kamis (20/11/2025) malam dan melibatkan pejabat militer, badan intelijen Shin Bet, serta kepolisian, untuk membahas lonjakan serangan pemukim yang semakin tak terkendali.
Seorang pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut digelar sebagai respon terhadap meningkatnya tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat, yang khawatir kekacauan ini akan merusak rencana perdamaian Washington untuk Gaza.
Meski demikian, kantor Netanyahu tidak memberikan keterangan resmi mengenai isi pembahasan, dan pertemuan lanjutan disebut akan segera menyusul. Netanyahu menyatakan bahwa para pelaku kekerasan hanyalah kelompok ekstremis kecil dan meminta aparat menindak mereka. Namun bagi warga Palestina dan kelompok HAM, narasi tersebut jauh dari realitas di lapangan.
Mereka menegaskan bahwa serangan pemukim sudah menjadi rutinitas harian dan semakin meningkat seiring menguatnya pengaruh kelompok sayap kanan di pemerintahan Israel. Kabinet Israel saat ini bahkan didominasi tokoh-tokoh yang dikenal dekat dengan gerakan pemukim, seperti Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang mengurusi kebijakan permukiman, serta Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir yang membawahi polisi.
PBB Catat Oktober Jadi Bulan dengan Serangan Pemukim Tertinggi Sejak 2006
Kantor Koordinasi Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa Oktober mencatat jumlah serangan pemukim tertinggi dalam hampir dua dekade, dengan lebih dari 260 insiden yang mengakibatkan kerusakan properti hingga korban luka. Sebelumnya, hingga akhir September 2025, sudah tercatat lebih dari 2.660 serangan sepanjang tahun.
Di tengah situasi memburuk tersebut, Pemerintah Sipil Israel justru mengumumkan rencana penyitaan sebagian besar wilayah Sebastia, situs arkeologi penting di Tepi Barat. Menurut Peace Now, kawasan yang diambil mencapai sekitar 1.800 dunam (450 hektare), menjadikannya salah satu pengambilalihan lahan terbesar untuk kepentingan permukiman.
Pada saat yang hampir bersamaan, kelompok pemukimIsrael juga merayakan berdirinya permukiman baru yang tidak sah di dekat Betlehem, menambah deretan pelanggaran yang memperburuk nasib warga Palestina.
Gelombang kecaman internasional dan meningkatnya tindakan sanksi terhadap pemukim ekstremis mencerminkan semakin besarnya perhatian dunia terhadap kondisi rakyat Palestina di Tepi Barat. Kekerasan yang terus meningkat, penyitaan tanah, serta ekspansi permukiman ilegal semakin menegaskan urgensi perlindungan internasional bagi warga Palestina yang setiap hari menghadapi intimidasi dan serangan.