Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa ia mungkin akan melakukan perjalanan ke Timur Tengah akhir pekan ini karena para negosiatornya berusaha untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata bagi para sandera di Gaza. (Reuters).
GAZA, (ERAKINI) - Presiden ASDonald Trump mengumumkan kesepakatan damai antara Hamas dan Israel di tengah penyelesaian negosiasi kedua pihak untuk menemukan jalan keluar dari konflik dua tahun yang telah menelan ribuan korban jiwa dan menghancurkan sebagian besar wilayah .
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa kesepakatan tersebut mencakup pembebasan sandera dari kedua pihak, penarikan sebagian pasukan Israel, dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza yang selama ini dikunci rapat oleh blokade brutal Israel.
Langkah ini dianggap sebagai sinyal awal dari tekanan internasional yang kian meningkat terhadap Tel Aviv, menyusul kecaman luas atas tindakan militer berlebihan yang menargetkan infrastruktur sipil, rumah sakit, dan kamp pengungsian di Gaza.
“Dengan pertolongan Tuhan, kami akan membawa mereka semua pulang,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataan resminya, merujuk pada warganya yang ditahan Hamas.
Namun, tidak ada pengakuan atas penderitaan dua juta warga Gaza yang terperangkap dalam kehancuran dan kelaparan akibat pengepungan Israel.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS yang baru, Marco Rubio, dijadwalkan menghadiri konferensi tingkat tinggi di Paris pada Kamis (9/10/2025), bersama perwakilan dari negara-negara Eropa, Arab, dan kawasan lainnya. Pertemuan ini akan membahas langkah konkret dalam masa transisi pascaperang di Gaza, termasuk rencana pemulihan yang diklaim sebagai bagian dari inisiatif Trump.
Tiga sumber diplomatik mengungkapkan bahwa agenda pertemuan akan mencakup bantuan kemanusiaan, rekonstruksi Gaza, dukungan terhadap Otoritas Palestina, dan bahkan pembahasan mengenai pelucutan senjata Hamas, sebuah tuntutan yang dinilai timpang oleh banyak pihak, mengingat Israel tidak diminta untuk menghentikan pendudukan dan pembangunan pemukiman ilegalnya di wilayah Palestina.
Menurut dokumen yang dibagikan kepada para delegasi, pertemuan ini dimaksudkan sebagai kelanjutan dari konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai solusi dua negara. Namun, skema ini kembali dipertanyakan efektivitasnya, karena hingga kini Israel tetap menolak pengakuan penuh atas kedaulatan negara Palestina.
Negara-negara yang dipastikan hadir di antaranya adalah Prancis, Jerman, Italia, Inggris, Spanyol, dan Kanada. Namun, partisipasi Amerika Serikat masih bersifat tentatif, bergantung pada hasil negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas yang sedang berlangsung di Mesir.
Seorang diplomat Eropa menekankan pentingnya kehadiran AS, namun menambahkan bahwa segala upaya damai akan sia-sia jika tidak ada tekanan nyata terhadap Israel untuk menghentikan agresinya dan membuka blokade Gaza secara permanen.
“Satu-satunya rencana yang dianggap mungkin adalah milik Trump,” ujar seorang pejabat Italia, pernyataan yang menuai skeptisisme di kalangan aktivis kemanusiaan, yang menganggap rencana itu terlalu berpihak pada Israel dan mengabaikan akar ketidakadilan yang terjadi.
Gaza hari ini bukan sekadar zona konflik. Ia adalah simbol dari ketidakadilan global, tempat di mana lebih dari dua juta manusia hidup tanpa akses terhadap air bersih, listrik, atau layanan kesehatan layak — akibat blokade sistematis yang dijalankan Israel sejak bertahun-tahun.
Rencana gencatan senjata ini, meski disambut sebagian pihak sebagai langkah awal, juga menimbulkan kekhawatiran akan digunakan sebagai alat kosmetik politik tanpa menyentuh akar masalah: pendudukan Israel dan hak rakyat Palestina atas tanah air mereka sendiri. Kedutaan AS di Paris belum memberikan komentar resmi terkait konferensi tersebut.