Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, berjalan kaki mengunjungi Gerbang Damaskus di Kota Tua Yerusalem, saat warga Israel memperingati Hari Yerusalem. (Foto: Reuters).
YERUSALEM, (ERAKINI) - Dalam langkah yang memicu ketegangan baru di wilayah yang sudah bergolak, Menteri Keamanan NasionalIsrael dari kelompok ultranasionalis, Itamar Ben-Gvir, kembali menebar provokasi dengan mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa, situs suci umat Islam yang selama ini kerap menjadi titik panas konflik di Yerusalem.
Dalam video yang dirilis oleh partainya, Jewish Power, Ben-Gvir terlihat berdiri di kawasan suci tersebut dan menyatakan bahwa Israel telah "menang" di lokasi yang oleh umat Muslim dikenal sebagai Al-Haram Asy-Syarif, dan oleh kalangan Yahudi ekstremis disebut Temple Mount.
“Setiap rumah di Gaza memiliki gambar Temple Mount, dan hari ini kami telah menguasainya. Ini milik kami,” ujar Ben-Gvir dengan nada penuh klaim sepihak.
Ia juga menyerukan agar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengizinkan ‘kemenangan penuh’ di Gaza, yaitu penghancuran total Hamas dan agresi lanjutan terhadap wilayah yang telah luluh lantak akibat serangan Israel sejak 2023.
Pernyataan ini muncul di tengah perundingan damai tidak langsung antara Israel dan Hamas yang tengah difasilitasi di Mesir. Upaya tersebut bertujuan untuk menghentikan perang yang telah memakan puluhan ribu korban sipil Palestina dan membebaskan sandera yang masih ditahan di Gaza.
Namun, seruan Ben-Gvir mencerminkan tekanan internal dari kelompok sayap kanan ekstremis dalam pemerintahan koalisi Netanyahu — pemerintahan paling konservatif dalam sejarah Israel modern. Ben-Gvir sendiri telah berulang kali mengancam akan keluar dari pemerintahan jika Hamas tidak sepenuhnya dihancurkan, sebuah sikap yang menutup pintu bagi solusi damai jangka panjang.
Kunjungan Ben-Gvir ke Al-Aqsa kembali mengusik status quo yang rapuh yang telah disepakati selama puluhan tahun antara Israel dan otoritas Muslim. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pengelolaan kompleks Al-Aqsa berada di bawah kendali Dewan Wakaf Islam Yordania, dan orang Yahudi diizinkan untuk berkunjung namun dilarang beribadah di sana.
Namun, Ben-Gvir, yang telah lama menolak perjanjian ini, menggunakan kunjungannya sebagai ajang propaganda supremasi dan dominasi wilayah yang merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam.
“Kami pemilik Temple Mount,” ucap Ben-Gvir, dalam pernyataan yang dianggap sebagai bentuk klaim ilegal terhadap situs keagamaan yang bukan milik satu pihak.
Sikap ini berisiko memicu gelombang protes baru di dunia Islam, yang sebelumnya telah mengecam keras segala upaya Israel untuk mengubah aturan kunjungan dan pengelolaan Al-Aqsa. Setiap langkah untuk mengubah keseimbangan di lokasi ini telah terbukti menjadi sumbu ledakan konflik, termasuk dalam intifada sebelumnya.
Saat dunia menuntut gencatan senjata di Gaza dan pembebasan warga sipil dari kekerasan tanpa akhir, tokoh-tokoh ekstremis seperti Ben-Gvir justru memperkeruh suasana dengan retorika provokatif dan tindakan yang mencederai upaya diplomatik.
Hingga kini, serangan militer Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 67.000 warga Palestina tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak. Sementara itu, Gaza menghadapi krisis kemanusiaan besar, dengan kelaparan, kehancuran total infrastruktur, dan ribuan orang yang kehilangan keluarga serta tempat tinggal.
Sementara itu, klaim kemenangan oleh pejabat Israel seperti Ben-Gvir di situs yang sangat sakral bagi umat Muslim menunjukkan bagaimana pendudukan tidak hanya berlangsung secara militer, tapi juga secara simbolik dan ideologis.