Pejabat senior Hamas, Khalil al-Hayya, melambaikan tangan saat menghadiri pertemuan dengan delegasi Mesir, Qatar, dan Turki sebelum pengumuman kesepakatan gencatan senjata Gaza, di Sharm el-Sheikh, Mesir. Foto: Al-Qahera News/Handout via Reuters.
JAKARTA, (ERAKINI) – Israel akhirnya mengonfirmasi penandatanganan tahap pertama kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas yang bertujuan mengakhiri perang di Jalur Gaza. Warga Gaza langsung bersorak gembira saat mendengar kabar ini.
"Gencatan senjata akan mulai berlaku dalam waktu 24 jam setelah kabinet Israel meratifikasi kesepakatan malam ini," kata pemerintah Israel, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (9/10/2025).
Juru bicara pemerintah Israel Shosh Bedrosian mengatakan, kesepakatan ditandatangani pada Kamis pagi di Sharm el-Sheikh, Mesir, setelah tiga hari negosiasi intensif yang dimediasi Mesir dan Amerika Serikat.
“Israel dan Hamas telah menandatangani draf final tahap pertama kesepakatan gencatan senjata,” kata Bedrosian kepada wartawan.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari proposal 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang. Pada tahap pertama, Hamas diwajibkan membebaskan seluruh tawanan Israel yang masih ditahan di Gaza — sekitar 20 orang diyakini masih hidup — dalam waktu 72 jam setelah gencatan senjata dimulai. Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sejumlah tahanan Palestina.
Selain itu, Israel juga diminta menarik pasukannya ke garis yang telah disepakati, sesuai dengan ketentuan kesepakatan tersebut.
Menurut Bedrosian, gencatan senjata akan mulai berlaku dalam waktu 24 jam setelah kabinet Israel meratifikasi kesepakatan itu malam ini. Setelah periode itu berakhir, dimulailah jangka waktu 72 jam untuk pelaksanaan pertukaran tawanan.
Bedrosian juga menegaskan, Israel tidak akan membebaskan pemimpin Palestina Marwan Barghouti sebagai bagian dari pertukaran, keputusan yang diyakini akan memicu kemarahan warga Palestina. Ia juga mengklaim bahwa Israel akan tetap mengontrol lebih dari setengah wilayah Gaza meskipun sebagian pasukan akan ditarik.
Perbedaan Masih Mengemuka
Meski kesepakatan tahap pertama berhasil ditandatangani, sejumlah analis menilai masih ada perbedaan serius antara Israel dan Hamas.
Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, mengatakan perbedaan mencakup waktu dan cakupan penarikan pasukan Israel, struktur pemerintahan pascaperang di Gaza, hingga masa depan Hamas.
“Kesepakatan ini baru ‘tahap awal dari tahap pertama’. Masih banyak hal mendasar yang belum disepakati,” ujar Bishara.
Tahap kedua kesepakatan, yang masih akan dinegosiasikan, disebut-sebut akan mencakup penarikan penuh pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, serta pembentukan tatanan keamanan dan pemerintahan baru di Gaza.
Dunia Sambut Gembira
Kabar penandatanganan gencatan senjata ini disambut baik di berbagai negara. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan pihaknya siap meningkatkan pengiriman bantuan kemanusiaan dan mempercepat proses rekonstruksi Gaza.
“PBB siap memperluas operasi kemanusiaan, meningkatkan pengiriman bantuan, dan mempercepat upaya pemulihan,” kata Guterres dalam pernyataan resminya di New York.
Bagi warga Gaza, kabar ini menjadi secercah harapan setelah dua tahun serangan dan blokade yang menimbulkan penderitaan luar biasa.
“Warga Gaza bersorak gembira saat mendengar kabar gencatan senjata setelah lebih dari dua tahun kehancuran dan penderitaan,” lapor koresponden Al Jazeera di Gaza, Tareq Abu Azzoum. “Mereka menantikan untuk berkumpul kembali dengan keluarga dan berduka atas apa yang telah hilang,” tambahnya.
Namun, sejumlah pengamat menilai kesepakatan ini masih jauh dari jaminan perdamaian jangka panjang. “Ini baru tahap pertama, pertukaran tawanan dan penghentian pembunuhan besar-besaran. Tapi belum ada jaminan bahwa kekerasan ini tidak akan kembali terjadi,” kata analis politik Timur Tengah Omar Baddar kepada Al Jazeera.
“Pertanyaannya, apakah Israel benar-benar akan mengizinkan Gaza dibangun kembali? Itu masih menjadi tanda tanya besar,” ucapnya menambahkan.