Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pembebasan seluruh sandera dari Gaza bisa diumumkan dalam beberapa hari ke depan, seiring dimulainya pembicaraan penting di Mesir. Meski demikian, Israel tidak akan angkat kaki dari Gaza. Foto: Dok AP
JAKARTA, (ERAKINI) – Perdana Menteri IsraelBenjamin Netanyahu menyebut pembebasan seluruh sandera dari Gaza bisa diumumkan dalam beberapa hari ke depan, seiring dimulainya pembicaraan penting di Mesir. Meski demikian, Israel tidak akan angkat kaki dari Gaza.
Rencana perdamaian baru yang didorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diklaim dapat mengakhiri perang dua tahun antara Israel dan Hamas. Namun di tengah harapan gencatan senjata, serangan udara dan korban jiwa masih terus berjatuhan di Gaza.
Israel dan Hamas bersiap melakukan pembicaraan tidak langsung di Mesir pada Senin (6/10/2025), mengenai rencana baru Trump untuk mengakhiri perang.
Dikutip dari AP, Minggu (5/10/2025), dalam pernyataan singkat pada Sabtu malam, Netanyahu mengatakan telah mengirim delegasi ke Mesir untuk merampungkan rincian teknis. Namun, ia menyebut bahwa tujuan Israel adalah membatasi negosiasi ini dalam kerangka waktu beberapa hari.
Netanyahu pun memberi isyarat bahwa tidak akan ada penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, sesuatu yang menjadi tuntutan utama Hamas selama ini.
Netanyahu menegaskan, militer Israel akan terus mempertahankan wilayah yang telah dikuasainya di Gaza, dan Hamas akan dilucuti pada fase kedua rencana tersebut, baik secara diplomatik “atau melalui jalur militer oleh kami.”
Pernyataan Netanyahu muncul setelah Hamas mengatakan pihaknya telah menerima sebagian elemen dari rencana AS. Presiden Donald Trump menyambut baik pernyataan itu, namun memperingatkan bahwa Hamas harus bergerak cepat, jika tidak semua kesepakatan akan batal.
Trump kemudian menegaskan bahwa gencatan senjata akan dimulai segera setelah Hamas mengonfirmasi garis penarikan awal di Gaza. Peta yang disertakan dalam unggahan media sosialnya menunjukkan sebagian besar wilayah Gaza masih terbuka bagi pasukan Israel.
Trump juga memerintahkan Israel menghentikan pemboman di Gaza. Sejumlah warga Gaza melaporkan penurunan serangan udara Israel pada Sabtu, meski pejabat rumah sakit menyebut sedikitnya 22 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.
Militer Israel menyatakan telah diperintahkan mempersiapkan fase pertama rencana AS. “Israel kini berada pada posisi defensif di Gaza dan tidak akan melakukan serangan aktif,” ujar seorang pejabat yang enggan disebut namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media.
Namun demikian, sebuah serangan udara Israel di kawasan Tuffah, Kota Gaza, menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 25 lainnya, menurut Direktur Rumah Sakit Al-Ahli, Fadel Naim. “Serangan masih berlangsung,” ujarnya. Militer Israel mengklaim serangan itu menargetkan anggota Hamas dan “menyesalkan setiap korban sipil yang tidak terlibat.”
Momentum Jelang Dua Tahun Perang
Trump tampak bertekad menepati janjinya mengakhiri perang dan memulangkan seluruh sandera menjelang peringatan dua tahun serangan Hamas yang memicu konflik pada 7 Oktober 2023. Proposal tersebut mendapat dukungan luas dari komunitas internasional.
Pada Jumat, kantor Netanyahu menyatakan Israel berkomitmen untuk mengakhiri perang. Pembicaraan tidak langsung pada Senin mendatang akan difokuskan pada pembebasan sandera dari Gaza dan tahanan Palestina dari penjara Israel, menurut pernyataan pihak mediator Mesir.
Seorang pejabat senior Mesir mengatakan utusan AS, Steve Witkoff, akan memimpin tim negosiasi Amerika di Kairo. Pembahasan juga akan mencakup peta penarikan pasukan Israel dari sejumlah wilayah Gaza, kata pejabat itu yang enggan disebut namanya karena tidak berwenang memberi keterangan publik.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa mediator Arab tengah mempersiapkan dialog komprehensif antar kelompok Palestina untuk menyatukan posisi mereka terkait masa depan Gaza.
Kelompok Jihad Islam Palestina, kelompok militan terbesar kedua di Gaza, menyatakan telah menerima tanggapan Hamas setelah sebelumnya menolak rencana tersebut.
Dalam rencana tersebut, Hamas akan membebaskan 48 sandera yang tersisa, sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup, dalam waktu tiga hari, menyerahkan kekuasaan, dan melucuti senjatanya.
Sebagai imbalannya, Israel akan menghentikan ofensif militernya, menarik pasukan dari sebagian besar wilayah Gaza, membebaskan ratusan tahanan Palestina, serta mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan dimulainya proses rekonstruksi.
Hamas menyatakan siap membebaskan para sandera dan menyerahkan kekuasaan kepada pihak Palestina lainnya, namun menegaskan bahwa beberapa aspek lain dari rencana tersebut masih perlu dikonsultasikan lebih lanjut di antara faksi-faksi Palestina. Hamas tidak menyinggung isu pelucutan senjata.
Amir Avivi, pensiunan jenderal Israel dan ketua Israel’s Defense and Security Forum, mengatakan Israel bisa menghentikan serangan selama beberapa hari untuk pembebasan sandera, tetapi akan melanjutkan ofensif bila Hamas tidak menyerahkan senjata.
Sementara itu, analis keamanan Oded Ailam dari Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs menilai posisi Hamas “pada dasarnya belum berubah” dan hanya “mengemas ulang tuntutan lama dengan bahasa yang lebih lunak.”
Dua anggota sayap kanan dalam koalisi Netanyahu, Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir, memang mengkritik kemajuan rencana tersebut, tetapi tidak mengancam akan keluar dari pemerintahan.
Dalam demonstrasi mingguan besar di Tel Aviv, sejumlah pembicara menyuarakan harapan hati-hati yang belum terdengar selama berbulan-bulan.
Sebuah kelompok keluarga sandera mengatakan peluang untuk melihat orang-orang yang mereka cintai kembali “tidak pernah sedekat ini.” Mereka meminta Trump untuk terus mendorong negosiasi “dengan kekuatan penuh” dan memperingatkan bahwa “ekstremis di kedua pihak” akan berupaya menggagalkan kesepakatan.