Delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, untuk membahas gencatan senjata di tengah eskalasi kekerasan yang belum mereda. Foto: Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) – Upaya meredakan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase krusial. Delegasi kedua negara dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, untuk membahas gencatan senjata di tengah eskalasi kekerasan yang belum mereda.
Dilansir Al Jazeera, Sabtu (11/4/2026), sejumlah pejabat tinggi Iran telah tiba di Islamabad, Pakistan, untuk menggelar perundingangencatan senjata dengan AS. Delegasi yang hadir antara lain Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Dari pihak AS, Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi menyampaikan optimisme jelang pertemuan. Ia menegaskan bahwa Washington siap membuka ruang dialog selama Iran menunjukkan itikad baik dalam negosiasi.
Sementara itu, situasi di kawasan tetap memanas. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 357 orang. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena proses pencarian dan identifikasi korban terus berlangsung.
Di sisi lain, duta besar Lebanon dan Israel di Amerika Serikat dilaporkan telah melakukan komunikasi langsung melalui sambungan telepon—kontak pertama yang terungkap di tengah meningkatnya ketegangan. Pembicaraan gencatan senjata lanjutan dijadwalkan berlangsung di AS pekan depan.
Menurut laporan BBC, pertemuan ini diprediksi bakal berjalan alot dan bahkan terancam gagal sebelum mencapai kesepakatan konkret.Terdapat sejumlah isu krusial yang menghadang di depan. Berikut lima isu krusial yang diperkirakan menghambat pembicaraan antara AS–Iran:
1. Konflik di Lebanon
Operasi militer Israel terhadap kelompok Hezbollah—sekutu Iran di Lebanon—berpotensi menggagalkan pembicaraan bahkan sebelum dimulai.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa serangan yang terus berlanjut akan membuat negosiasi tidak bermakna. Ia juga menekankan bahwa Iran tidak akan meninggalkan sekutunya di Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tidak ada rencana gencatan senjata terhadap Hezbollah. Meski demikian, peringatan evakuasi kepada warga di pinggiran selatan Beirut belum diikuti eskalasi besar.
Mantan Presiden AS Donald Trump menyebut operasi Israel akan dilakukan dengan intensitas lebih rendah. Namun, belum jelas apakah langkah tersebut cukup untuk meredakan kekhawatiran Iran.
2. Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik krusial lain yang berpotensi menghambat negosiasi. Jalur vital pengiriman minyak dunia ini kini hanya dilintasi sedikit kapal sejak gencatan senjata diberlakukan.
Trump menuding Iran tidak menjalankan komitmen dengan baik dalam menjamin kelancaran pelayaran. Ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk.
Iran bahkan berupaya memperkuat kendalinya dengan menyebut wilayah tersebut sebagai perairan kedaulatan serta merancang aturan baru bagi kapal yang melintas. Termasuk di antaranya pembukaan jalur transit baru dengan alasan keamanan dari ranjau laut.
3. Program Nuklir
Isu nuklir tetap menjadi sumber perselisihan paling utama dan paling lama. Trump menegaskan bahwa operasi militer yang diluncurkan bertujuan memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya murni untuk kepentingan sipil dan sah secara hukum internasional.
Teheran juga menuntut pengakuan internasional atas hak pengayaan uranium. Sebaliknya, proposal dari pihak AS disebut menginginkan penghentian total aktivitas pengayaan uranium di wilayah Iran.
Perbedaan tajam ini mengingatkan pada rumitnya proses perundingan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), yang memakan waktu bertahun-tahun untuk disepakati.
4. Sekutu Regional Iran
Pengaruh Iran di kawasan melalui jaringan sekutu seperti Hezbollah, Houthi, Hamas, dan milisi di Irak menjadi faktor penting dalam dinamika konflik.
Israel memandang jaringan tersebut sebagai ancaman serius yang harus dihilangkan sepenuhnya. Sementara Iran melihatnya sebagai bagian dari strategi pertahanan regional.
Di tengah tekanan ekonomi dalam negeri, sebagian warga Iran mulai mendorong pemerintah untuk mengurangi keterlibatan luar negeri. Namun hingga kini, belum ada indikasi Teheran akan melepas dukungannya terhadap sekutu-sekutu tersebut.
5. Pencabutan Sanksi Iran menuntut pencabutan seluruh sanksi internasional sebagai syarat utama kesepakatan.
Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut sekitar 120 miliar dolar AS aset Iran yang dibekukan harus dicairkan sebelum negosiasi dimulai. Ia mengklaim hal tersebut merupakan bagian dari kesepakatan awal.
Namun, pernyataan resmi dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelumnya tidak mencantumkan poin tersebut, sehingga menimbulkan ketidakjelasan.
Pengamat menilai kecil kemungkinan Washington akan menyetujui tuntutan sebesar itu hanya untuk membuka pembicaraan.