Kondisi reruntuhan bangunan setelah rudal balistik Iran menghantam Beersheba, Israel. Foto: Al Jazeera/Amir Levy/Getty Images
JAKARTA, (ERAKINI) - Perang 12 hari antara Israel dan Iran akhirnya dihentikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menengahi gencatan senjata yang rapuh. Namun, pertanyaan besar masih menggantung, apakah benar-benar berakhir, dan siapa sebenarnya yang diuntungkan?
Gencatan senjata diumumkan Trump pada Minggu malam waktu setempat melalui media sosialnya, Truth Social, dengan menyebut bahwa Israel dan Iran telah sepakat untuk melakukan “Gencatan Senjata Total dan Menyeluruh. Ia menggambarkan konflik ini sebagai “Perang 12 Hari” yang bisa saja berlangsung selama bertahun-tahun dan menghancurkan Timur Tengah.
Namun, hanya beberapa jam setelah pengumuman itu, Israel meluncurkan serangan balasan terhadap radar militer di dekat Teheran, dengan alasan dua rudal balistik Iran telah memasuki wilayah udaranya, meski kemudian diklaim telah berhasil dicegat.
Iran membantah telah meluncurkan rudal tersebut, dan gencatan senjata pun diberlakukan kembali setelah Trump berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Serangan Terbesar ke Fasilitas Nuklir
Puncak eskalasi terjadi pada Sabtu malam ketika AS, atas permintaan Israel, melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Trump mengklaim bahwa fasilitas itu “dihancurkan sepenuhnya.”
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal ke pangkalan udara AS di Al Udeid, Qatar, serangan yang membuat dunia khawatir akan pecahnya perang regional besar-besaran.
Serangan terhadap fasilitas nuklirIran ini merupakan yang pertama kali dilakukan Israel langsung terhadap instalasi nuklir di dalam wilayah Iran. Israel sebelumnya hanya menyerang fasilitas serupa di Irak dan Suriah. Serangan ini menunjukkan kemampuan militer jarak jauh Israel dan pengaruh diplomatiknya terhadap AS.
Netanyahu mengklaim serangan ini sebagai bentuk pembelaan diri dan prestasi strategis besar. “Para pemimpin dunia terkesan atas ketegasan dan keberhasilan pasukan kami,” ujarnya, dikutip Al Jazeera. Ia juga memuji Trump karena telah “berdiri di sisi Israel.”
Bagi Israel, ini bukan hanya demonstrasi kekuatan militer, tapi juga kemampuan menggandeng AS dalam operasi militer langsung, sesuatu yang tak terjadi sejak Perang Enam Hari dan Yom Kippur.
Di sisi lain, Iran mengklaim bahwa program nuklirnya tetap utuh meski fasilitas permukaan rusak parah. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, mengatakan pihaknya telah mengantisipasi serangan dan bersiap untuk memulihkan operasi.
Namun, belum ada verifikasi independen atas kerusakan di fasilitas bawah tanah Iran. IAEA (Badan Energi Atom Internasional) menyebut belum mampu menilai dampak pasti serangan terhadap instalasi seperti Fordow.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan, para analis menilai perangIsrael-Iran belum benar-benar berakhir. Sebab tidak ada perjanjian damai resmi, dan retorika dari kedua belah pihak masih keras.
Sejumlah pihak menyebut kembalinya pengawasan internasional dan kesepakatan nuklir baru, seperti JCPOA 2015, bisa menjadi jalan keluar. Namun, Israel selama ini selalu menentang kesepakatan nuklirIran, dan Teheran belum tentu bersedia bernegosiasi kembali setelah AS menarik diri dari JCPOA secara sepihak.
Eropa dipandang sebagai penengah potensial. Inggris, Prancis, dan Jerman sempat bertemu dengan Menlu Iran dan pejabat Uni Eropa untuk meredakan ketegangan, namun gagal mencegah serangan AS.
“Iran akan mencoba menarik Eropa ke meja diplomasi dengan menawarkan pengawasan tambahan,” kata analis geopolitik Ioannis Kotoulas. “Tapi Rusia sudah tak bisa diandalkan, dan satu-satunya jalan keluar diplomatik Iran adalah Eropa.”
Sementara itu, di dalam negeri Iran, ada desakan dari sejumlah aktivis untuk menghentikan pengayaan uranium. Namun, parlemen Iran justru mempertimbangkan untuk menghentikan seluruh kerja sama dengan IAEA.