JAKARTA, (ERAKINI) – Pemerintah Israel secara tiba-tiba menarik kembali unggahan ucapanduka cita atas wafatnya Paus Fransiskus yang sebelumnya sempat dipublikasikan melalui akun media sosial X resmi mereka.
Menurut laporan dari Reuters, akun resmi @ di platform X sempat mengunggah pesan belasungkawa berbunyi,
Namun, tak lama setelah unggahan tersebut muncul, pemerintah Israel memutuskan untuk menghapusnya tanpa memberikan penjelasan resmi. Keputusan itu menimbulkan kehebohan di dunia maya dan menuai sorotan publik.
Mengutip laporan dari Jerusalem Post, sejumlah pejabat di Kementerian Luar Negeri Israel menyebut pengunggahan pesan tersebut sebagai sebuah “kesalahan.”
Sebelumnya, pada bulan November, Paus Fransiskus pernah menyampaikan keprihatinannya secara terbuka terhadap aksi militer Israel di Gaza. Ia bahkan menyarankan agar masyarakat internasional mengevaluasi apakah tindakan tersebut tergolong genosida terhadap rakyat Palestina.
Paus juga telah berulang kali menyampaikan kritik keras terhadap langkah-langkah Israel selama konflik bersenjata dengan kelompok Hamas yang berlangsung sejak 2023. Pada Januari, beliau menyebut kondisi kemanusiaan di Gaza sebagai sesuatu yang “sangat memalukan.”
Paus Fransiskuswafat pada Senin pagi, 21 April, di Vatikan dalam usia 88 tahun. Satu hari sebelumnya, saat memimpin misa Paskah di Lapangan Santo Petrus, Paus menyerukan agar kekerasan bersenjata di berbagai belahan dunia dihentikan, termasuk perang antara Rusia dan Ukraina serta agresi Israel terhadap Gaza.
“Setiap hari kita menyaksikan dahaga untuk menghancurkan dan membunuh di tengah berbagai konflik yang terus berkecamuk di seluruh dunia. Terlalu sering, mereka yang paling rentan, tersingkirkan, dan para pengungsi menjadi sasaran penghinaan,” ujar Paus dalam khotbahnya.
Paus juga mendoakan terwujudnya “perdamaian sejati dan langgeng” di Ukraina, serta menyoroti penderitaan mendalam yang dialami masyarakat Gaza.
Selain itu, Paus Fransiskus sebelumnya pada tanggal 25 Desember 2024 juga menyerukan agar senjata dibungkam di seluruh dunia dalam pidato Natalnya. Ia menyerukan perdamaian di Timur Tengah, Ukraina dan Sudan ketika ia mengecam situasi kemanusiaan yang sangat serius di Gaza.
Ia menggunakan pesan tradisionalnya “Urbi et Orbi” (“untuk kota dan dunia”) kepada 1,4 miliar umat Katolik di dunia untuk menyerukan perundingan demi perdamaian yang adil di Ukraina ketika negara itu dihantam oleh 170 rudal dan drone Rusia pada pagi hari Natal.
“Semoga suara senjata dibungkam di Ukraina yang dilanda perang. Semoga diperlukan keberanian untuk membuka pintu negosiasi dan dialog serta pertemuan, guna mencapai perdamaian yang adil dan abadi,” ,” kata Paus yang kini berusia 88 tahun itu, suaranya tegang dan terengah-engah dikutip dari Arab News, Kamis (26/12/2024).
Di hadapan ribuan umat beriman yang berkumpul di depan Basilika Santo Petrus di Roma, Paus juga menyerukan gencatan senjata di Gaza dan pembebasan sandera Israel yang ditahan di sana oleh Hamas.
“Saya memikirkan komunitas Kristen di Israel dan Palestina, khususnya di Gaza, dimana situasi kemanusiaannya sangat buruk. Semoga ada gencatan senjata, semoga para sandera dibebaskan dan bantuan diberikan kepada orang-orang yang kelelahan karena kelaparan dan perang,” tambahnya.
Paus Fransiskus menyampaikan seruannya untuk membungkam senjata ke seluruh Timur Tengah dan Sudan, yang telah dilanda perang saudara brutal selama 20 bulan di mana jutaan orang berada di bawah ancaman kelaparan.
“Semoga Putra Yang Maha Tinggi mendukung upaya komunitas internasional untuk memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan bagi penduduk sipil Sudan dan memulai negosiasi baru untuk gencatan senjata,” katanya.