Gambar satelit di atas memperlihatkan asap yang membubung dari Pembangkit Listrik dan Instalasi Desalinasi Air Subiya di Subiya, Kuwait, pada 18 Juli 2026. (Foto: Reuters).
TEHERAN, (ERAKINI) - Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat terus memasuki babak yang semakin berbahaya. Teheran menegaskan tidak akan menghentikan operasi militernya selama serangan Amerika Serikat terhadap wilayah dan infrastruktur Iran masih berlangsung, sementara negara-negara Teluk memperketat sistem pertahanan menghadapi ancaman yang terus meningkat.
Pernyataan tersebut disampaikan Angkatan Darat Iran pada Kamis, menegaskan bahwa operasi militer balasan akan terus dijalankan sebagai respons atas serangan yang dilakukan Washington dalam beberapa hari terakhir.
Juru bicara Angkatan Darat Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan negaranya siap menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul dari konflik yang terus berkembang. "Serangan balasan angkatan bersenjata akan terus berlanjut selama serangan AS terhadap infrastruktur dan wilayah pesisir negara itu terus berlangsung," ujar Akraminia seperti dikutip televisi pemerintah Iran.
Ia menambahkan bahwa militer Iran telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan eskalasi. "Negara ini siap menghadapi segala skenario musuh," tegasnya.
Ketegangan yang semakin meningkat turut dirasakan negara-negara di kawasan Teluk. Pemerintah Bahrain mengaktifkan sirene peringatan serangan udara pada Kamis sore dan meminta seluruh warga serta penduduk segera menuju lokasi perlindungan terdekat sambil tetap menjaga ketenangan.
Di Kuwait, situasi juga memanas setelah Angkatan Darat negara itu mengumumkan sistem pertahanan udara tengah menghadapi serangan pesawat nirawak (drone) yang dikategorikan sebagai ancaman musuh. "Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang merespons ancaman drone musuh," demikian pernyataan militer Kuwait melalui akun resminya di platform X.
Militer Kuwait juga menjelaskan bahwa suara ledakan yang terdengar di sejumlah wilayah berasal dari sistem pertahanan udara yang sedang mencegat target-target yang masuk ke wilayah udara negara tersebut. "Setiap ledakan yang mungkin terdengar adalah akibat dari sistem pertahanan udara yang mencegat target musuh," lanjut pernyataan itu.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah aset militer Amerika Serikat di Kuwait. Menurut pernyataan IRGC, sasaran operasi tersebut meliputi Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem yang selama ini menjadi salah satu fasilitas penting militer AS di kawasan Teluk.
Sementara itu, Yordania juga meningkatkan kewaspadaan. Angkatan Bersenjata negara tersebut menyatakan berhasil mencegat empat rudal dan enam drone Iran dalam kurun waktu 24 jam terakhir sebelum memasuki wilayah udaranya.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah target di Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Operasi tersebut menandai malam ke-12 berturut-turut serangan militer Amerika terhadap Republik Islam Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menyatakan operasi tersebut menyasar berbagai fasilitas militer strategis milik Iran. "Pasukan AS menyerang target militer Iran, termasuk kemampuan maritim, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, lokasi pengawasan pesisir, dan aset pertahanan udara. Serangan-serangan ini semakin melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial," demikian pernyataan CENTCOM.
Washington menegaskan operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan militer Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.