Warga Palestina merayakan kemenangan di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 9 Oktober 2025, menyusul berita kesepakatan gencatan senjata baru di Gaza. Israel dan Hamas pada 9 Oktober menyepakati kesepakatan gencatan senjata Gaza untuk membebaskan para sandera yang masih hidup, sebuah langkah besar untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan menimbulkan bencana kemanusiaan. (Foto: AFP).
NUSEIRAT, GAZA, (ERAKINI) - Dalam pergerakan dramatis yang bersejarah, pasukanIsrael pada Jumat (10/10/2025) mengumumkan penarikan sebagian dari posisi mereka di sebagai bagian dari rencana , sementara ribuan yang lama mengungsi akhirnya berani pulang, meski ke rumah yang tinggal serpihan dan kenangan duka.
Tentara Israel menyatakan bahwa mulai pukul 09.00 GMT, mereka menghentikan tembakan sebagai langkah persiapan implementasi kesepakatan gencatan senjata serta pembebasan para sandera. Keputusan itu mengejutkan banyak pihak: sebuah pengakuan—walau terselubung—akan menyerahnya posisi militer yang selama ini dijaga dengan kekerasan.
Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa tank dan kendaraan militer Israel perlahan ditarik dari garis depan di Kota Gaza dan Khan Yunis. Warga Palestina yang terluka oleh konflik lama menyatakan harapan mereka untuk kembali. “Kami akan kembali ke kampung halaman kami, penuh luka, penuh duka, tapi kami bersyukur,” kata Ameer Abu Lyadeh (32) kepada AFP dari Khan Yunis. “Rumah kami kini tinggal reruntuhan, tetapi setidaknya ini tanah kami.”
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut bahwa pemerintah Israel telah menyetujui kerangka kesepakatan pembebasan sandera bersama Hamas. Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka tengah melakukan penyesuaian operasional di Jalur Gaza. Pernyataan itu tampak sebagai upaya membingkai penarikan ini sebagai bagian dari strategi, bukan kekalahan.
Namun kenyataan di lapangan masih menyisakan kekerasan: sebelum perjanjian gencatan senjata resmi berlaku, ledakan dan asap membumbung dari Gaza Utara tercatat oleh jurnalis AFP. Komando militer Israel menyatakan bahwa mereka sedang mengecek laporan serangan baru. Sedangkan pejabat sipil Gaza, Mohammed Al‑Mughayyir, menyebut bahwa seorang pekerja kota tewas akibat tembakan unit militer Israel.
Menurut Israel, kesepakatan gencatan senjata tahap pertama telah ditandatangani dalam perundingan yang berlangsung pekan ini di Mesir. Disebutkan bahwa pembebasan tawanan Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah gugur, akan menandai akhir dari konflik berdarah ini. Perjanjian itu juga muncul setelah rencana perdamaian “20 poin” yang disodorkan Presiden AS Donald Trump, yang dijadwalkan berkunjung ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Mesir telah merencanakan acara menyambut kesepakatan itu, sementara keluarga dari 47 sandera yang disandera pada 7 Oktober 2023 menanti-nanti kabar kepulangan orang-orang tercinta. Di Israel sendiri, sejumlah pihak merayakan kesepakatan itu—namun di Gaza, sukacita mereka dibayangi keraguan terhadap masa depan kemerdekaan dan hak-hak rakyat Palestina.
Sejumlah aspek penting masih ditolak Israel maupun mitranya: pelucutan senjata Hamas dan pembentukan otoritas transisi di Gaza yang dipimpin oleh pihak luar—ide yang langsung disanggah Hamas. Tokoh senior Osama Hamdan menyatakan bahwa gerakan mengutuk gagasan pemerintahan baru dari luar: “Kedaulatan kami bukan untuk diperjualbelikan,” tegasnya kepada media Al Araby yang berbasis Qatar.
Trump sendiri menegaskan bahwa penyerahan senjata Hamas akan dibahas dalam fase kedua dari rencana perdamaian mereka. “Akan ada pelucutan senjata,” ujarnya kepada wartawan, “dan ada juga penarikan pasukanIsrael.” Penarikan itu tampaknya sudah mulai dilakukan, setidaknya dari beberapa sektor di Kota Gaza.
Menurut Al‑Mughayyir, pasukanIsrael telah mundur dari kamp Tel Al-Hawa dan Al-Shati—dua kawasan yang menjadi fokus serangan intens dalam beberapa pekan terakhir—serta sebagian dari Khan Yunis. Warga yang masih bertahan di Gaza mengatakan bahwa penarikan Israel semakin nyata sejak Kamis malam.
Ratusan keluarga yang bertahan dalam konflik panjang kini mulai mengarahkan langkah mereka kembali ke tempat tinggal semula—meskipun semua tampak hancur. Areej Abu Saadaeh (53), salah satu pengungsi, berjalan di antara reruntuhan dan puing baja menjulang. Kepada AFP, ia menyuarakan harapan sekaligus kesedihan:
“Saya merasa lega bahwa perang ini akan mereda—meski kepergian anak-anakku tetap mencabik hati. Tapi kami kembali, kembali ke rumah kami sendiri.”
Di tengah kebahagiaan yang tertahan, Palestina meneguhkan diri bahwa pengusiran pasukanIsrael bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan simbol kebangkitan yang berakar dari tanah, darah, dan keinginan rakyat yang tak pernah padam.